Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
TANGISAN ARSY


__ADS_3

Tubuh Arsy sudah tergolek lemah di tempat tidur kamarnya. Kedua matanya sudah membuka lebar dan menatap kamar yang saat ini i atempati.


"Ini kan, kamarnya Mas Teddy. tempat yang biasa Arsy tinggali," lirih Arsy berbicara pada dirinya sendiri.


"Kamu sudah sadar, Sayang?" ucap Mama Tina pelan sambil mnegusap lembut rambut Arsy.


"Kok ... Arsy di sini? Tadi kan masih di mall sama Wulan, lagi beli roti," ucap Arsy pelan.


"Ini rotinya. Aman Bu. Lagian loe kenapa pake pingsan segala sih? Untung gue udah selesai bayar dan gue lihat loe pas jatuh," ucap Wulan pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Iya kah? Arsy lihat Mas Teddy di toko boneka depan toko roti, mirip banget," ucap Arsy berusaha mengingat apa yang terjadi tadi.


Wulan menatap ke arah Arsy lekat, begitu juga dengan Mama Tina, mertuanya menatap ke arah Arsy.


"Kamu yakin? Bukankah sampai sekarang, kabar suamimu juga belum ada. Bunda Bella juga belum kasih kabar ke Mama," ucap Mama Tina pelan.


Wajah Mama Tina terlihat sedih kembali dan nampak tak bersahabat.


"Maafin Arsy ya, Ma. Kalau bikin Mama sedih. Mungkin Arsy salah lihat. Semoga memang itu orang yang lain hanya saja mirip. Karena lelaki itu bersama wanita lain dan begitu mesra," ucap Arsy lirih.

__ADS_1


"Udah. Jangan sedih. Kita makan roti isi abon saja. Mau?" tanya Wulan pelan sambil mengeluarkan beberapa roti yang di beli oleh Arsy tadi.


skip ...


Keesokan paginya, suasana di rumah Mama Tina sedikit berbeda. Beberapa hari ini, Bunda Bella dan Papah Hermawan tidak bisa di hubungi.


"Mau ada acara apa sih Ma? Kok di dekor kayak begini?" tanya Arsy pelan sambil menatap beberapa dekorasi berwarna pink dan putih.


"Kamu lupa? Lusa acara empat bulanan kehamilan kamu, kan?" ucap Mama Tina pelan sambil merapikan beberapa toples berisi kue kering dan cemilan keripik di beberapa meja yang ada di sudut ruangan ruang tamu itu.


"Mama yakin mau di lanjutkan acara empat bulanannya? Maksud Arsy, kenapa gak kita cari Mas Teddy. Itu yang lebih penting. Anak ini butuh Ayahnya. Arsy juga butuh Mas Teddy," ucap Arsy sedikit meninggi suaranya. Arsy meluapkan rasa sedihnya kepada Mama Tina. Arsy tidak butuh acara empat bulanan yang meriah. Ia lebih ingin mencari keberadaan suaminya.


"Gak. Arsy gak mau. Arsy gak mau bikin acara empat bulanan ini. Arsy butuh Mas Teddy!!" teriak Arsy dengan suara keras.


Arsy langsung bangkit berdiri dan berlari ke atas menuju kamar tidurnya.


Ia merasa, Mama Tina tidak peduli dengan perasaannya. Arsy memang menunggu kelulusan dan acara perpisahan ini selesai. Baru ia akan fokus mencari Teddy dan meminta maaf pada lelaki yang sangat ia cintai itu.


Arsy menutup pintu kamarnya dan menangis sejadi -jadinya di balik pintu kamar. Tubuhnya merapat di belakang pintu dan luruh jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Arsy ...." panggil Mama Tina dari luar pintu kamar sambil mengetuk keras kamar Arsy.


Arsy sesegukan dan sengaja tidak membukakan pintu kamar itu. Ia ingin sendiri. Ia butuh ketenangan.


"Arsy ... Maafkan Mama. Mama tahu gimana perasaan kamu, Nak. Mama sendiri juga sedih kehilangan anak Mama satu -satunya," ucap Mama Tina juga terdengar sendu.


Arsy mengelengkan kepalanya pelan. Ia merasa Mama Tina dan Papa Baron begitu cuek. Arsy hampir tiap malam menelpon Bunda Bella, tapi hal yang sama yang ia dapatkan. Kedua orang tuanya seolah cuek dan tak peduli dengan keberadaan Teddy apalagi berniat mencari dan menolongnya.


Mereka hanya berpesan agar Arsy yang mencari sendiri dan seolah mereka semua cuci tangan.


"Arsy ... Jangan seperti pada Mama, Nak. Jangan buat Mama merasa bersalah pada cucu Mama," ucap Mama Tina pelan.


Arsy mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Perut yang dulu masih rata dan selalu di usap lembut oleh Teddy.


'Arsy rindu sama kamu, Mas Teddy. Kamu sebenarnya di mana? Kenapa Bunda tak pernah berhasil menemukan kamu, Mas?' lirih Arsy masih menangisi keadaannya.


Selama ini Arsy diam tapi pikieannya tak menentu. Berapa kali ia pingsan. Berapa kali ia mudah kelelahan. Bukan karena tubuhnya yang lelah, pikirannya juga terkuras energinya untuk memikirkan masalahnya. Lebih dari satu bulan. Ia melihat kedua orang tuanya tidak punya langkah untuk mencari suaminya.


Andaikan perutnya belum sebuncit ini dan tenaganya super power, kemungkinna besar Arsy akan tetap berjuang sendiri mencari suaminya dengan caranya sendiri.

__ADS_1


'Maafkan Arsy Mas ... Arsy tak punya tenaga. Membawa perut ini saja rasanya sidah lelah. Arsy hanya bisa berdoa dan selalu mendoakan yang terbaik untuk Mas Teddy. Semoga kita bisa berkumpul kembali sebelum anak ini lahir,' lirih Arsy memanjatkan segala doa dan harapannya.


__ADS_2