
Hari terakhir berada di Bali. Mungkin bagi kebanyakan teman -tema Arsy akan menampakkan wajah sedih, karena sore ini mereka harus kembali lagi pulang ke Jakarta.
Teddy sudah mengepak semua barang. Arsy masih rebahan di kasur. Pinggangnya terasa sakit sejak malam. Tahu sendiri, pengantin baru, tiap malam di kerjai terus oleh Teddy yang tak mengenal waktu.
"Masih sakit pinggangnya?" tanya Teddy pean duduk di samping Arsy.
"Masih. Sakit banget malah. Mas sih, gak tahu waktu. Istri lagi hamil hayuk aja di mintai kewaibannya," ucap Arsy sambil tertawa.
"Lha ... Kan enak tho?" jawab Teddy dengan asal sambil menoel hidung Arsy yang kurang mancung itu.
"Enak gimana? Ini buktinya sakit," ucap Arsy membela diri.
"YAkin gak enak. Terus kalau ada suara ... Eungh ... eungh itu apa dong artinya?" tanya Teddy berpura -pura sedang berpikir.
"Ihh ... Mas Teddy tuh paling pinter godain Arsy," ucap Arsy dengan wajah yang merah tiba -tiba.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Pak Teddy ...." panggil Bu Lina dari depan.
Arsy menatap pintu kamar hotel yang sepertinya lupa ia kunci.
"Pak ... Itu Bu Lina. Arsy lupa kunci pintu tadi," ucap Arsy kacau.
"Apa? kamu ini teledor Sy." jawab Teddy yang ikut bingung. Tidak mungkin Bu Lina melihat mereka berada dalam satu kamar.
"Kok Mas malah marah -marah sih. Mas juga salah, kenapa gak negeck," ucap Arsy makin geram.
"Sudahlah. Bukan waktunya untuk menyalahkan. Masuk lemari," ucap Teddy dengan cepat.
"Hah? Masuk lemari? Pengab dong Mas? Arsy nanti gak bisa napas," ucap Arsy esal.
"Ya sudah duduk manis saja di kasur. Biar Bu Lina tahu juga tidak apa -apa," jawab Teddy pelan.
"Eittsss ... Gak gitu juga. Bisa heboh nanti. Oke Arsy ke lemari sekarang," jawab Arsy mengalah.
Arsy pun masuk ke dalam lemari dan dduk di bawah. Ia bisa jelas menatap ke ara luar yang mulai dari pintu kamar sampai tempat tidur.
Teddy berpura -pura masuk ke kamar mandi. Pintu kamar hotel itu terus di ketuk keras dan sepertinya Bu Lina mencoba membuka pintu kamar itu dengan sengaja. Kepalanya melongok ke dalam kamar yang sepi, Bu Lina mencoba masuk dan mengendap seperti maling. Ia menutup kembali pintu kamar itu dan mengunci kamar itu dnegan rapat. Kunci itu ia tarik dan ia lempar ke sudut ruangan.
Tentengan yang ia bawa di letakkan di meja dan di keluarkan semua isinya dari kantong plastik itu. Berbagi macam makanan jajanan kaki lima yang masih hangat karena terlihat kepula hangat dari makanan itu di sertai denagn aroma yang masih fresh menyengat ke indera penciuman Arsy.
Kluruk ...
'Argh sial ... Kenapa harus lapar di saat yang tidak baik seperti ini,' umpat Arsy di dalam hati sambil mengusap lembut perutnya yang masih rata.
Bu Lina menyapu pandangannya ke seluruh kamar hotel itu. Kamar itu sudah bersih dan rapi. Ada tiga koper yang telah siap di angkut.
"Kenapa ada tiga koper. Mana yang satu warnanya pink lagi,' ucap Bu Lina pelan setengah berbisik.
Suara air dari kamar mandi pun meyakinkan Bu LIna bahwa Teddy berada di dalam kamar mandi itu. MUngkin ia perlu nekat sedikit agar Teddy bisa berubah pikiran dan mulai menyukainya.
'Basanya lelaki ska yang ganas -ganas. Mungkin aku harus bersikap lebih berani dan sedikit menurunkan ego. Sekarang itu jamannya perempuan yang beraksi. Kalau hanya menunggu, ini contohnya, tahu -thau sudah jadi tuanngan orang. Padahal sudah jelas selama ini saya yang dekat. Kalau cuma harus bertarung dengan Arsy sih kecil ... Bisa apa gadis manja itu,' batin Bu Lina di dalam hatinya. Ia mengumpat kesal.
Bu Lina sudah berdiri di depan kamar mandi. Ia sengaja memakai kaos tanpa lengan dengan bagian leher yang rendah hingga terlihat jelas belahan dadanya. Lalu memakai rok pendek berbahan satin berwarna putih yang tipis.
Ceklek ...
"Astaga ...." teriak Teddy keras. Ia berpura -pura kaget dengan kedatangan Bu Lina yang sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Teddy tidak kaget, bahka ia sudah rapi berpakaian karena memang sudah bersiap untuk turun dan sarapan pagi di aula hotel.
Tangan Bu Lina pun menjulur ke pundak Teddy dengan berani.
"Eh ... Apa -apaan ini Bu. Jangan macam -macam ya?" ucap Teddy menyentak.
Deg ...
Arsy langsung cemas. Ia tidak bisa melihat ke arah samping. Ia tidak bisa melihat apa yang di lakukan ulet bulu itu kepada suaminya.
"Ekhemm ... Pak Teddy gak peru munafik. Pak Teddy butuh kasih sayang kan?" ucap Bu Lina yang mulai menyentuh pipi Teddy.
"Wah ... Lepas Bu. Tolong jaga kewarasan Ibu. Saya takut Ibu kemasukan roh hanoman yang ada di hote ini," ucap Teddy dengan suara keras.
Ia sengaja berteriak agar Arsy mendengar dan Arsy tidk berpikiran yang aneh -aneh.
"Bapak itu kenapa? Apa saya kurang cantik? kurang matang? Kurang seksi? Kurag muda? Sampai harus memilih anak didik sendiri? Bahkan saya sudah siap di pinang dan bahkan saya siap untuk belah duren. Kalau masalah itu saya akan banyak belajar," ucap Bu Lina yang masih terus berusaha.
"Bu Lina yang baik hati. Maaf banget, Ibu mending keluar dari kamar saya. Saya mau ganti baju, dan saya harsu membuka semua baju saya ini. Kalau Ibu adadi sini, nanti Ibu bisa lihat dong yang indah -indah dan enak di pandang," ucap Teddy pelan menyuruh Bu Lina segera pergi.
"Saya gak mau," ucap Bu Lina ketus.
Teddy sudah kehabisan kesabarannya dan sudah kehabisan akal. Bu Lina itu di lembutin gak bisa, kalau di kasarin takut di kira galak, lebih baik tarik orangnya dan keluarkan dari kamar. Seperti sedang mengeluarkan anak kucing yang tiba -tiba sudah berada di dalam kamar.
Dengan gerak cepat Teddy pun menarik tangan Bu Lina dnegan erat dan di bawa ke arah pintu kamar.
"Pak ... Lepas dong. Jangan begini, sakit tahu," ucpa Bu Lina yang sedikit manja.
Teddy sudah tak mau mendengarkan suara yang sok -sok manis dan manja itu. Ia lebih menjaga harga diri da hubungannya dengan Arsy.
"Lho ... Kunci kamar saya mana?" tanya Teddy menatap tajam ke arah Bu Lina.
"Kenapa menatap ku seperti itu Pak? Aku hanya masuk ke dalam kamar ini dan soal kunci aku tidak tahu," ucap Bu Lina berkelit.
"Di sini hanya ada saya dan kamu. Kita cuma berdua, dan gak mungkin pintu ini tiba -tiba terkunci dan kuncinya hilang," tegas Teddy yang benar -benar muali marah dengan sikap Bu Lina yang makin lama makin ngelunjak.
Perempua yang tidak punyarasa malu ini masih terus mecoba dan berusaha.
Mereka berdua saling bertatapan dan tatapan Teddy begitu keji. Ia keikiran dnegan Arsy yang sudah cukup lmaa berada di dalam lemari. Bisa -bisa pingsan karena kekurangan oksigen.
"Mana kuncinya? Katakan sebelum kesabaran saya habis," ucap Teddy yang sudah sangat murka.
"Ada di sini," tunjuk Bu Lina ke arah belahan dadanya dnegan kedua matanya.
Ia sengaja mengulur waktu dan kamr itu di ketuk lalu keduanya ter -gap berada dalam kamar yang sama. Lalu ... Itu impian Bu Lina yang sangat licik.
"Dasar wanita gila!!" teriak Teddy keras.
Ia sudah tak bisa menahan dan berbalik arah menuju lemari pakaian. Lebih baik memang jujur dengan keadaan yang sebenarnya mereka sudah bersama dan memang sudah menikah.
Teddy sudah tida peduli lagi dengan apa kata orang. Ia lebih memeilih keadaan Arsy dan bayinya. Tidak mungkin menyembunyikan Arsy dan calon bayinya di lemari pakaian seperti ini.
"Pak Teddy. Berhenti." ucap Bu Lina tegas.
Langkah Teddy yang sudah mendekati lemari pun terhenti.
"Maafkan aku," ucap Bu Lina menyerah. Usahanya kembali gagal. Semua yang ia alakukan seolah selalu sia -sia.
Bu Lina berjalan ke sudut ruangan kamar hotel dan mencari anak kunci yang jelas ia lempar ke arah sini. Setelah anak kunci itu di temukan ia pun membuka anak kunci itu dan pergi dari kamar hotel itu.
__ADS_1
Huft ... Teddy membuang napas lega. Lalu bergegas membuka lemari pakaian itu.
Arasy berhambur keluar dan memeluk Teddy dengan erat. Peluhnya sdah banyak di sekitar dahi. Belum lagi rasa pegal kedua betisnya duduk di bawah menahan perrutnya yang tiba -tiba keram luar biasa sakit.
"Kamu tidak apa -apa, Sayang?" tanya Teddy mengusap pelan punggung Arsy.
"Terasa Arsy mengangguk tanpa mnejawab petanyaan itu.
"Maafkan Mas, jika kejadian barusan membuat kamu sakit hati dan kecewa," ucap Teddy pelan. Teddy mengecup rambut Arsy yang beraroma strawberry itu dengan sangat lembut.
Arsy mengendurkan pelukannya dan menatap Teddy.
"Kayaknya Arsy harus lebih hati -hati lagi," ucap Arsy dengan wajah serius.
"Hati -hati gimana maksudnya?" tanya Teddy pean tak mengerti.
"Banyak ulet bulu, takut bulunya nempel sama Mas, dan Mas ikut gatel -gatel," ucap Arsy tetawa kecil.
"Enak aja kalau ngomong. Tubuh Mas ini sudah penuh sama bulu -bulu kamu yang bikin Mas cuma gatel -gatel sama kamu aja. Sama yang lain Mas berubah jadi landak yang menegang dan menujukkan duri -duri tajam hingga bisa menumpas semua ulet -ulet yang bergerak maju tanpa gentar," jawab Teddy tertawa keras. Ia membayangkan landak yang di dekati ulet bulu dan ulet bulu itu malah mati karena duri -duri tajam landak itu.
"Emang lucu? Biasa aja kan? Mas receh banget sih," ucap Arsy dengan wajah serius kembali.
"Ohh ... Gak ada yang lucu. Mas receh banget ya, Okey. Kenapa kamu mau?" tanya Teddy sambil mendekatkan wajahnya kepada Arsy.
"Kepepet." jawab Arsy singkat.
"Kenapa mau?" tanya Teddymengulang.
"Ekhemmm ... soalnya ...."
"Kenapa mau ..." Teddy terus memaksa bertanya seperti hendak menerka Arsy.
"Ekhhemmm itu ... Karena ...."
"Kenapa kamu mau di buntingin," ucap Teddy tertawa.
"Dih .. Becandanya om -om aneh banget. " Arsy memutar kedua bola matanya malas.
"Lha kok om -om sih? Bilang lagi om -om nanti Mas buat mendelik lagi mau?" tanay Teddy mengusap pipi Arsy dengan gemas.
"Sudah ya. gak usah muali mesum. Arsy lapar," ucap Arsy yang dengan cepat melepaskan pelukan itu dan berlari kecil menuju meja dan duduk di sfa.
Makanan ynag di bawa Bu Lina itu memang mengguggah nafsu makannya. Satu per satu di cicipinya.
"Sy ... Kok di makan?" tanya Teddy dengan wajah serius.
"Emang kenapa?" tanya Arsy langsung berhenti makan.
"Kan itu ada ulet bulunya," jawab Teddy tertawa keras.
Sontak Arsy mengambil bantal sofa dan melempar bantal sofa itu ke arah Teddy.
"KDRT." teriak Teddy keras.
"Bodo!!" jawab Arsy ketus dan ia melanjutkan menikmati smeua makanan itu.
"Pelan -pelan gak ada yang minta," ucap Teddy sambil tertawa saat melihat Arsy makan dnegan lahap seperti orang yang kelaparan.
"Mas Teddy!!! Bisa diam gak sih," ucap Asy dengan suara keras.
__ADS_1