
Kini malah Bismo dan Arsy saling mendiamkan. Arsy yang sengaja duduk dekat Bismo agar ada yang peduli dengannya, tapi kenyataannya malah tidak demikian. Bismo malah mneyuruh Arsy untuk tetap bersama Teddy.
Bis pun berhenti dan berada di kawasan salah satu restaurant untuk makan malam rombongan study tour sekolah Arsy.
"Ayuk turun kita makan," titah Bismo pelan.
"Duluan aja. Lagi males," jawab Arsy ketus.
"Ayo ... Aku gak mau dapat masalah dari Pak Teddy, Sy," ucap Bismo memelas.
"Masalah apa sih? Kan kita gak ngapa -ngapain?" ucap Arsy keras hingga beberapa teman se -kelasnya yang belum turun dari bis pun menatap ke ara Bismo dan Arsy yang sednag berdebat.
"Cium aja Mo. Cewek galak gitu di cium juga luluh. Mumpung sepi nih," ucap Nanda tertawa keras.
Arsy menata Nanda dengan tajm.
"Jaga mulut lu!! Ngomong gak pake mikir. Gw sama Bismo udah gak ada hubungan lagi. Jadi gak ada tuh perlakuan macam tuh. Lagi pula gw dari dulu pacaran sama Bismo, dia baik dan gak kayak kalia mesum dan banyak nafsu!!" ucap Arsy kesal.
__ADS_1
Nanda tak terima dengan ucapan Arsy. Nanda pun langsung mendekati Arsy. Menatap tajam ke arah Arsy yang berada di balik kursi bis.
"Sudah Nda. Arsy perempuan, jangan cari ribut sama perempuan," ucap Bismo memeluk Nanda dan mecoba menenagkan temannya agar tak terus ingin berdebat dnegan Arsy. Nanda terkenal kejam, ia tak segan memukul kepada siapa pun yang mengganggunya dan merusak nama baiknya.
Tatapan Nanda beralih ke arah Bismo dan menatap nyalang sang ketua OSIS yang sudah mau lengser itu.
"Lu bela dia? Biar gw habisin dia. Cewek belagu, sok cantik, sok pinter ternyata selir gurunya sendiri. Jangan -jangan dia juga ada main sama gurunya sendiri. Dasar sok alim!! Murahan!!" teriak Nanda kasar.
"Ehh ... Anjing lu ya? Ngatain apa lu barusan ke gw? Murahan? Lu tuh yang gigolo," teriak Arsy yang semakin menjadi. Ia tersulut emosi dengan ucapan Nanda yang menuduh dan menfitnahnya sebagai selir gurunya sendiri.
Bismo berada di keduanya dan berusa menjadi penengah.
Nanda sudah panas, begitu pun dengan Arsy yang jelas hormonnya sedang tidak stabil. Ia marah luar biasa. Wajahnya mulai memerah, di ikuti kedua matanya melotot dan sedikit berair karena menahan emosinya.
"Sudah Sy!! Kamu pergi dari sini!!" teriak Bismo keras menyuruh Arsy pergi sebelum Nanda berbuat nekat.
"Bajingan lu Mo!! Ngapain juga lu bela cewek begitu!!" teriak Nanda keras lalu memukul Bismo yang ada di depannya yang menghalanginya menyentuh Arsy.
__ADS_1
BUGH ... Suara pukulan keras tepat mengenai peut Bismo hingga lelaki itu merasakan kesakitan luar biasa. Bismo memegang perutnya yang sangat sakit dan tetap mengahalangi nanda untuk menyentuh Arsy. Nanda semakin geram dan nekat.
"Pergi Sy!! Lewat pintu belakang!!" titah Bismo mengulnag. Bismo tidak mau sesuatu terjadi pada Arsy.
"Bedebah kamu, Mo!!" teriak Nanda dengan muka bengis dan memukul Bismo kembali. Kali ini pukulannya tepat di bagian dada Bismo.
"Argh ... Sudah Nanda!! Arsy hanya bercanda tadi," ucap Arsy yang mulai cemas dan ketakutan.
"Ap lu bilang? Lu bilang bercanda? Gampang banget lu ngomong? Minta maaf sama gw, sekarang!! Sujud depan gw!! Dan lu harus mau gw suruh -suruh selama satu bulan ke depan!! Paham? Lakukan sekarang?" ucap Nanda ker.
"Apa? Gila lu? Cuma masalh gini aja? Kalau minta maaf duluan gw mau. Gw salah, gw minta maaf," ucap Arsy pelan sambil mengulurkan tangannya sebagai ucapan permintaan maafnya.
Bismo berpegangan pada jok bis dan merasakan sakit pada dada dan perutnya. Ia masih sempat melihat Arsy meminta maaf dan mengulurkan tangannya kepada Nanda. Tapi, pandangan Bismo berkunang dan terjatuh begitu saja di lantai bis.
"Bismo!!" teriak Arsy kaget tiba -tiba melihat Bismo jatuh.
Nanda yang melihat kejadian itu pun langsung pergi meninggalkan Arsy sendiri agar tak di salahkan.
__ADS_1
"Nanda? Lu harus tanggung jawab. Bangsat," teriak Arsy saat melihat Bismo suda terkapar tak berdaya di lantai bis.