Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
DIA DATANG LAGI


__ADS_3

Teddy sudah berada di dalam apartemen milik Bismo. Sebagai laki -laki hatinya juga seperti hello kitty. Melow sudh pasti, ingin berteriak juga sudah pasti, ingin menangis juga sudah pasti. Tapi ... Teddy gak bisa meluapkan semuanya itu seperti orang -orang apda umumnya. Teddy memilih duudk bersandar di sofa ruang tengah. Ia meletakkan tongkatnya dan melepaskan kaca matanya.


Bayangan wajah Arsy kembali menari dalam otaknya. Pelukan hangat itu dengan perut Arsy yang semakin membuncit, membuat Teddy yakin, wanita itu istrinya.


Teddy mengepalkan satu tangan kanannya dan memukul keras ke arah sofa yang sedang di dudukinya. Ia meluapkan rasa kesal dan kecewanya.


Hari sudah larut malam. Bismo belum juga datang. Teddy mengenal lelaki muda itu dengan nama Is.


Malam ini mungkin tidurnya tidak akan nyenyak, Teddy ingin kembali lagi ke taman itu dan mengingat seusatu. Ia melepas cincin nikahnya tadi. Ia merogoh kembali kantong celananya dan memakai kembali cincin itu.


"Mana bisa aku melupakan kamu, Sy. Kalau setiap detak jantungku selalu terucap namamu di hatiku. Mana bisa aku melepasmu begitu saja, kalau kita berdua memang sudah menyatu. Aku dan kamu yang telah bersatu menjadi kita, dan kini kita akan menjadi kami," ucap Tedy lirih. Tubuhnya sudah di rebahkan di atas sofa yang empuk. Ia tak pernah menyangkakalau lelaki yang telah membantunya adalah rivalnya sendiri.


Skip ...


Bismo tak pulang. Setelah berpisah di depan taman itu dengan Arsy. Ia memilih balik dan berjalan mengikuti Arsy hingga gadis yang ia cintai itu sampai di apartemennya dengan selamat. Bismo hanya ingin tahu dimana kedua orang tua Arsy itu tinggal.


Bismo pun malah pergi ke pantai mencari ketenangan di sana. Ia melempar batu kerikil ke pantai. Hanya itu yang bi amenghiburnya saat ini.


Kedua orang taunya pun kurang memperhatikan apa yang menjadi keinginannya.


Bismo berdiri dan berteriak keras ke arah pantai. Rasanya ingin di lepaskan semua beban itu.


"Arghhhhhh ...." teriak Bismo dengan suara yang sangat keras sekali.


Bismo mengambil batu kerikil yang agak besar dan melemparkannya ke pantai hingga terdengar bunyi blupp ... dari dalam air.


Angin dingin malam itu begitu menusuk hingga kulitnya menembus tulang -tulang di tubuhnya, rasanya linu sekali. Bulu -bulu halus di sekitar tangannya pun ikut berdiri merinding keterpa angin malam.


Bayangan Arsy kembali menari tepat di kelopak matanya yang membuka lebar menatap pantai yang gelap dan berwarna hitam. Hanya ada pantulan cahaya lampu dan cahaya bulan yang terpantul di atas air.


"Kenapa? Kenapa kamu harus datang di saat aku mulai ingin melupakan kamu. Ini bisa membuatku egois untuk merebut kembali cinta pertamaku. Apalagi, Pak Tedy sudah buta," ucap Bismo denean suara keras dan lantang bicara sendiri berkeluh kesah tentang hidupnya.


Hidup Bismo terasa terhenti. Bukan hanya cita -citanya saja, tapi juga cintanya kepada Arsy.


"Jadi kau ada di sini? Benar dugaanku, kau Bismo kan?" ucap Teddy dari arah belakang yang sejak tadi mendengar omelan Bismo yang merutuki kebodohannya sendiri.


Bismo pun menoleh ke arah Teddy dengan terkejut. Ia pikir ia sendiri di sana. Ia pikir, Teddy tidak akan pernah bisa menemukannya. Ia pikir Teddy tidak akan mungkin datang ke tempat ini.


"Pak Teddy? Untuk apa Bapak kesini? Ingin memata -matai aku?" tanya Bismo dengan suara ketus.


"Gak sama sekali, Mo. Saya kesini karena suntuk berada di kamar setiap hari. Saya mencoba mencari udara segar, dan saya ingat pantai," ucap Teddy pelan.


Ia sendiri tak pernah menyangka bisa bertemu dengan Bismo di tempat ini dan harus mendengar semua curhatan atas kecewanya Bismo terhadap dirinya sendiri.


Teddy berjalan semakin ke depan dan mendekati bibir pantai. Ia meraskan aura sedih, kecewa melalui hembusan napas Bismo yag terdengar keras di hembuskan melalui hidungnya.


"Kau benci denganku, Mo?" tanay Teddy pelan menatap ke arah depan.


Walaupun ia tidak bisa melihat. Teddy bisa membayangkan seolah -olah ia sedang berada di depa pantai yang begitu indah dnegna obak dan gelombang pelan menggapi bibir pantai.

__ADS_1


"Kau membenciku, Mo?" tanya Teddy mengulang pertanyaannya kepada Bismo. Ia menunggu jawaban Bismo yang tak kunjung menjawab.


Lagi -lagi Bismo hanya diam menatap Teddy yang sudah tak sempuran seperti dulu. Bisakah aku menggantikan posisi yang sangat tepat ini? Batin Bismo di dalam hatinya tanpa di ucapkan.


"Kau pasti sedang berpikir ingin menggantikan posisiku untuk mendapatkan hati RAys kembali. Betul?" tanya Teddy semakin menuduh benar.


Ia tahu apa yang sedang di pikirkan Bismo saat ini. Hanya Arsy .... Arsy dan Arsy ...


"Kalau ternyata tebakan Bapak salah?" ucap Bismo seolah menantang.


"Oh ya? Lalu untuk apa menyesali sudah bertemu Arsy tadi?" tanyaTeddy pelan kepada Biso.


Deg ...


Bismo tertegun dengan ucapan Teddy baru saja. Kenapa lelaki buta in tahu, ia menemui Arsy tadi sore tanpa di sengaja.


"Gak bisa jawab? Bingung mau jawab apa?" tanya Teddy pelan.


Bismo hanya menghembuskan napasnya kasar. Ia makin benci dengan gaya Teddy yang di anggap sok itu.


"Bisa gak sih? Gak usah campuri hidup saya, Pak? Saya sudah baik tidak menjadikan Bapak gembel, dan saya ajak Bapak tinggal bersama saya ...." ucapan Bismo langsung terhenti saat Teddy ikut menjawab dengan ucapan nada kears.


"Kamu gak ikhlas? Kamu menyesal? Lalu kenapa kamu beri saya tumpangan? Untuk apa? Untuk apa!! Jawab? Untuk mendapatkan Arsy kembali? Agar saya mampu melepas istri saya dan bahagia bersama kamu? Karena saya cacat? Karena saya buta? Gitu? Begitu maksd kamu!!" teriak Teddy semakin keras berbicara.


Bismo hanya bisa menatap tajam ke arah wajah Tedy dnegan mata memerah karena sengit. Ia kesal sekali. Perbuatan baiknya malah di anggap sebagai tujuan penghancur hubungannya.


"Kenapa tidak?" tanya Teddy semakin menyudutkan Bismo.


"Bapak sedang menyudutkan saya? Bapak ingin sombong dan berkata saya bukan level idaman untuk ARsy? Seperti itu?" tanya Bismo semakin kesal level tinggi.


Ha ha ha ... tawa Teddy pun terdengar renyah seperti mnegejek. Padahal ia hanya sedang menyembunyikan kekecewaannya dan mempertahankan istrinya agar tidak terlepas dan termiliki oleh orang lain sekali pun itu Bismo, mantan kekasih istrinya.


"Say tidak pernah bilang kalau kamu bukan levl idamannya Arsy. Seharusnya kamu gak berpikir jauh seperti itu," ucap Teddy pelan.


"Lalu? Karena saa masih kecil? Jadi tak punya masa depan seperti Bapak? Takut Arsy tak bahagia?" tanya Bismo makin ketus.


"Saya juga gak bilang begitu. Saya tahu cita -cita kamu menjadi seorang dokter. Gaji dokter itu cukup untuk membahagiakan seoarng istri seperti Arsy. Tapi satu hal yang kamu lupakan Bismo," ucap Teddy pelan.


"Apa? Apa yang saya lupakan? Bahkan meminta restu pun sudah saya lakukan," ucap Bimso kesal. Ia merasa terpancing emosinya.


"Kamu lupa akan takdir," jawab Teddy santai.


Jlebb ... Seperti tertusuk pisau tajam, sakitnya sampai ngilu dan pedih. Rasa perihnya juga terasa seperti tersayat -sayat hanya saja tidak berdarah.


Kata -kata itu membuat Bismo sadar bahwa memang cinta itu terlalu buta membuat kita semakin gila terobsebsi untuk memiliki. Jiwa muda Bismo sebagai anak milenial pun selalu tertantang dan memacu insiden kecil dan berakhir pada kebodohan atas kekonyolannya sendiri.


Giliran Bismo yang tertawa keras. Ia tak menyangka kata Takdir itu telah membuatanya sakit hati, kecewa dan .... Ingin mati berdiri rasanya.


"Sudah bisa tertawa lepas?" tanya Teddy pelan.

__ADS_1


"Adakah yang melarang?" jawab Bismo ketus.


"Sama sekali tidak ada. Kalau kamu bisa tertawa, berarti kamu sadar," ucap Teddy pelan.


"Boleh saya minta waktu?" tanay Bismo pelan.


"Watu untuk?" tanya Teddy pelan.


"Saya ingin mendatangi Arsy ke apartemen orang tuanya," ucap Bismo pelan.


"Lalu?" tanya Teddy mulai emosi. Ia tak bisa diam saja, melihat istrinya berjalan bersama dengan Arsy, istrinya.


"Satu hari saja. Saya ingin jalan bersamanya, setelah itu ...." ucapan Bismo begitu pelan dan menunduk. Kedua tangannya ia masukkan ke adalm kantong celananya dan mengangkat wajahnya menatap patulan cahaya bulan yang terlihat seperti emas.


"Setelah itu?" tanya Teddy pelan.


"Setelah itu saya akan bicara jujur tentang Bapak pada Arsy. Agar kalian bisa berkumpul bersama," ucap Bismo pelan.


"Saya tidak ingin menemui Arsy dalam keadaan seperti ini. Jika saya masih begini, tentu kehadiran saya malah menambah beban Arsy. Saya hanya ingin melihat Arsy bahagia, bisa melahirkan anak kami dengan selamat, mendapatkan nilai yang baik dan bisa kuliah di tempat yang ia inginkan untuk menggapai semua cita -citanya," ucap Teddy pelan.


"Jadi? Saya gak di ijinin?" tanay Bismo pelan.


"gak. Saya masih SAH sumainya," ucap Teddy tgas.


Bismo mengangguk kecil dan menarik napas dalam.


"Sudah larut malam, Pak. Kita pulang saja," ucap Bismo pelan.


Ia sengaja tak membuat maslah ini menjadi panjang.


"Pulanglah, saya masih ingin di isni. saya sudah masak dan saya letakkan di meja makan," ucap Teddy pelan.


"Baiklah. terima kasih," jawab Bismo pelan.


Bismo berpamitan dan undur diri untuk kembali ke apartemennya. Sedangkan Teddy masih berdiri di bibir pantai.


Ia masih dilema, ingin jujur atau tidak kepada Arsy.


"Kamu berapa lama di sini?" tanya Teddy pada dirinya sendri. Ia tersenyum geli sendiri mengingat kejadian sore tadi/


"ANdaikan bisa terulang lagi. Aku gak akan melepaskan kamu untuk kdua kalinya, Sy. Aku pasti akan jujur sama kamu, akalau aku selamat, dan aku ...." ucapan lirihnya terhenti.


Satu tepukan pelan di bahunya begitu membuat Teddy terkejut.


"Kamu siapa?" tanya Teddy dengan suara tegas. ia kaget bukan main. Sedang melamun, sedang berpikir dan sedang bicara sendiri, lalu, ada orang menepuk pundaknya pelan.


"Kamu laki -laki yang tadi ada di taman kan?" ucap seseorang dnegan suara pelan.


Suara itu ... Argh ... Tidak mungkin ia datang.

__ADS_1


__ADS_2