
Pagi ini Arsy sudah berada di sekolah. Ia duduk menyendiri di dalam kelas sambil meminum susu kotaknya. Beberapa kali ia memegang perutnya yang masih terasa sakit. Tubuhnya terasa lemas dan bersandar di sandaran kursi.
Hari ini memang terasa sangat berbeda dan tidak seperti biasanya. Langit pagi yang biasanya cerah dengan sinar mentari pun tiba -tiba mendung tak bercahaya. Awan yang indah pun terasa sedang berduka. Hawa dingin di pagi hari menambah suasana hening dan sunyi dalam kesendiriannya.
Biasanya ada Teddy di sebelahnya. Duduk di mobil tadi pun terasa ada yang hilang. Arsy rindu Teddy. Arsy menunggubkabar lelaki kesayangannya itu. Air matanya luruh menetes di pipi.
Benar kata orang. Kita akan merasa menyesali semuanya dan kehilangan orang di saat orang itu pergi. Jika kita memikirkannya dan merindukannya, berarti orang tersebut memang tulus kepaa kita.
"Arsy ...." panggil Wulan yang tergopoh -gopoh berlari dari gerbang sekolah saat melihat mobil Teddy keluar dari halaman sekolah.
"Wulan ...." jawab Arsy sambil memeluk tubuh Wulan dengan erat. Entah kepada siapa lagi, Arsy harus mengadu tentang perasaannya saat ini. Kalau kata anak remaja masa kini, Arsy sedang galau, pikirannya terlalu OVT.
"Kamu kenapa? Kenapa harus menangis?" tanya Wulan pelan.
Selama ini persahabatan mereka begitu kental dan saling memotivasi satu sama lain tanpa rasa lelah ataupun iri.
Arsy tak menjawab. Kepalanya dietakkan di bahu Wulan. Arsy sendiri tak tahu kenapa menangis sampai sesegukan begini.
Wulan menegakkan tubuh Arsy dan menatap wajah sahabatnya itu.
"Tahu gak? Loe jelek banget sih, Sy?" ucap Wulan sengaja di buat setajam silet agar Arsy tersulut emosi dan marah.
__ADS_1
"Biarin. Suaminya gak ada ini," jawab Arsy ketus.
"Pak Teddy sudah sampai Bali?" tanya Wulan pelan.
Pertanyaan itu membuat Arsy menangis lagi dengan sangat keras. Ia masih kecewa di bohongi dan sampai saat ini tak ada kabar sama sekali.
"Dia bohong, Lan. Dia pergi ke London," ucap Arsy pelan.
"Hah? Ke London?" ucap Wulan kaget.
Arsy mengangguk pelan, "Iya."
"Di sana. Kenapa sih gak jujur aja kalau mau kesana?" ucap Arsy pelan merasa tidak terima.
"Mungkin memang ada alasan lain, makanya Pak Teddy gak jujur. Mau kasih surprise? Bisa jadi kan?" ucap Wulan memberikan penjelasan.
Hanya tarikan napas dalam yang terdengar begitu berat di hirup dan perlahan di hembuskan.
"Arsy mau ngomong sesuatu. Kemarin ada darah dan lendir di pakaian dalam Arsy setelah jatuh dari tangga," ucap Arsy pelan dan terlihat bingung.
"Darah? Banyak gk Sy?" tanya Wulan dengan cepat. Wulan penah mengalami hal yang sama, dan Wulan gak mau hal itu terulang dan terjadi pada Arsy, sahabatnya.
__ADS_1
"Gak banyak sih. Kayak bercak aja, dan lendir bening agak kemerahan," ucap Arsy pelan sambil mengingat apa yang telah terjadi padanya.
"Periksa yuk? Jangan sampai terlambat," ucap Wulan pelan.
"Maunya sih gitu. Tapi, jangan bilang sama Mama Tina ya? Kita diam -diam aja," ucap Arsy pelan.
"Iya. Yuk, mumpung belum banyak orang di sini," titah Wulan dengan cepat.
Arsy dan Wulan pun membawa tas sekolahnya dan pergi menuju klinik dokter Effendy. Di sana hanya mengantri beberapa orang saja. Banyak ibu hamil yang menaap nyinyir ke arah Wulan dan Arsy. Mereka berpikir, ada anak sekolah dan di bawah umur yang ingin menggugurkan kandungannya.
"Mau aborsi?" tanya seorang Ibu yang tiba -tiba saja duduk di samping Wulan dan Arsy.
"Gak," jawab Wulan jujur.
"Lalu? Mau periksa kandungan?" tanya Ibu itu kemudian.
Baru mau menjawab. Arsy sudah menyela.
"Gak juga. Mau ketemu dokter Effendy saja. Sudah lama gak ketemu," jawab Arsy dengan asal.
Arsy mengedipkan satu matanya kepada Wulan dan mengingatkan bahwa mereka saat ini memakai seragam putih abu. Tentu banyak orang mempertanyakan kedatangan mereka ke klinik kandungan.
__ADS_1