Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
HARI INI PENUH KEJUTAN


__ADS_3

Perlahan tangan Arsy pun di kendurkan dan di tarik ke belakang. Arsy tak mungkin salah. Atau ia yang berbohong.


Arsy langsung berjalan mengitari Teddy dan kini berdiri tepat di depan Teddy yang saama skelai tak melihat Arsy. Ia hanya merasakan Arsy bergerak dan berjalan di depannya saat ini.


"Aku Arsy, istrimu," Arsy masih terus mencoba meyakinkana Teddy.


Arsy menarik tangan Teddy dan menatap jari jemari Teddy yang polos semua tanpa ada cincin di sana. Tadi jelas seklai cincin pernikahan itu ada. Tidak mungkin Arsy nge -halu sedemikian parah dan mengira orang alin adalah suaminya.


Perlakuan Arsy membuat Teddy semakin yakin. Dia Arsy, istrinya yang selama ini selalu muncul dalam mimpi dan menari -nari di pikirannya.


Teddy mecoba kuat. Ia tak sanggup lagi berada di depan Arsy. Ia ingin menghilang dari hadapa istrinya dan berjalan pulang tanpa melihat air mata itu turun dari kedua matanya.


"Maaf Nona. Saya harus pulang," ucap Teddy pelan sambil berjalan membawa tongkatnya.


Dadanya makin sesak dan campur aduk rasanya. Teddy benar -benar meninggalkan Arsy begitu saja di taman itu.

__ADS_1


Arsy sendiri tak bisa menahan tangisnya. Ia yakin itu Teddy. Kenapa suaminya itu malah menjauhinya. Kenapa suaminya sama sekali tak mengenalinya.


Jarak mereka semakin jauh. Teddy pasrah dengan keadaannya saat ini. Ia tak akan mendekati Arsy jika kedua matanya belum bisa melihat lagi seperti dulu. Ia kan menjadi sosok orang lain yang berpura -pura lupa ingatan. Ia tidak ingin membuat malu keluarganya dan mencoreng nama baik mertuanya dengan memiliki menantu yang buta.


Tangan Arsy terkepal erta dan Arsy sengaja berteriak dengan keras dan lantang hingga membuat pengunjung taman pun menatap ke arahnya dengan senyuman lebar. Di pikirnya mereka sedang membuat konten sedih yang akan di upload di media sosial. Tapi, ini drama sungguhan tanpa ada rekayasa.


"Mas ... Teddy ...." suara Arsy yang begitu keras dnegan nada suara tinggi hingga mencapai delapan oktaf mampun membuat Teddy sedetik meghentikan langkahnya. Lalu, ia berjalan lagi dan mengabaikan suara Arsy yang malahan membuatnya sakit dan kecewa.


Tidak ada respon. Tidak ada jawaban. Tidak ada reaksi. Apa mungkin, betul katanya, Arsy salah orang. Tapi ... mana mungkin tingkat kemiripannya benar -benar mencapai sembilan puluh sembilan persen.


Tubuh Arsy luruh begitu saja tjatuh kebali di plesteran semen taman.


Kedua kakinya terasa lemas dan tak kuat menopang tubuhya yang mulai terlihat montok di semua sisinya.


Dua tangan membantunya berdiri tanpa ada suara. Arsy pun menoleh ke arah orang yang sedang membantunya dan menatap lekat.

__ADS_1


Hari ini penuh dengan kejutan. Kedua matanya makin menatap lekat Bismo, mantan kekasihnya yang berusaha tersenyum lebar menatap Arsy yang terlihat kaget menatap diirnya.


"Kamu ... Kamu kok bisa di sini Mo?" tanya Arsy pelan. Ia lupa dengan ucapan Wulan waktu itu yang bicara bahwa Bismo berada dalam satu pesawat yang sama dengan Teddy.


Bismo hanya tertawa pelan dan membantu Arsy berjalan menuju kursi taman. keduanya duduk bersantai sambil menatap air mancur taman yang begitu indah. Hal ini sebenarnya yang ingin Arsy lakukan bersama Teddy tadi.


"Mo ... Kamu belum jawab pertanyaan Arsy. Malah senyam senyum gak jelas. Kamu kenapa bisa di sini ?" tanyaArsy mengulang kembali pertanyaannya tadi.


"Hemm ... Kira -kira kenapa?" tanya Bismo pelan sambil menatap air manur yang jatuh ke bawah menetes di kolam.


Bismo melihat adegan tadi yang begitu meyayat hatinya. Rasa iba kepada Arsy yang sedang mengandung harus di tinggalkan karena sebuah kecelakaan. Memang tidak merenggut nyawa tapi ... Dengan kebutaan itu, membuat semuanya semakin menjauh dan lama kelamaan akan runyam.


Sambil mnegangkat bahunya sedikit ke atas. Arsy pun dengan ketus menjawab, " Mana Arsy tahu?"


Bismo hanya terkekeh pelan. Ingin rasanya mengulang masa -masa indah dulu saat mereka dekat dan akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai kekasih. Seharusnya tahun ini, mereka akan bersama berjuang di negara impian mereka ini. Mereka akan menggapai cita -cita merek untuk menjadi seorang dokter. Mereka sudah berencana untuk menikah dan sama -sama memiliki profesi yang sama.

__ADS_1


Namun, semua itu hanyalah sebuah angan -angan yang tak akan pernah mungkin lagi terwujud. Semuanya hanya tinggal kenanga dan semuanya harus di kubur rapat -rapat agar Bismo tak lagi mencintai Arsy. Sulit rasanya melupaan cinta pertama, walaupun katanya cinta putih abu itu hanya sekedar cinta monyet yang buat asik -asikkan saja. Tapi, justru itu yang memiliki banyak tantangan, memiliki banyak moment kenangan yang tak akan pernah bisa mereka lupakan seumur hidup.


__ADS_2