Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
TEGURAN KEPALA SEKOLAH


__ADS_3

Teddy dengan santainya masuk ke dalam ruang guru dan berjalan menuju meja kerjanya sambil menyapa beberapa guru senior yang telah hadir lebih pagi. Waja senyum menahan ketawa dari beberapa guru pun membuat Teddy merasakan ada hal aneh yang terjadi.


Senyumnya yang semula terbit karena perasaan bahagia pun harus ia teis begitu saja saat kepala sekolah memanggil Teddy untuk datang ke ruangannya saat ini juga.


Teddy hanya mengangguk sopan dan meletakkan tas kerjanya dan berjalan menuju ruang kepala sekolah yang berada di sebelah ruang guru.


Saat akan keluar dari ruang guru di sudut ruangan ada wastafel dan cermin bulat. Biasanya eastafel itu di gunakan semua para guru untuk memudahkan mereka mencuci tangan sesudag dan sebelum mengajar ke kelas yang di tuju. Tepat di depan cermin, Teddy pun sekilas bercermin. Niatnya hanya untuk memastikan bahwa rambut dan pakaiannya masih trelihat rapi karena tak sempat berkaca saat di mobil tadi.


Wajahnya di miringkan. Tepat di bagian pipi sebelah kiri, jelas tercetak bibir berwarna pink mewarnai pipi Teddy yang putih mulus. Reflek tangan kirinya langsung memegang pipinya dan mengusap pelan lipstik Arsy yang masih menempel di kulit wajahnya.


Pantas saja, semua orang tadi menatapnya dengan aneh. Ternyata hal ini yang membuatnya malau sekali saat ini. Pantas juga, semua guru menatapnya dengan senyum tertahan. Ternyata gara -gara gincu gadis labil yang sengaja meninggalkan jejak membuat Teddy menjadi sorotan publik selama di sekolh pagi ini.


Rasanya tak mungkin menoleh ke arah belakang. Canggung dan gengsi, serta bercampur malu sudah menjadi adonan khusus di pikiran Teddy.


Teddy mempercepat langkahnya menuju ruangan kepala sekolah dan mengambil sapu tangan dari saku samping celananya dan mengusap pelan sisa gincu yang masih terlihat jelas tadi saat bercermin. Minimal setelah di hapus jejak merah itu memudar bahkan menghilang.


Tok ... Tok ... Tok ...


Teddy mengetuk pintu ruangan kepala sekolah dengan sopan. Ia pun membuka handel pintu saat kepala sekolah sudah berteriak dan mempersilahkan masuk ke dalam ruangan itu.


"Permisi Pak. Ada apa?" tanya Teddy kepada kepala sekolah dengna sopan.


"Silahkan duduk dulu. Coba untuk tenang saja. Tidak ada masalah yang pelik," cap Kepala Sekilah yang duduk bersandar pada kursi empuk kebesarannya sambil menggoyang -goyangkan kursi itu ke kanan dan ke iri dan mengetukkan buku -buku jari -jarinya di meja kerjanya.


Teddy hanya mengangguk kecil. Ia tak berani bicara lagi, dan menunggu Kepala Sekolah berbicara mengungkapkan hajatnya kepada Teddy.

__ADS_1


"Ekhemmm ... Jadi gini. Menurut rumor yang beredar di sekolah akhir -akhir ini, apakah anda sedang dekat dengan muridaanda sendiri? Karena trending topik di sekolah seperti itu? Coba jelaskan. Saya butuh jawaban anda langsung sebelum saya juga memanggil murid yang juga sedang naik daun itu," ucap Kepala Sekolah menatap tajam ke arah Teddy.


"Ya. Benar sekali. Rumor itu memang apa adanya. Rumor itu bukan sekedar rumor karena ada kebenaran dan kejujuran sesuai fakta di balik rumor yang meresahkan itu," ucap Teddy beragumentasi.


"Jadi? Benar, anda dan Arsy itu berpacaran?" tanya Kepala Sekolah langsung to the point.


"Benar. Lebih tepatnya kami berdua sudah bertunangan," jawab Teddy tegas dengan menunjukkan cincin pernikahannya. Ia terpaksa berbohong dnegan statusnya yang sudah menikah. Paling tidak, Teddy mengakui memang ada hubungan antara dirinya dengan Arsy, Sang Murid berprestasi itu.


Kepala Sekolah menatap lekat pada benda loga yang berwarna emas putih melingkar di jari manis Teddy.


"Bukankah kalau tunangan di sebelah kiri? Kenapa ini ada di sebelah kanan?" tanya Kepala Sekolah itu mulai curiga.


Teddy tersenyum. Ia lupa, Kepala Sekolah di sekolah ini, bukan hanya selalu kepo dengan urusan pribadi guru dan muridnya. Tapi, beliau juga mempunyai daya nalar yang tak di ragukan lagi sesuai dengan panggilannya 'The Profesor', karena kepalanya yang sedikit botak dengan rambut tipis di bagian belakang dan jidat yang begitu lebar seperti lapangan golf besebelahan dengan landasan pesawat terbang.


"Pak. Jari kanan dan jari kiri beasr yang mana?" tanya Teddy malah memberikan tebak -tebakan.


"Nah ... Itu dia. Jadi kemarin kita beli cinci dengan ukuran yang salah. Jadi mau gak mau cukupnya di jari kanan, sebab kalau di paksakan di jari kiri, nanti malah longgar, jatuh dan hilang. Malah sia -sia beli cincin mahal. Lagi pula apalh arti memakai cincin di kanan atau di kiri," ucap Teddy pelan melempar pertanyaan sambil sedikit bercanda.


"Bukan begitu. Pamali, kalau tuanangan memakai di jari kanan cincinnya," ucap Kepala Sekolah yang mulai mencampur adukkan adat di rumahnya.


"Ekhemmm ... Bapak Kepala Sekolah, ada pertanyaan lagi?" tanya Teddy tegas sebleum ia di ceramahi yang makin membuat semuanya rumit dan tersudut.


Kepala sekolah itu menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Baiklah Pak, Kalau begitu, saya permisi dulu. Bapak mau saya pesankan kopi?" tanya Teddy sopan.

__ADS_1


"Tidak usah menyogok saya," jawab Kepala Sekolah itu tertawa.


"Hem ... Bukan menyogok, tapi ini traktiran perayaan tunangan saya," ucap Teddy pelan.


"Tidak perlu Pak Teddy. Bersiap mengajar saja," tith Kepala sekolah itu dengan cepat.


"Baiklah. Permisi," ucap Teddy pamit.


Teddy sudah berjalan ke arah pintu ruangan kepala sekolah dan membuka pintu itu untuk segera keluar dari runagan kepala sekolah.


Tiba -tiba, Kepala Sekolah pun berteriak dengan keras dan lantang, "Satu hal lagu Pak Teddy. Tolong kondisikan bibir merah yang masih menempel di pipi anda. Jangan sampai mencontohkan hal tidak baik bagi murid -murid lainnya."


Suara itu sangat membuat Teddy malu. Teguran yang amat sangat membuat Teddy keki dan reflek mengusap pipi kirinya lagi dengan malu -malu.


"Saya bisa maklumi orang yang sedang jatuh cinta. Tapi, saya tidak mau tolerir bagi semua guru dan murida yang membuat harga diri mereka jatuh dan mencemarkan nama baik akibat perbuatan merka sendiri," ucap Kepala sekolah tegas.


"Terima kasih tegurannya Pak. Maaf, hal ini tidak akan saya ulangi lagi," ucap Teddy tegas dengan nada penuh penyesalan.


Teddy pun keluar dari ruangan itu. Baru kali ini ia did tegur oleh kepala sekolah. Teddy termasuk guru teladan. Makanya ia di gandrungi banyak kaum hawa karena kesempurnaannya.


Langkahnya mau ke depan hingga berada di tembok pembatas di lantai dua. Kedua matanya mengedar ke arah bawah tepat di bagian kantiin sekolah.


Ia melihat Arsy sedang sarapan pagi sendiri di meja. Tiba -tiba ada seorang laki -laki yang tak jelas menghampirinya memasukkan serbuk pada minuman Arsy saat Arsy sedang tidak berada di meja itu karena membeli sesuatu di kios lain.


Teddy pun panik dan langsung turun ke bawah dnegan cepat menuju kantin. Jangan sampai minuman itu di minum oleh Arsy.

__ADS_1


Napasnya begitu memburu dan langkahnya secepat kilat karen aia tak mau sesuatu terjadi pada Arsy dan bayi yang di kandung Arsy.


__ADS_2