Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
MAU ITU


__ADS_3

Teddy fokus menyetir. Ia diam karena bingung bagaimana harus menjelaskan ini semua kepada Arsy, istrinya.


"Apa yang mau kamu tahu tentang Mas?" tanay Teddy pelan.


"Semuanya. Asry ini istri Mas. Setidaknya Arsy tidak merasa paling bodoh saat orang lain berbicara tentang diri Mas, dan Arsy hanya melongi karena tidak tahu sama sekali. Ceritakan saja semuanya," titah Arsy lantang.


Arsy benar -benar sudah hilang kesabaran. Ia tadi secara tidak langsung merasa di permalukan. Jabatan dan profesi suaminya saja, Arsy tidak pernah tahu.


"Oke ... Mas akan ceritakan, siapa Mas sebenarnya. Tapi di rumah, tidak di sini," ucap Teddy pelan.


Arsy namapak menimbang. Rasanya sudah tidak sabar ingin mengetahui rahasia besar Teddy. Siapa sesungguhnya lelaki yang ia nikahi ini. Tentu bukan lelaki biasa tapi lelaki luar biasa dan sempurna, sampai kedua orang tuanya menjodohkan Arsy dengan Teddy.


"Baiklah di rumah," jawab Arsy pasrah. Ia mencoba menahan rasa ingin tahunya untuk satu jam ke depan.


Tak lama berselang, Arsy dan Teddy sudah sampai di apartemen. Mereka masuk ke dalam Arsy langsung mengganti pakaiannya dan merebahkan diri di kasur karena sudah tidak sabar ingin mendengarkan cerita Teddy.


"Sebentar ya. Mas mau ke kamar mandi dulu," ucap Teddy pelan.


"Iya ... Jangan lama -lama," jawab Arsy pelan.


Arsy memainkan ponselnya. Sesekali ia berkabar pada Bunda bella. Ia menanyakan kabar Papahnya yang kini sedang di rawat karena kondisinya tiba -tiba saja drop.


Bunda Bella berusaha menutupi keadaan sebenarnya dari Arsy tentang Papahnya. Karena Sang Papa tidak mau mengganggu Arsy yang mau fokus dengan kelulusannya.


"Chat dengan siapa?" tanya Teddy yang mulai posesif dan melirik sekilas ke arah ponsel milik Arsy.


"Sama Bunda." jawab Arsy singkat. Ia langsung menutup ponselnya karena sudah selesai bertukar kabar dengan Bunda Bella.


Ia langsung duduk dengan tumpukan bantal agar nyaman saat mendengarkan Teddy bercerita. Dengan sikap yang sudah siap sepenuh hati, malah Teddy berpikiran untuk menggoda Arsy terlebih dahulu agar suasanany lebih sedikit hangat dan tidak kaku.


"Kamu sudah siap? Mas juga sudah siap," ucap Teddy dengan senyum lebar.


"Dari tadi juga sudah siap. Ya sudah cerita aja, Arsy dengerin," jawab Arsy pelan.


"Peluk dulu dong? Katanya sudah siap?" pinta Teddy dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Peluk? Kok pake peluk segala?" tanya Arsy bingung.


"Mau peluk gak?" tanya Teddy yang sudah berada di bwah selimut.


Dengan pasrah Arsy ppun mendekat dan memeluk Teddy. Tanpa menyia -nyiakan kesempatan yang ada, Teddy pun ikut membalas pelukan itu dan mendekap Arsy dengan erat lalu mengecup keningnya dnegan lembut.


Arsy langsung mendongak ke arah Teddy dan menatap lelaki tampan yang kini telah menjadi suaminya itu.


"Kenapa? Mau di kecup tempat yang lain?" tanya Teddy sambil tertawa.


"Gak." jawab Arsy tegas. Ia berusaha melepaskan pelukan itu karena merasa tertipu. Namun, pelukan itu sangat erat dan sulit di kendurkan.


Kedua mata Arsy melotot tajam ke arah Teddy yang hanya terkekeh kecil membalas tatapan Arsy dan cup ...


Satu kecupan manis di bibir Arsy pun mendarat dengan cepat hingga membuat kedua mata Arsy terbelalak kesal dn memukul -mukul dada bidang Teddy.


"Mau lagi?" tanya Teddy lagi sambil mendekap erat tubuh mungil istri labilnya itu.


"Arsy mau denger cerita. Bukan malah Mas Teddy itu cari kesempatan dalam kesempitan," tegas Arsy kesal.


"Di kasih apa? Ada buruhnya gitu? Harus ngasih apa? Arsy beliin cokelat," ucap Arsy ketus.


"Mas gak suka cokelat," jawab Teddy masih bisa meminta apa yang ia inginkan.


"Mau apa dong?" tanya Arsy ketus.


"Ketus amat jawabnya. Istri harus lembut, gak boleh bicara dengan keras sama suami," ucap Teddy menasehati.


"Mas Teddy mau apa?" tanya ARsy mengulang pertanyaan dengan suara lembut.


"Itu," jawab Teddy sambil menatap ke arah bawah.


Arsy ikut menatap ke bawah dan ia justru bingung dengan maksud Teddy. karean bagian bawah itu tertutup selimut.


"Pijet kaki?" tanya Arsy polos.

__ADS_1


"Kok pijet sih, Sy? Itu," jawab Teddy sambil mengarahkan kedua matanya ke bawah kembali.


"Apa sih Mas? Tinggal bilang aja. Gak usah pake kode itu -itu, Arsy gak ngerti. Minta apa? Pijet atau apa?" tanya Arsy berusaha bicara dengan suara pelan dan lembut.


"Pengen nitip benih di sini. Boleh kan?" tanya Teddy sambil mengusap perut Arsy lembut.


Arsy menlan air liurnya. Ia masih mengingat betul rasa sakit, perih, pegal nyeri saat melakukan itu minggu kemarin Dan sejak itu, Arsy tidak pernah lagi melakukan hal itu dengan Teddy. Teddy sendiri kasihan saat itu, tapi jiwa kejantanannya mulai meronta -ronta menginginkan hal itu terjadi lagi.


"Mas ...." jawab Arsy yang ragu tapi juga penasaran ingin mencoba lagi. Ia hanay ingin tahu, rasa enaknya itu dimana? karena yang di rasakan kemarin jujur gak ada enak -enaknya sama sekali.


"Hemm ... Mau?" tanya Teddy pelan sambil mengecup pipi Arsy.


Kecupan -kecupan kecil dan manis itu sengaja Teddy berikan untuk meningkatkan gairah Arsy sebelum hal itu terjadi. Mungkin dneganbercerita sambil meneyentuh, mengusap dan meniup -niup agar Arsy merasa berhasrat.


"Tapi ... Kan sakit Mas. Pelan -pelan ya?" jawab Arsy yang akhirnya luluh.


Teddy mengangguk kecil dan mulai mengecup bibir Arsy dan ******* pelan bibir mungil itu. Mungkin kenikmatan itu akan selalu di mulai dari bibir lalu melebar ke arah yang lain.


Arsy melepas tautan bibir itu. Sesuai perjanjian, Teddy bercerita dahulu.


"Jangan curang. Gak boleh curi start lebih dulu. Cerita dulu," titah Arsy tegas.


"Iya cerita." jawab Teddy pelan.


Arsy mulai mendengarkan cerita Teddy. Ia juga ingin mengetahui siapa sebenarnya suminya itu.


"Mas memang seorang dokter. Lebh tepatnya hanya seorang dokter umum dan belum mengambil spesialis. Kenapa Mas mau mengajar di sekolah kamu? Itu karena kamu ada di sekola itu. Itu salah satu cara Mas untuk enjaga kamu dari hal apapun. Lalu, kenapa Mas juga bekerja di perusahaan papa kamu? Itu karena Papah yang meminta Mas untuk membantu beliau untuk mengurus perusahaan selama tidak Papah. Lalu? Kenapa Mas tidak bekerja sebagai dokter? Mas sedang membangun sebuah rumah sakit, tapi belum selesai. Kemarin Mas ada klinik juga sempat buka praktek, tapi karena Mas sendiri sibuk, klinik juga gak kepegang. Jleas?" tanya Teddy pelan.


"Terus kalau Arsy sudah lulus? Mas masih mengajar?" tanya Arsy pelan.


Teddy pun menggelengkan kepalanya pelan.


"Gak Sy. Kalau kamu lulus, Mas juga mengundurkan diri dari sekolah. Karena rumah sakit juga hampir selesai, dan Mas akan bekerja di sana sekalian ambil spesialis," ucap Teddy pelan.


"Rumah sakit itu milik kamu, Mas?' tanya Arsy yang masih bingung dengan alur kehidupan Teddy yang agak rumit.

__ADS_1


Teddy mengangguk kecil, tanda mengiyakan ucapan Arsy.


__ADS_2