Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
ARSY SAKIT


__ADS_3

Arsy sudah bersiap diri. Sudah rapi dengan pakaian seragam putih abu -nya. Ia merasa memang perutnya mulai terasa penuh sesak. Apa mungkin ini akibat karena ia sedang hamil, atua memang perasaannya saja yang terlalu lebay karena sedang mengandung.


Ia bercermin di meja rias menatap wajahnya yang sembab karena hampir sepagi ini Arsy terus menangis. Ia pun berjalan keluar kamarnya menuju keluar apartemennya.


"Kamu gak makan, Sy?" tanya Teddy pelan sambil menyuap srapan paginya ke dalam mulutnya.


"Gak. Mau sarapan di sekolah saja," jawabnya santai. Tas ranselnya pun langsung di gamblok di punggungnya.


"Minum susunya dulu. Kasihan anak kita," titah Teddy pelan.


"Gak," jawab Arsy ketus. Ia terus berjan menuju pintu keluar.


"Arsy!! Berhenti!! Duduk di sini!! Minum susunya dan makan sarapan pagimu. Sayangi anakmu. Kamu tidak perlu pedulikan Mas. Tapi pedli pada kandunganmu," ucap Teddy marah.

__ADS_1


Langkah Arsy pun terhenti. Ia mengeratkan kepalan tangannya. Lalu berbalik. Semarahnya Arsy, ia tetap masih bisa berpikir bijak. Ia kembali ke arah Teddy dan duduk di meja makan berhadapan dengan Teddy yang menatapnya tajam.


Arsy menunduk sambil mengambil gelas di atas meja allu mencoba meminum susu yang memang berbau kurang sedap membuat perutnya sedikit mual.


"Minum!! Gak usah di cium -cium!! Susu hamil ya begitu. tapi sehat dan menyehatkan Ibu hamil dan bayinya. Jadi gak perlu cium -cium dan ngendus -ngendus kayak kucing begitu," ucap Teddy makin tegas.


Arsy langsung menutup hidungnya dengan memencet jari telunjuk dan jempolnya agar aroma tak enak dari zat besi yang terkandung di susu itu tak menguap.


Glek ... glek ...


Teddy terus menatap Arsy tajam agar istriny amenghabiskan susu hamilnya. Ia hanya perlu memikirkan Arsy dan bayinya saat ini di kala semua urusannya sedang di landa permasalahan.


Dug ... Suara gelas kosong di letakkan RAys dengan keras oleh rays di atas meja makannya.

__ADS_1


"Sudah habis. Arsy mau berangkat sekarang," ucap Arsy dnegan nada kesal.


"Belum sarapan. makan dulu. Mas sudah masak," ucap Teddy pelan. Ia sengaja masih duudk manis di meja agar RAsy juga mengikuti aturannya. Teddy harus bisa menjaga Arsy dan anaknya sekarang.


"Arsy gak mau makan," ucap Arsy keas.


Teddy langsung berdiri dan berbalik ke arah rak piring untuk mengambik kotak makan dan emmindahkan nasi goreng buatannya untuk Arsy makan di jam istirahat atau pagi ini. Ia tidak isa memaksa Arsy untuk terus makan sesuai keinginannya. Ia tahu setiap ibu hamil akan mengalami kondisi berbeda.


"Gak. arsy mual, Mas. Arsy pusing," ucap Arsy memelankan suaranya.


"Kalau pusing gak usah sekolah. Tidur aja di rumah. Gak ada ulangan harian kan?" tanya Teddy pelan kepada ARsy. Ia memegang kening Arsy yang memang agak hangat dan memegang pipi Arsy dan memang tubuhnya sedikit hangat.


Hembusan napas rasy begitu memburu. Tubuhnya terasa meriang tak karuan.

__ADS_1


"Kamu dengar Mas bicara?" tanya Teddy pelan sambul mengankat dagu Arsy yang terlihat sedikit pucat.


__ADS_2