Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
PANGGILAN MENGEJUTKAN


__ADS_3

Teddy terus berlari dengan sangat kencang. Ia harus sapai tepat pada waktunya sebelum minuman itu di minum oleh Arsy.


BUGH ...


Suara hentakan kaki yang begitu kuat berpijak pada lantai paling bawah, setelah Teddy meloncat dari beberapa anak tangga. Beberapa siswi yang melihat pun berteriak histeris. Bagaimana tidak, guru idamannya juga datang ke kantin dengan gaya cool yang semakin menambah ketampanan guru muda itu.


"Arghhh ... Pak Teddy," suara teriakan histeris beberapa siswi bekelompok dalam geng yang mengidolakan Pak Teddy sebagai tokoh spesial yang di inginkan.


Teddy hanya bersikap cuek dan tak peduli. Hanya senyuman manis yang di terbitkan agar semuanya nampak wajar dan biasa saja.


Kedua mata Teddy terus mencari sosok Arsy yang tadi sedang sarapan dan ...


"Mana minumannya?" tanya Teddy dengan teriak sambil menggebrak meja hingga Arsy pun terperanjat kaget dan meletakkan alat makannya. Baru saja ia akan marah dan mencak -mencak karena di kejutkan g\=hingga membuat selera makannya sedikit hilang.


"Bengong aja? Minuman kamu mana?" tanya Teddy tegas.


Arsy menatap lekat Teddy dan melihat di mejanya mencari gelas berisi teh manis yang sudah lenyap dari sana. Arsy mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak ada Mas eh Pak. Tadi sih ada di sini tapi kenapa gak ada?" tanya Arsy pelan sambil mencari gelas minumannya. Pandangannya terus menyapu dan terus mencari minumannya.


"Sorry ... Kamu cari ini? Ini aku ganti, aku beliin yang baru. Tadi aku haus banget, jadi aku minum, soalnya di kantin antri banget dan ini aku pesankan yang baru," ucap Wulan tanpa ada rasa bersalah.


Teddy pun melotot. Walaupun bukan Arsy yang meminum minumannya dan selamat dari bahaya, tapi Wulan, sahabat Arsy yang meminum minuman itu. Wulan juga sama seperti Arsy, mereka berdua sama -sama sedang mengandung.


Wulan meletakkan minuman baru di meja Arsy dan Teddy menatap tajam. Pandangannya kini mengedar mencari sosok lelaki yang ingin berbuat jahat dengan Arsy. Teddy mencari siswa yang sekilas tadi ia lihat memakai topi.


Beberapa siswa mengerubungi Arsy, Teddy dan Wulan. Mereka akan ada sesuatu yang bisa di jadikan gosip. Tapi, nyatanya tidak.


"Kamu minum teh tadi, punya Arsy?" tanya Teddy tegas kepda Wulan/


"Iya Pak. Sudah habis," jawab Wulna santai.


Teddy menarik napas dalam. Ia tak akan tahu, apa yang akan terjadi pada Wulan setelah ini karenasudah meminum cairan yang bercampur dengan bubuk aneh.


"Kalian berdua ke kelas sekarang," titah Teddy dengan tegas.

__ADS_1


"Tapi Pak. Arsy belum selesai makan," jawab Arsy pelan.


"Saya bilang , sekarang kalian beruda ke kelas!! Saya guru kalian di sini, jadi saya berhak mengatur kalian!!" teriak Teddy keras.


Wulan segera menarik tangan Arsy dan berjalan ke arah tangga, membelah beberapa teman -teman satu sekolahnya yang mengelilingi mereka sejak tadi karena ingin tahu apa yang terjadi. Apkah ada cinta segitiga?


Teddy melirik ke arah dua gadis yang sudah naik ke lantai atas Dalam hatinya terus mencari cara untuk segera membawa Wulan k erumah skait sebelum semuanya terlambat. Karena Teddy tidak tahu sama sekali, bubuk apa itu?


"Kalian kenapa masih di sini? Bubar!! Semuanya bubar!!" teriak Teddy dnegan suara keras dan lantang. Ia melihat semua murid -murid itu bubar dan melanjutkan aktivitasnya masing -masing. satu per satu ia perhatikan gerak geriknya dan pakaian serta aksesorisnya.


Lelaki yang memasukkan bubuk itu itu hanya tersenyum dari balik tiang dinding sekolah. Ia puas telah berhasil mencari mangsa. Walaupun bukan Arsy sesuai harapannya, tapi kena imbas pada Wulan itu sama saja. Karena keduanya bersahabt. Tentu, sakit hatinya lebih terasa ganda.


Suasana di kantin yang cukup sedikit menegang akhirnya pun kembali normal. Semua siswa seolah tersihir seperti tidak terjadi apa -apa barusan.


Teddy pun kembali ke ruang guru dan duduk di balik meja kerjanya. Ia mulai memikirkan nasib Wulan. Teddy seperti nampak gelisah dan panik.


"Kenapa Pak?" tanya Pak Tunggul kepada Teddy.


Kedua mata Teddy mengerjap pelan dan menatap lawan bicaranya saat ini.


"Oh ... Masuk angin mungkin. Tapi setelah ini jam pertama mengajar di kelas IPA, tentu akan kembali semangat lagi," ucap Pak Tunggul sedikit sinis.


Teddy menatap Pak Tunggul yang juga menatap lekat ke arahnya.


"Maksud Bapak apa?" tanya Teddy pelan.


"Coba pikir sendiri deh. Saya lagi malas membahas apapun," ucap Pak Tunggul yaang pergi begitu saja dari hadappan Teddy.


'Hari ini, hari apa sih?' Teddy terus membatin di dalam hatinya. Ada beberapa hal kejadian aneh yang sangat tidak mengenakkan.


Pak Tunggul sudah pergi dari hadapannya. Tepat, bel masuk berbunyi, dan Teddy bergegas membawa buku paket biologi untu memberikan materi ke kelas Arsy.


Langkah Teddy terlihat cepat dan sangat buru -buru. Ia memasuki ruang kelas itu dan smeuanya nampak biasa saja.


"Wulan kemana?" tanya Teddy keada Arsy yang dduk di sebelhnya.

__ADS_1


"Ke kamar mandi Pak," jawab Arsy keras.


Deg ...


Deg ...


Deg ...


"Sudah dari tadi?" tanya Teddy mulai khawatir.


Arsy menatap Teddy tajam. Tatapannya terlihat cemas dan panik. Arsy melihat jam di peergelangan tangannya. Iya benar sekali, Wulan sudah cukup lama berada di kamar mandi.


"Ekhemmm ... Lama Pak. Sudah lima belas menit. Biar saya cek ya, Pak?" tanya Arsy dengan cepat. Arsy mulai panik juga.


Tanpa ada kata setuju dari Teddy, Arsy pun sudah berdiri dan berlari ke arah toilet wanita. Ia masuk ke dalam dengan suasana yang hening dan sunyi.


"Lan ... Wulan ...." teriak Arsy dengan suara keras. Arsy masuk ke dalam. Di dalam toilet itu ada sekitar enam bilik kamar mandi.


Kaki Arsy mulai bergetar dan jantungnya mulai berdegup keras karena panggilannya tidak di sahut.


Satu per satu Arsy melewati kamar mandi yang kosong dengan pitu terbuka. Arsy hanya melongok dan tidak ada orang sama sekali.


"Lan ... Wulan ... Jawab dong, jangan bikin Arsy panik. Jangan bercanda deh," ucap Ars keras.


Namun, lagi -lagi panggilan Arsy sama sekali tidak ada sahutan. Langkah kaki Arsy sudah sampai di bilik ketiga yang juga dengan pintu melongo dan tidak ada orang di dalamnya.


Bilik keempat tertutup dan Arsy menendang kasar pintu itu dengan sekuat tenaga.


BRAK ...


Ternyata kosong juga. Arsy terus berjalan pada bilik lima yang tertutup dan ia berusaha membuk pintu yang tak terkunci tapi pintu itu sulit di buka seolah ada yang menahannya dari dalam.


"Lan ... Wulan ... Itu kamu kan? Jawab Wulan," teriak Arsy sambil mendorong pintu kamar mandi itu dengan kuat.


Arsy mulai cemas dan panik. Ia tahu Wulan sedang tidak baik -baik saja.

__ADS_1


"Arsy!!" teriaak seseoarng dari arah depan dengan suara keras.


__ADS_2