
Teddy masih menatap Arsy dengan lekat dan sendu. Lelaki itu tak tega ingin menyampaikan berita duka ini.
"Mas ... Minta maaf soal apa? Jangan setengah -setengah kalau bicara? Apa ada sesuatu yang terjadi? Anaknya lelaki semua? Gak apa -apa Mas. Lelaki semua juga yang penting sehat dan sempurna. Itu sudah cukup. Walaupun Arsy pengen punya anak sepasang, biar Arsy ada temannya," ucap Arsy penuh keyakinan.
Teddy menggelengkan kepalanya pelan sekali hingga Arsy tak menyadari gelengan kepala Teddy yang menjawab penuh kepastian.
"Janji sama Mas," ucap Teddy kembali menuai pertanyaan dalama diir Arsy yang semakin penasaran.
"Janji apa? Coba ngomong yang jelas dan runtut," titah arsy pada Teddy.
Teddy menarik napas dalam sambil memejamkan kedua matanya dan kemudian di hembuskan perlahan.
"A -anak kita gak ada," ucap Teddy berusaha tetap tenang dan tegar sambil menatap Arsy yang tak paham dengan ucapan Teddy.
__ADS_1
"Siapa yang gak ada?" tanya Arsy masih bingung.
"Anak kita sayang. Bayi kembar kita. Mereka tidak selamat," ucap Teddy dengan suara bergetar.
Arsy tak menjawab ucapan Teddy. Arsy masih bingung dan mencerna dengan baik ucapan Teddy baru saja.
"Sy ... Arsy ...." panggil Teddy sambil mengguncangkan tubuh Arsy yang mendadak diam membeku.
Raut wajah Arsy begitu datar dengan kedua mata yang melotot ke arah depan. Penjelasan Teddy memang di pahami dengan baik oleh Arsy tapi seolah semua itu bukanlah suatu fakta seperti mimpi rasanya.
Arsy merenung dan memejamkan keduanya matanya sambil mengusap perutnya yang rata dan masih terasa sakit.
"Arsy ... Sayang ... Kamu dengar Mas, kan? Sayang ... Tolong bicara dong. Jangan diam saja," ucap Teddy yang begitu bingung dengan sikap Arsy yang tiba -tiba saja diam.
__ADS_1
Tidak ada air mata yang turun dari kedua mata Arsy. Itu yang membuat Teddy semakin terluka. Teddy tahu, Arsy pasti sangat kecewa dan sedih. Namun kesedihannya tersembunyi dan tak bisa di luapkan.
"Pergi Mas," ucap Arsy lantang. Suaranya terdengar parau dan serak. Teddy tahu, istrinya juga mengalami hal yanga sama sepertinya. Sakit yang mneusuk -nusuk di dalam dada.
"Sayang ... Buka mata kamu. Kita bicara dulu. Jangan seperti ini," ucap Teddy lirih berbisik.
"PERGI!! Pergi Mas!!" teriak Arsy denagn suara semakin keras hingga menggema di seluruh ruangan. tanga Arsy juga menepis tangan Teddy yang sedang menyentuhnya.
Teddy menegakkan tubuhnya dan sungguh mearsa bersalah atas masalah ini.
Mama Teddy menghampiri Teddy dan menarik putranya untuk menjauhi Arsy terlebih dahulu.
"Teddy ... Biarkan Arsy menenangkan dirinya terlebih dahulu. Ini bukan soal mudah. Kamu harus tegar dan sabar emnghadapi Arsy yang pastinya akan labil jiwanya. Kehilangan itu bukan perkara hanya mengikhlaskan saja. Tapi tentu saja ada trauma yang harus di di obati secara perlahan," ucap Mama Teddy dengan suara lembut menasihati.
__ADS_1
"Sabar ya Nak Teddy. Bunda minta maaf kalau sikap Arsy jadi begini," ucap Bunda Teddy yang merasa serba salah.
"Tidak apa Bunda. Ini adalah hal wajar. Teddy harus kembali ke Kampus untuk mengurus ini semua. Teddy harus ambil sikap kepada orang yang telah sengaja menabrak Arsy hingga terjatuh tadi," ucap Teddy geram sambil emngeratkan ekpalan tangannya.