Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
BINGUNG


__ADS_3

Siang ini Mama Tina sudah menangis di pelukan Papa Baron di ruang tengah. Sudah satu jam ini, tangisnya belum juga mereda karena kabar buruk tentang pesawat yang di tumpangi Teddy mengalami kecelakaan di perairan.


"Sudahlah Mah. Jangan nangis terus, karena dengan menangis gak akan mengubah keadaan," ucap Papah Baron pelan.


Mam Tina dan Papa Baron di telepon dari pihak maskapai, bahwa tiga jam yang lalu, pesawat jatuh ke dasar laut karena mesn mati dan tak dapat terbang. Jumlah korban sedang di cari. Berita itu juga di benarkan dengan berita di televisi luar negeri yang mulai ricuh dengan pencarian korban sampai di dasar laut.


"Arsy Pah ... Arsy jangan sampai tahu kabar duka ini. Mama gak mau, Arsy stres dan membuat kandungannya bermasalah," ucap Maama Tina memohon.


"Kita harus jujur, Ma. Karena jangan sampai Arsy mengetahuinya dari orang lain, atau ia tahu dengan sendirinya. Jangan sampai kita membohonginya untuk kedua kalinya. Cukup, Teddy berbohong soal kepergiannya, hanya untuk menjaga perasaan Arsy agar tidak iri karena Teddy menemui kedua orang tuanya," ucap Papah Baron pelan.


"Apa Mama telepon Arsy sekarang?" tanya Mama Tina pelan meminta petunjuk.


Papa Baron mengangguk kecil, "Lebih baik begitu. Teleponlah. Ajak bicara pelan -pelan agar Arsy mengerti dan tidak emosi."


Rasa hati Mama Tina sebenarnya tak karuan. Ia tidak mau membuat Arsy semakin stres dan terpuruk dan berujung bermasalah dengan kandungannya.


"Ah ... Mama gak tega mau bilang ini Pah," ucap Mama Tina masih sesegukan.

__ADS_1


Hatinya juga sedih, anak semata wayangnya harus menjadi korban dalam kecelakaan pesawat saat ingin menggapai semua mimpi -mimpinya itu.


"Kalau belum siap ya sudah," ucap Papa Baron pelan.


Mama Tina meltakkan ponselnya. Kedua matanya terus menatap layar televisi untuk memantau nasib Teddy, anak tunggalnya.


"Papa mau kesana. Mau lihat keadaan Teddy. Papah ikhlas jika anak Papah di temukan dalam keadaan hidup atau tak bernyawa lagi. Setidaknya Papah ikut bertanggungjawab mencari anak Papah," ucap Papah Baron mengambil keputusan bulat.


"Mama ikut, Pah. Teddy juga kan anak Mama. Kleuar dari rahim Mama," ucap Mama Tina dengan suara lantang.


Wajah Mama Tina sendu. Ia dilema, ia sangat ingin menemani Papah Baron mencari keberadaan anak semata wayangnya. Tapi balik lagi, Mama Tina juga harus bertanggung jawab menjaga dan merawat Arsy yang sedang mengandung cucunya.


"Iya sudah. Tapi, Papah harus hati -hati ya. Jaga kesehatan di sana. Jangan lupa beri kabr ke Mama," titah Mama Tina pelan.


Sore ini juga Papah Baron berangkat mneuju lokasi terjadinya kecelakaan dengan di temani rekannya sekaligus asistennya di kantor.


Setidaknya kalau membawa teman, ada orang yang bisa di ajak diskusi dan bercerita agar ada masukan untuk sebuah solusi sebelum mengambil keputusan penting nantinya.

__ADS_1


Skip ...


Arsy tertidur pulas setelah kenyang meminum susu dan menikmati cemilan siangnya. Seharusnya siang ini latihan drama pun, sepertinya Arsy masih nyenyak dalam mimpi. Wulan pun tk berani menganggunya. Sesuai anjuran dokter Effendy, Arsy memang harus banyak beristirahat.


Wulan juga tiduran di samping Arsy sambil menonton televisi. Ia menggonta ganti channel siaran hingga i menatap layar televisi dengan muka panik.


Berita luar negeri tentang kecelakaan pesawat. Wulan menatap nama -nama korban yang ada di dalam pesawat ia membaca nam Teddy dan Bismo.


"Hah? Pak Teddy? Kecelakaan? Kenapa di dalam pesawat itu ada Bismo juga? Ada apa sebenarnya?" tanya Wulan pelan dalam hati.


Wulan menatap ke arah Arsy yang masih pulas tanpa beban. Ia tak berani membangunkan Arsy dan memberi tahukan nberita buruk berujung duka.


"Aku harus gimana? Bagaimana aku menyampaikan berita buruk ini kepada Arsy?" ucapnya lirih.


Televisi pun ia matikan dan Wulan berjalan ke adpur untuk minum. Jantungnya terpcu dengan keras. Ini berita hebat yang membuatnya juga sesak, apalagi berita ini sampai ke telinga Arsy.


Tapi sayangnya Arsy mengetahui semuanya. Ia mendengar berita itu saat kedua matanya terpejam. Ia merasa seperti tak percaya dengan berita buruk itu.

__ADS_1


__ADS_2