
Teddy masih memeluk tubuh Arsy dan tidak menjawab pertanyaan Arsy. Hubungannya dengan Arsy lagi baik, kalau ia menceritakan hal yang terjadi sebenarnya, mungkin Arsy akan ngambek dan marah besar.
"Kok diem? Gak jawab?" tanya Arsy sambil menoleh ke arah Teddy.
Kini tubuh mereka saling berhadapan, dan Teddy berpura -pura memejamkan kedua matanya.
"Mas ... Kok gak di jawab sih? Malah pura -pura tidur," ucap Arsy pelan terdengar muali sedikit kesal.
"Hem ... Ngantuk Sy. Nahan ini Mas tuh," jawab Teddy pelan sambil mengecup kening Arsy.
"Nahan? Nahan apa sih Mas?" tanya Arsy pura -pura bodoh.
Kedua mata Teddy membuka pelan.
"Kamu ngerti kan? Mas nahan apa dari tadi. Gimana rasanya mau buka gembok, kuncinya udah ada, tapi gemboknya susah banget di buka? Ngerti kan?" tanya Teddy lembut sambil mengusap pucuk kepala Arsy.
"Gak paham. Gembok apa sih ini?" tanya Arsy yang sengaja menggoda dan mengulum senyum.
"Bener gak tahu? Apa pura -pura gak tahu? Apa mau Mas paksa saja?" ucap Teddy mulai memancing lagi dengan gemas.
"Eittss gak. Ini masih sakit Mas rasanya beneran. Kayak ada yang ketusuk dan mau sobek tuh rasanya. Mual malahan<' ucap Arsy jujur.
Teddy pun tertawa mendengar kejujuran Arsy.
"Ya itu karena kamu masih gadis. Lebih tepatnya masih perawan. Kalau barang tuh masih tersegel rapi. Jadi agak susah juga mau membukanya," jawab Teddy pelan menjelaskan.
Arsy mengangguk paham.
"Iya tapi sakit banget," jawab Arsy lirih.
"Sekarang bilangny sakit. Nanti kalau sudah gak sakit minta terus," tawa Teddy menggelegar.
"Enak aja. Tapi tadi pertanyaan Arsy belum di jawab. kemarin kemana sama Bu Lina?" tanya Arsy mengulan kembali pertanyaanya kepada Teddy.
"Ke rumahnya," jawab Teddy jujur dan pasrah. Teddy makin mendekpa erat tubuh Arsy hingga tubuhnya saling menempel satu sama lain.
"Ke rumah Bu Lina? Arsy gak salah dengar kan Mas? Terus ngapain aja berduaan di rumah Bu Lina? Begini juga?" tanya Arsy mulai di rundung rasa cemburu berlebihan.
"Hah? Begini gimana?" tanay Teddy mencubi gemas pipi Arsy.
"Ya begini. Kayak Mas sana Arsy begini," tanya Arsy mulai kesal sendiri.
"Begitu, bukan begini. Kamu itu istri Mas. Dia hanay rekan kerja. Statusnya aja beda, Sy. Jadi jangan di samain dong," jawab Teddy berusaha menjelaskan dnegan jujur apa adanya.
"Ada kesamaannya," jawab Arsy mulai memicu.
"Apa kesamaannya?" tanya Teddy bingung. Pikirannya terlalu jauh dan tidak berpikir yang dekat.
"Sama -sama perempuan dong. Bener gak?" tanya Arsy kemudian.
"Ohh ... Itu. Kalau itu memang sudah jelas kan? Sama -sama perempuan memang," jawab Teddy menghela napas panjang.
Bedanya laki -laki dan perempuan. Kalau laki -laki bertnya tidak mau bertele -tele. Pertanyaan dengan satu jawaban dan tidak melebar kemna -mana dan tidak perlu mencla mencle. Sedangkan perempuan jika mengajukan sau pertanyaan maka ia akan memiliki lima jawaban. Jika si lelaki menjawab A maka ia akan tetap menyalahkan dengan opsi jawaban B. Kalau di jawab C maka akan tetap di salahkan juga dengan opsi jawaban D dan E. Intinya apapun jawaban si lelaki pasti akan tetap salah dan di salahkan.
"Terus acaranya apa saja?" tanya Arsy mulai mendesak.
"Banyak. Gak bisa di jelaskan satu per satu," jawab Teddy menutupi.
__ADS_1
Kalau saja Arsy tahu yang sebenarnya, Teddy juga pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Bu Lina.
"Gak lagi bohong kan Mas?" tanya Arsy menatap lekat mata Teddy yang terlihat kacau seperti sedang beralasan.
"Buat apa bohong. Kamu tahu, Mas rela mengaja di sana hanya untuk bisa dekat dan memenatau kamu. Lagi pula, Mas punya pekerjaan lain, dan punya jabatan di perusahaan Papa kamu. Ada pekerjaan lain juga, kalau itu profesi sih. Tapi ... Lagi belum fokus lagi," jawab Teddy pelan.
"Profesi? Apa? Model? Bintang film? Atau apa?" tanya Arsy penasaran.
Arsy memang belum mengenal Tedy dnegan baik. Tetapi Arsy yakin, Teddy adalah orang baik dan perhatian.
"Ada lah. Suatu hari kamu juga akan tahu," ucap Teddy pelan.
"Oke. Jawaban masih wajar dan bisa di terima dengan baik," jawab Arsy pelan.
"Ya harus di terima. Mas jujur sama kamu, Sy. Suami istri itu harus terbuka, harus jujur dan tidak ada kebohongan. Mas juga berharap kamu itu mau jujur dan terbuka dalam hal apapun dengan Mas," ucap Teddy menasehati.
"Arsy jujur," ucap Arsy ketus.
"Masih sayang dong sama Bismo?" tanya Teddy dengan cepat.
"Masih," jawab Arsy tegas.
Kedua mata Teddy pun menatap ke arah Arsy yang menjawab jujur pertanyaannya dengan cepat dan tapan berpikir terlebih dahulu.
"Arsy masih sayang. Tapi, Arsy berusaha melupakannya. Karena Arsy sudah punya Mas Teddy. Arsy akan berusaha menjadi istri yang baik dan penurut sesuai dengan keinginan Mas Teddy," ucap Arsy pelan.
"Ya." jawab Teddy kecewa.
"Mas Teddy marah?" tanya Arsy kemudian.
"Gak. Gak marah sama sekali," jawab Teddy menahan sesak di dadanya.
Arsy hanya kecewa akan pengkhianatan sahabat dengan manatan kekasihnya itu.
"Mau dengar Mas bicara?" tanya Teddy pelan.
"Mau. Gimana?" tnya Arsy pelan.
"Wulan itu sama kayak kejadian kamu kemarin, Sy. Bedanya, kemarin kita datang tepat waktu untuk menolong kamu, dan Wulan tidak ada yang membantu sampai kejadian itu terjadi. Awal mulanya memng Bismo ikutan balap motor, mereka tidak terima kalau Bismo menang. Dan menganggap Bismo melakukan kecurangan. sampai pada akhirnya mereka adu fisik, dan tetap saja, Bismo yang menang. Saat itu, mereka mencari celah, dan Wulan mereka anggap kekasih Bismo, di culik dan di perkosa hingga berbadan dua," ucap Teddy menjelaskan.
"Hah ... Wulan hamil karena ia korban? Bukan karena Bismo? Arsy sudah salah menilai Wulan," ucap Arsy menutup mulutnya karena tak percaya denagn penjelasan Teddy.
"Iya. Karena masalah ini awalnya kesalah pahaman, dan berhubungan dengan Teddy, makanya Teddy mau bertanggung jawab atas kehamilan Wulan. Mas mau bantu, agar Wulan tetap bersekolah dan bisa ikut ujian," ucap Teddy tulus.
"Tapi ... Mana mungkin Pak? Bukankah sudah jelas di aturan, bila hamil akan di keluarkan dari sekolah?" tanya Arsy pelan.
"Memang benar. Tapi, Mas gak tega, melihat murid se -pintar dan se -cerdas Wulan harus putus sekolah karena dia menjadi korban," ucap Teddy dnegan iba.
"Kalau Arsy yang hamil? Di keluarkan gak Mas?" tanya Arsy yang sebenarnya ingin tahu soal ini.
"Hamilnya sama siapa dulu? Kalau sama Bismo ya, Mas orang pertama yang akan mengeluarkan kamu," ucap Teddy pelan.
"Kok sama Bismo sih? Ini barusan sama Mas juga lho." jawab Arsy kesal.
"Tapi kan belum masuk Sy. Gimana mau hamil?" tanya Teddy sengaja memancing kembali.
"Harus masuk ya, Mas?" tanya Arsy yang mulai merasa ngeri mengingat sakitnya pas di tusuk tadi.
__ADS_1
"Ya ... Harus dong. Bukan hanya masuk saja, tapi juga harus di sembur biar cepat hamil," ucap Teddy tertawa. Ia merasa geli sendiri menjelaskan kepada Arsy.
"Ha .. ha .. ha. Harus di sembur? Kayak dukun aja Mas?" tawa Arsy ngakak dengan keras.
"Hus ... Kenapa dukun di bawa -bawa sih?" ucap Teddy pelan.
"Oke." jawab Arsy singkat.
"Oke? Oe apa nih?" tanya Teddy bingung.
"Mau coba lagi gak? Mumpung masih pagi," ucap Arsy malu -malu.
"Katanya sakit?" tanya Teddy lirih.
"Lebih sakit kalau tidak ada yang tanggung jawab dan di keluarkan dari sekolah. Kala Mas ma bertanggung jawab. Ya sudah, Arsy siap," ucap Arsy tersenyum manis.
Pandangan mereka bertemu. Ttapan yang lekat dan penuh damba. Mungkin mereka bukan kecanduan, hanya masih penasaran. Dan kalu ini sudah terjadi bukan lagi penasaran tapi menjadi candu dan sebuah kewajiban.
"Masa gak percaya sama Mas. Pasti tanggung jawab dong," jawab Teddy pelan sambil mengecup bibir Arsy.
Seperti biasa Teddy akan memulai dari bibir hingga ke area yang lain. Dan Arsy pun sudah mulai bergerak merespon dan berani membalas tautan bibir itu. Dan ini yang di harapakan oleh Teddy, adanya keselarasan dan timbal balik.
Suasana hening mulai terdegar memburu pada keduanya. Tidak hanya desah napas tapi juga suaa -suara aneh itu mulai terdengar dari ranjang dan decitan dari kecupan dan lumatn.
Teddy sudah siap dengan senjata laras panjang yang sudah siap mengeluarkan isi pelurunya dari dalam.
"Mas ...." suara Arsy begitu terdengar mendesah dan tersengal sengal melepaskan ciuman itu.
Posisi Teddy sudah berad di atas Arsy. Utuk ke sekian kalinya speerti ini, dan Teddy berharap setelah ini berhasil dan tidak ada kegagalan atau hambatan lagi.
"Ya ... Apa?" napas Tedddy pun mmeburu menejwab Arsy. Tubuhnya sudah dingin karena keringat. Tapi suhu tubuhnya mulai memanas karena semangat dan gairahnya mulai memuncak.
"Pelan -pelan ya?" lirih Arsy berbisik.
Teddy tersenyum mengangguk. Lalu mencium kening Arsy lembut dan mengecup pelan bibirnya. Kini ia fokus pada laras panjangnya dan menatap wajah Arsy. Takut kalau ia merasakan kesakitan makan usahanya akan di hentikan sejenak.
Perlahan, pelan dan sangat pelan. Wajah Arsy mulai memberikan respo agak kesakitan sampai ia menggigit bibirnya sendiri menhan nyeri dan pegal di sekitar pangakal pahanya. Tangannya mencengkeram Teddy dengan erat saat laras panjang itu akhirnya berhasil menembus pertahn dan siap maju ke medan perang untuk meletuskan isi pelurunya ke bidikan yang telah di tentukan.
"Sakit Sy?" tanyaTeddy yang mulai merasakan nikmat surga dunia. Tubuhnya terus bergerak maju mundur dnegan irama pelan tak terburu- buru. Arsy butuh adaptasi, mungkin rasa sakitnya masih terasa dan Arsy belum bisa merasakan nikmat secara bersama.
"Udah enggak Mas. Tadi sakit banget, tapi perlahan sakitnya hilang," jawab Arsy jujur.
Melihat rasa sakitnya sudah hilang Teddy pun mulai meneruskan perjuangannya hingga laras panjangnya sudah siap mengeluarkan letusan yang telah siap sejak lama.
Arsy pun terus mengikuti irama senam kasur itu dengan sempurna. Sebisa mungkin Arsy belajar banyak dari Teddy yang mungkin sudah banyak mempelajari dari ilmu biologinya.
"Mas boleh keluar sekarang?" tanya Teddy dengan raut wajah yang tak beraturan warnanya. Merah, ungu dan biru menjadi satu di raut wajah Teddy yang sudah menahan ingin segera meetuskan laras pnjangnya.
Arsy sudah tak konsentrasi dengan pertanyaan Teddy. Ia lebih konsen pada laras panjang yang masih bergerak bebas di dalam merasakan gesekan yang luar biasa tak terkira nikmatnya.
Tubuh Arsy mengejang hebat, ia merasakan sesuatu yang tak biasa ia rasakan selama ini. Seperti ada yang mendesak ingin keluar namun hanya rasa nikmat di ikuti denagn getaran alami dari tubuhnya saat berada di bawah Teddy, dan ini membuat Teddy semakin tak kuasa menahan gencatan sejata itu dan ...
"Mmpphhh ...." desah Teddy mengerang keras dan mendadk lemas dan dingin tubuhnya terkulai di atas Arsy.
Semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Di saat keduanya sudah siap, maka smeua terjadi begitu saja tanpa ada kompromi.
Arsy sudah lemas, begitu pun dengan Teddy yang juga merasa lemas dan puas. Begini rasanya. Selama ini ia hanya tahu dari membaca buku, dan semua itu di praktekkan, ternyata hasilnya melebihi dari apa yang ia perkirakan.
__ADS_1
"Terma kasih sayang," ucap Teddy lirih setengah berbisik dan mencium keninga Arsy.
Perlahan Teddy pun turun dari tubuh Arsy dan merebahkan tubuhnya di samping Arsy dan menutup tubuh keduanya dengan selimut.