
Jawaban Teddy tentu membuat Arsy semakin takjub dan kagum dengan semua yang ada pada Teddy saat ini. Lelaki baik, tulus, perhatian, pintar, mapan, dan semuanya di borong. Harusnya Arsy bangga dan bahagia? Kurang apa lagi? Bahkan kekurangannya pun tidak terlihat seujung kuku pun.
"Memang rumah sakitnya di mana?" tanya Arsy kemudian.
"Di London," jawab Teddy singkat.
"Hah London? Mas gak lagi bohong kan?" tanya Arsy menuduh.
"Untuk apa Sy? Bukankah tadi kamu minta Mas enjelaskan semuanya, dan ini sudah Mas jelaskan," ucap Teddy pelan sambil mengusap pucuk kepala Arsy dengan lembut.
"Berarti Mas setelah ini ke London?" tanya Arsy pelan.
Teddy mengangguk kecil.
"Ya, Mungkin mulai awal tahun juga, sebulan sekali, Mas harus menilik kesana untuk tahu progres rumah sakit sudah siap atau belum untuk di resmikan," jawab Teddy pelan.
Arsy menatap sendu ke arah Teddy. Entah kenapa, hatinya sedih saat Teddy bicara akan sering pulang pergi ke London. Tentu, itu tandanya ia akan sering meninggalkan Arsy sendirian di rumah.
"Kenapa wajahnya gitu?" tanya Teddy pelan.
"Gak apa -apa," jawab Arsy pelan.
"Ceritanya sudah selesai. Jangan pura -pura lupa sama janjinya," ucap Teddy pelan.
Arsy mendongak lagi ke arah Teddy. Senyum lebar Teddy pun seperti mengingatkan dan mengajak untu melakukan itu sekarang.
"Arsy gak lupa. Masih ada satu pertanyaan lagi. Bisa di jawab?" tanya Arsy pelan.
"Apa itu. Tanyakan saja," ucap Teddy pelan.
"Bu Lina ... Siapa dia sebenarnya?" tanya Arsy yang masih curiga.
Teddy hanya mengangguk pelan. Sudah saatnya Arsy mengetahui semuanya saat ini.
"Bu Lina. Sebenarnya dia itu adik kelas Mas saat SMA. Kayaknya sudah nge -fans sama Mas sejak lama tapi Mas saat itu belum tertaik pada wanita. Mas masih ingin belajar untuk mneggapai cita -cita Mas. Tak di sangka, setelah lulus SMA, kita tida pernah ketemu lagi dan di pertemukan di sekolah. Itu aja sih," jawab Teddy santai. Penjelasannya tentang Bu Lina pun tidak ada yang spesial.
"Satu lagi," tanya Arsy pelan. Senyumnya lagsung di tampilkan agar Teddy tidak marah.
"Apa lagi? Ini tambahannya dua, berarti Mas juga nambahnya dua ya?" ucap Teddy sambil tertawa.
"Ya ampun. Ada yang begini," jawab Arsy kesal.
__ADS_1
"Mau tanya apa lagi?" tanya Teddy pelan.
"Ekhem ... Kita bisa di jodohkan gimana ceritanya? Terus memang Mas Teddy beneran suka sama Arsy?" tanya Arsy pelan.
"Pertanyaanya aneh ya?" jawab Teddy yang sedikit keberatan dengan pertanyaan Teddy sambil menoel hidung yang tidak begitu mancung itu.
"Aneh gimana? Wajar dong Arsy tanya?" cicit Arsy pelan.
"Jadi gini. Sebenarnya yang minta di jodohkan itu Mas. Saat itu, kamu pernah sakit dan di rawat di rumah sakit. Kamu ingat?" tanya Teddy pelan berusaha mengingatkan Arsy.
Arsy memutar kedua bola matanya. Ia berusaha mengingat saat ia sakit dul, lebih tepatnya ia di rawat.
"Oh ya ... waktu itu Arsy baru kelas satu SMA. Arsy sakit types," jawab Arsy pelan. Ia menatap Teddy lekat.
Teddy pun mengangguk tersenyum.
"Mas itu yang memeriksa Arsy?" tanya Arsy berusaha mengingat.
"Iya," jawab Teddy singkat.
"Terus?" tanya Arsy semakin penasaran.
"Hanya itu? Masa iya, Papah langsung setuju," tanya Arsy semakin penasaran. Penjelasan yang sepotong -sepotong membuat Arsy gemas dan tidak tidak sepenuhnya mempercayai Teddy.
"Iya. Karena, Papah kamu tahu kalau Mas itu anak dari Mama Tina dan Papah Baron, yang merupajan sahabat mereka sejak SMA. Itu alasannya yang paling membuta orang tua kamu yakin berani memberikan anak gadisnya untuk Mas," ucap Teddy pelan.
Memang terdengar aneh. Tapi, cinta datang itu kan kadang memang aneh, datang tak di sangka -sangka dan pergi dengan sesuka hatinya.
"Oh ... Terus Mas langsung cinta gitu sama Arsy? Kan Mas belum kenal sama Arsy?" tanya Arsy pelan.
"Memangnya cinta itu harus ijin dulu? Memangnya cinta itu harus kenal dulu? Lalu apakah kita mencintai itu harus ada balasan untuk di cintai?" tanya Teddy pelan.
"Ekhemm ... Iya memang gak. Semua itu rahasia kan?" ucap Arsy yang terlihat bijak.
"Nah itu tahu. Ya sudah. Mas hanya menjalankan apa yang Mas ingin jalankan. Jadi kapan nih bisa titip benih," tanya Teddy sambil mengedipkan satu matanya kepada Arsy.
"Harus sekarang?" tanya Arsy yang masih ragu.
"Kalau kamu ragu, ya sudah gak usah," jawab Teddy pelan sambil mengecup kening Arsy.
Arsy hanya terdiam dalam pelukan Teddy. Tubuhnya tak bergerak hanya hembusan napasnya yang terdengar sampai telinga Teddy.
__ADS_1
"Mas ...." panggil Arsy tanpa menatap wajah Teddy.
"Hemmm ... Kalau mau tidur gak apa -apa, Sy," ucap Teddy lirih sambil memjamkan kedua matanya.
Arsy mendongak menatap Teddy dan membuat lelaki itu membuka matanya dan menatap Arsy saat Arsy terasa bergerak dalam dekapannya.
Cup ...
"Arsy siap," jawab Arsy singkat dan memberanikan diri mengecup bibir Teddy terlebih dulu.
"Sy? Jangan ngerjain Mas. Kamu gak tahu, laras panjang Mas sudah berkedut sejak tadi," ucap Teddy tertawa.
"Ih ... Mas mesum," ucap Arsy malu dengan wajah memerah.
"Kok mesum sih? Kalau sudah suami istri itu wajar. Bukan mesum," ucap Teddy pelan mulai mengusap punggung ARsy lembut.
Sesekali memberikan ciuman -ciuman kecil di seluruh wajah Arsy.
"Besok di Bali, udah kayak bulan madu dong?" tanya Arsy menggoda.
"Jangan goda Mas ya," ucap Teddy pelan.
"Arsy gak goda. Boleh dong pindah kamar?" tanya Arsy terkekeh pelan.
"Mas mau pesan kamar khusus. Kalau malam kamu pindah kamar ya? Mas kayaknya gak bisa jauh -jauh dari kamu, Sy," ucap Teddy pelan.
"Bisa di atur. Asal apa yang Arsy minta di sana di turuti," pinta Arsy.
"Urusan itu sih gampang. Makanya jangan jauh -jauh dari Mas," titah Teddy pelan. Kini tubuhnya sudah berada di atas Arsy dengan cepat. Pelan Teddy membuka kancing piyama Arsy dan Arsy hanya diam.
Maklum, Arsy belum berpengalaman dalam hal ini. Tidak membutuhkan lama, piyama itu udah terbuka dan sudah menampilkan bagian atas Arsy yang polos tanpa sehelai kain.
Bagai kucing yang di beri ikan tongkol. Teddy tak banyak bucara, birahinya akhir -akhir meningkat. Teddy selalu berhasrat saat berdektan dengan Arsy seperti kena setrum cinta yang tak bisa di tahan untuk di lampiaskan.
Arsy mulai terbiasa. Dulu awalnya memang sakit. Tapi, setelah di rasakan kembali, ternyata semua itu terasa nikmat.
"Sakit?" tanya Teddy yang sudah mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur. Peluh Teddy sudah tak terkontrol membasahi smeua tubuh kekarnya.
"Gak Mas," jawab Arsy.
Semakin cepat dan semakin dalam Teddy berusaha sekuat tenaga untuk mencapai puncak kenikmatan bersama. Tubuh keduanya mulai bergetar dan mnegejang hebat. Arsy yang sudah berteriak nikmat loloss begitu saja tanpa hambatan. Begitu pun dengan Teddy yang berusaha menyelesaiakn semuanya dengan tuntas.
__ADS_1