
Sejak kematian Bundanya, Wulan ikut tinggal bersama Arsy. Wulan di bri iji oleh Mama Tindan Papa Baron untuk tinggal dan menempati kamar tamu yang ada di bawah.
Tiga hari menuju acara perpisahan. Pagi ini, Arsy akan berangkat ke sekolah untuk tanda tangan ijasah dan cap tiga jari pada berkas kelulusa.
Lagi pula hari ini adalah hari teraakhir, Arsy ke sekolah dan melaksanakan gladi bersih untuk acara perpisahan lusa.
"Selamat pagi, Papa, Mama, wulan," ucap Arsy dengan riang.
"Lagi senang? Ceria aja wajahnya," tanya Mama Tina pelan.
Pagi ini wajah Arsy memang terlihat cantik dan berseri. Mungkin efek Ibu hamil yang tetap semangat dan berbahagia.
"Siapa yang naruh paket di atas," ucap Arsy pelan dan menikmati roti gandum dan susu hangat yang sudah ada di meja.
Kali ini, ia lebih cuek dengan seragamnya yang mulai terlihat sesak lagi. Seragam putih abu dengan hijab putih panjang untuk menutupi perutnya yang mulai membuncit.
"Paket?" tanaya Mama Tina pelan. Mama Tina langsung menggelengkan kepalanya pelan dan menatap ke arah Wulan dan suaminya yang juga menatap Arsy bingung.
__ADS_1
"Kok malah pada lihat -lihatan. Iya paket besar warnanya pink. Isinya gaun cantik banget," ucap Arsy takjub saat terbangun tadi pagi melihat kotak itu dan membukany karena penasaran.
Isinya gaun cantik dan ukurannya memang pas dengan tubuhnya saat ini yang sedang hamil dengan beberapa hiasan di bagian gaun itu. Ada pesan di sana.
'Pakai di sat hari bahagia kamu.'
"Gak ada yang kirim paket, Arsy," ucap Wulan pelan.
'Kita cuma ber -empat lho. Ehh ... ber -lima sama si Mbok. Mama ya? Pasti Mama," tuduh Arsy pelan.
"Iya Tante. Kita memang mau pergi ke mall cari baju sama make up yang cocok. Kok, loe udah punya gaun sih, Sy," ucap Wulan pelan.
"Ya mana Arsy tahu. Arsy juga cuma di kasih, tapi gak tahu wujud yang ngasihnya," ucap Arsy geram juga lama -lama di teror orang misterius begini.
Beberapa hari ini memang Arsy mengalami hal yang aneh dan ganjal. Bukan hanya kado, atau tulisan sayang atau makanan yang di kirimkan dan di tujukan pada dirinya. Setiap malam, saat Arsy tertidur seperti ada yang menatapnya dan melihat wajahnya.
Ini ilusi, halusinasi atau hanya mimpi, atau mungkin ia begitu rindu pada Teddy, suaminya.
__ADS_1
"Ma ... Ada kabar soal Mas Teddy? Dari Bunda atau Papah," tanya Arsy pelan.
"Mama gak tahu. kata Bunda pernah mampir, tapi langsung pergi lagi. Semua orang juga mencari keberadaan Teddy. Mama bersyukur sekali, tahu kalau anak Mama masih hidup, walaupun memang tak bisa melihat lagi. Setidaknya ada harapan lain yang bisa membuatnya bangkit kalau kita menyemangatinya. Kalau orang sednag terpuruk bukan malah meninggalkan," ucap mama Tina menasehati.
Ucapan Mama Tina seolah menyentil Arsy yang saat itu meninggalakn Teddy. Jujur, kejadian itu sama sekali tidak di ketahui oleh kedua mertuanya. Mungkin kala tahu, apa yang dilakukan Arsy pada Teddy, bisa -bisa Mama Tina dan Papah Baron akan marah besar dan tidak akan memaafkan Arsy selamanya.
Wulan menatap Arsy yang langsung memucat.
'Kamu gak apa -apa, Arsy?" tanay Papa Baron yang jelas melihat keanehan pada Arsy.
"Gak apa -apa Pah. Cuma agak mual aja," jawab Arsy berbohong.
"Nanti sore kita ke dokter Effendy, gimana?" tanya Mama Tina pelan.
'Ekhemmm ... Nanti saja setelah selesai acar perpisahan sebelum ke Lndon," ucap Arsy pelan.
Acara sarapan pagi itu sedikit berubah karena Arsy merasa bersalah dan tak enak pada Mama dan Papahnya. Kebaikan merek seolah ia balas dengan keburukan hanya karena tak terima dengan penjelasan Teddy.
__ADS_1