Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
CARI MASALAH SAJA


__ADS_3

"Tidak ada yang hamil kok? Kalian salah dengar," ucap Wulan berbohong.


"Hemm ... Tapi, Arsy tuh sekarang beda, lebih berisi badannya, apalagi semenjak pakai pakaian panjang dan berhijab, seperti sedang menutupi sesuatu," ucap salah satu temas se -angkatannya.


Arsy hanya diam sambil memegangin kotak makan yang sebenarnya tadi ingin sekali ia makan dnegan segera. Tapi, ucapan beberapa temannya itu membuat Arsy terpuruk. Bukan hanya karena kondisinya yang sdenag hamil, ia sellau teringat dengan Teddy, suaminya sekaligus guru biologinya yang menjadi incaran banyak siswi di sekolah ini.


"Loe udah tunangan, Sy? Apa udah kawin? Jangan -jangan desas desus dulu loe kawin itu bener dan loe pasti sekarang lagi hamil," ucap salah seorang teman se -angkatan Arsy.


BRAK!!!


"Enak aja kalau ngomong!! Jaga tuh mulut!! Jangan sampai tuh bibir gue iket pakai karet gelang!!" teriak Wulan dengan suara keras dan membentak semua teman -temana se -angkatannya yang masih saja nyinyir.


Mereka sudah lulus, dan tinggal melaksanakan acara perpisahan. Seharusnya tidak perlu lagi ada curiga, kesal, perseteruan dan iri.


"Kok, malah loe yang nyolot Lan? Di bayar berapa loe buat tutup mulut soal kehamilan Arsy. Gue yakin, temen loe yang satu ini lagi hamil. Gue bisa buktikan sekarang atau loe lepas hijab loe, dan perut loe yang makin buncit akan jelas terlihat," ucap salah satu teman yang masih ingin berdebat dengan RAsy dan wulan.

__ADS_1


"Hah!! Loe pada gila semua. Ayo, Sy bawa makanan loe semuanya. Kita pergi saja dari sini," ucap Wulan yang langsung menarik tangan Arsy dan membawa sahabatnya menjauh dari teman -teman gilanya.


Mereka berjalan menuju halaman belakang sekolah dan Wulan menarik napas dalam. Ia sebenarnya sudah malas melakukan hal ini, berteriak, emmbentak dan emosian. Tapi, semua ini demi membela Arsy.


"Maaf ya, Lan. Gara -gara Arsy, kamu jadi ikut emosi ebgini," ucp Arsy lirih dengan nada memelas.


"Udah loe itu harus mikirin loe sendiri. Jangan diam saja. Apa urusan mereka loe udah kawin dan sekarng hamil, toh loe udah lulus," ucap Wulan kesal.


Keduanya berjalan melwati lapanagan sekolah meniju halaman blakang dan menunggu giliran di panggil untuk tanda tangan dan cap tiga jari.


BYUR ...


"Argh ...." teriak Arsy keras yang kaget dengan guyuran itu di tambah dengan semprotan dnegan menggunakan selang dari atas lapangan.


Paper bag Arsy terlempar karena dorongan air yang terasa sakit menghujam tubuhnya.

__ADS_1


"Hadap belakang Sy. Awas perut loe," teriak Wulan muali emosi.


Wulan mendongakkan kepalanya ke arah atas dan menatap tajam satu per satu teman se -angkatannya itu.


"Berhenti gak loe?!!" teriak Wulan dari bawah.


"Tuh lihat perut temen loe, besar kan? Masih mau ngelak kalau Arsy hamil?" teriak salah seorang yang paling nyinyir. Mereka mengambil gambar ARsy yang sedang berusaha menutupi perutnya. Tubuh dan pakaiannya basah kuyup, jadi jelas seklai lekukan tubuh dan perut Arsy yang buncit karena sedang mengandung.


"Bukan urusan loe!!" teriak Wulan kesal.


Wulan kembali menarik Arsy dengan paksa untuk mencari tempat yang aman.


"Pada gila ya!! Kenapa juga mesti ngurusin orang," ucap Wulan kesal.


Baru melangkah menuju ruang drama untuk meminjam kostum. Suara langkah dari atas yang turun dengan cepat dan ....

__ADS_1


BRUK!!


"Arghhhh .... Sakit!!"


__ADS_2