Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.26


__ADS_3

Jadwal kuliah Arsy pagi ini, kelas Teddy. Sepanjang jalan Arsy terus terdiam merasakan perutnya yang terasa kembung.


"Kamu kenapa sayang? Sakit perutnya?" tanya Teddy cemas.


"Gak Mas. Cuma kayak gak enak aja," jawab Arsy pelan.


"Pulang aja ya? Gak usah masuk kelas hari ini," titah Teddy yang telah bersiap ingin memutar balik mobilnya.


"Jangan Mas. Hari ini ada kuis dan kirim tugas juga. Kasihan temen -temen yang sudah mengerjakan tapi dosennya gak hadir. Belajar itu capek lho Mas," ucap Arsy lembut.


"Tapi wajah kamu kayak lemas gitu, Arsy. Kamu itu kenapa? Oke, Kita masuk kelas, habis itu kita ke ruamh sakit. Oke?" titah Teddy tegas.


Arsy mengangguk pasrah dengan permintaan Teddy.


Seperti biasa, sesampai di Kampus, Arsy minta turun di halte bis depan Kampus, agar tidak ada yang melihat, siapa sebenarnya Arsy.


"Turun di halte," pinta Arsy pada Teddy.


"Gak ada turun di halte. Ikut Mas sampai parkiran belakang," ucap Teddy tegas.

__ADS_1


"Mas ... Turun di Halte aja. Nanti ketahuan orang banyak," ucap Arsy merengek manja.


"Sayang ... Sekali Mas bilang gak tetep gak. Paham? Jalan dari halte bis ke halaman kampus itu jauh, belum masuk lobby naik tangga. Kamu ikut Mas, naik lift, itu lebih aman," tegas Teddy tak bisa di bantah lagi.


Arsy hanya bisa mendesah pelan dan menuruti semua perkataan Teddy. Tidak ada pilihan lain lagi.


"Tapi semua orang bakal tahu tentang kita," desah Arsy sedikit cemas.


"Terus kenapa? Masalah? Gak ada masalah lho, Sy," tegas Teddy pada istrinya.


"Tapi Arsy kan belum siap Mas. Arsy masih merasa rendah di depan Mas," ucap Arsy lirih.


Kebetulan hari memang sudah mulai siang, banyak mahasiswa yang lalu lalang di sekitar parkiran untuk menyeberani menuju kanti kampus.


Teddy memberhentikan mobilnya dan membukakan sabuk pengaman dan menasehati.


"Keluar kelas langsung tunggu di parkiran ya. Mas mau ke kantor buat ijin sama yang lain juga dan taruh hasil kuis sama tugas," titah Teddy pada istrinya.


"Iya Mas," jawab Arsy nurut.

__ADS_1


Arsy keluar dari mobil denagn hati -hati sekali sambil memegang perutnya yang sesekali terasa sakit sekali di dalam. Langkahnya pelan menuju anak tangga dan menaikinya sambil memegang pagara pembatas. Teddy berjalan tepat di belakang Arsy untuk menjaga istrinya agar tidak jatuh.


"Udah sana Mas," ucap Arsy pada suaminya.


Teddy tetap diam dan tetap berjalan pelrlahan di belakang Arsy. Suami mana yang tegaa melihat istrinya hamil besar dan membiarkannya begitu saja. Apalagi Arsy sedang menaiki tangga.


"Arsy!!" teriak Mega dari arah lobby saat emlihat sahabatnya muncul dari bawah. Lalu pandangan Mega melirik ke arah di belakang Arsy, dosen ganteng mata kuliahnya.


"Pagi Pak Teddy," sapa Mega kemudian.


"Pagi," jawab Teddy yang langsung pergi mendahului Arsy dan Mega. Teddy merasa Arsy sudah menemukan teman untuk masuk ke kelas.


Dari kejauhan Emil and the genk menatap ke arah Arsy dan Mega.


"Mil," panggil Rosa.


"Apa?" jawab Emil ketus.


"Lo ada masalh apa sih sama anak itu? Kayaknya lo gak suka pake banget?" ucap Rosa kemudian.

__ADS_1


"Empet lihatnya. Sok cantik," ucap Emil asal.


__ADS_2