Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
SOSOK DI LANTAI TIGA


__ADS_3

Semua anak kelas tiga sudah berkumpul di lapangan sekolah. Mereka semua diam menunggu instruksi dan merasakan gemuruh dadanya yang muali terasa tidak pasti.


Wulan dan Asry berdiri di barisan paling belakang. Beberapa guru sudah berdiri di belakang podium dan kepala sekolah sudah masuk ke lapangan dan naik ke atas mimbar untuk memberikan sepatah dua kata, nasihat dan pesan untuk semua muridnya yang akan pergi meninggalakn sekolah dan berburu impian serta cita -cita.


Kalian sebagai generasi penerus bangsa. Harus bisa menjadi manusia yang memanusiakan manusia, bukan menjadi pribadi yang sombong dan seenaknya saja. Di perlukan sikap toleransi, legowo, jujur dan adil seperti pemilihan umum yang menganut asas LUBER. Apa asas LUBER?


"Langsung Umum Bebas Rahasia," jawab semua murid dengan lantang dan serempak.


"Bagus sekali. Itu tandanya kalian menyimak semua pelajaran di kelas dengan baik," ucap Kepala sekolah memuji.


Rasa gelisah, deg degan dan panik serta khawatir mulai hilang seperti terbawa angin yang pagi. Semua murid lebih tenang dan lebih rileks mendengar nasihat kepala sekolah dengan candaan dan gurauan yang membuat seluruh murid kelas tiga di lapangan itu tersenyum dan tertawa lepas. Hari ini mungkin beban mereka mulai hilang. Hari ini mungkin semua yang akan di cita -cita akan mulai meereka gapai. Mereka lupa, setelah ini bukan hany beban tapi juga tanggung jawa sebagai murid pun selesai. Mereka akan menjadi anak -anak yang dewasa, bukan aturan lagi yang mengatur mereka, tapi mereka sendiri


yang mengatur diri mereka sendiri. Mereka yang berhak mengambil keputusan mana yang baik dan mana yang tidak.


Acara yang di tunggu -tunggu. Dua orang guru membawa map dan berjalan menghampiri kepala sekolah.

__ADS_1


"Kok gue deg -degan ya?" ucap Wulan pelan.


"Deg -degan mau terima piala bergilir murid berprestasi tahun ajaran ini," ucap Arsy pelan.


"Gak kayaknya. Kemarin ujian ada yang gagal," ucap Wulan pelan.


"Hemmm ... Kamus biasa, kalau kamu bilang. Gak belajar, gak bisa, gagal ngerjain, tai pas di bagiin, nilainya paling tinggi dan sempurna," ucap Arsy melengos menatap ke arah atas balkon lantai tiga.


Tatapannya semakin di pertajam dan ia merasa semuanya tidak mungkin terjadi.


"Loe kenapa? Kayak lihat hantu?" ucap Wulan yang merasa ada yang aneh dengan Arsy.


Wulan pun mendongak ke atas dan tak melihat siapa pun di sana.


"Gak ada siapa -siapa. Nge -halu aja loe," ucap Wulan kesal karena merasa di permainkan.

__ADS_1


Arsy pun kembali menatap ke arah sana, dan ...


"Itu lihat, cepat!!" teriak Arsy dengan keras tanpa sadar hingga semua orang menata ke arah dirinya dengan tatapan aneh.


Belum sempat Wulan melihat ke atas, tatapannya bertemu dengan tatapan kepala sekolah.


"Ada apa ribut -ribut di belakang?" tanya kepala sekolah dengan lantang.


Dengan gerak cepat Wulan mengangkat tangannya dan berteriak.


"Maaf Pak. Ada ulet bulu nih, biasa Arsy paling takut sama ulet bulu, apalagi kalau ulet bulunya nyata di depan dia," ucap Wulan santai.


"Kalian kalau saya sedang menjelaskan, tolong dengarkan!!Jangan mentang -mentang kalian murid berprestasi di sekolah ini terus kalian bisa berbuat onar," ucap kepala sekolah pelan.


"Gak Pak. Kita gak buat onar. Tadi memang ada ulet bulu, bahkan ulet bulunya sudah sampai di depan," ucap Arsy pelan sambil menatap ke arah Bu Lina dengan senyum simpul.

__ADS_1


"Sudah kamu juga jangan ribu. Lepaskan swetear kamu. Aturan di sekolah kan gak boleh pakai sweater," tegas kepala sekolah yang menatap Arsy dengan tatapan tak suka.


Kepala sekolah memang paling tidak uka dengan murid yang ngeyel. Arsy dan Wulan termasuk anak baik, tapi sering menjadi pemberoontak sehingga banyak di kenal di sekolah.


__ADS_2