Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
PERCAYA DEJAVU


__ADS_3

Arsy sudah berada di kamar. Ia sedang membersihkan tubuhnya di kamar. Dan ia begitu terkejut saat membuka pakaian dalamnya. Ada bercak darah di sana. Tidak hanya itu ada lendir juga di pakaian dalam milik Arsy.


"Ini kenapa?" tanya Arsy pada dirinya sendiri. Ia hanya terduduk di kloset yang tertutup sambil mengucurkan air shower ke tubuh bagian bawahnya. Perutnya masih terasa sakit, walaupun tidak sesakit tadi. Tapi tiba -tiba tubuhnya terasa sangat lemas sekali. Tubuhnya di sandarkan


kan di sandaran kloset. Kepala sedikit pening melihat bercak darah dan lendir yang kental itu.


"Semoga tidak ada apa -apa," ucap Arsy lirih.


Arsy pun mencuci ****** ******** di astafel. Ia tidak mau, Teddy atau mertuanya melihat pakaian dalamnya ini dan menanyai sesuatu yang tak bisa di jawabnya.


Setelah selesai aktivitasanya di kamar mandi. Arsy pun merebahkana tubuhnya yang masih terasa lemas di tempat tidur. Ia melihat satu koper besar milik Teddy yang sudah rapi di dekat lemari. Rasanya setelah ini akan terasa sunyi sekali. Tapi, ada dan tidk ada Teddy juga Arsy tetap bisa menjalani aktivitasnya dengan baik.


Pernikahannya memang masih baru, masih banyak ribut, salah paham, salah tafsir dan kadang rasa cemburu buta membuat akal sehat pun sedikit menghilang dan bawaanya selalu marah dan marah saja.


Kedua mata Arsy mulai menutu. Rasa kantuk itu tiba -tiba saja melanda. Rasa capek, pegal dan sedikit ngilu di bawah perut pun mulai tak berasa karena Arsy mulai melayang ke alam mimpi. Siang ini, ia cukup banyak makan. Entah kenapa, semua masakan Mama Tina tadi membuatnya sedikit kalap sampai dua kali nambah nasi putih dan mencicipi semua lauk pauk yang ada di meja. Mama Tina hanya mengulum senyum, ia bahagia jika menantunya menyukai masakannya dn mau makan banyak agar bayi di dalam kandungannya sehat.


Pikirannya mulai terbang ke awan. Kedua matanya yang terpejam melihat dunia lain tak lain alam mimpi. Saat ini Arsy seprti berada di atas awan putih dengan pakaian serba putih dan cantik.


"Mama ... Selamatkan aku ...." teriakan seoarang anak kecil begitu keras menggema di telingannya. Anak kecil itu seolah ingin mendekat ke arah Arsy dan memita untuk di gendong. Namun, Arsy tak sempat menggapai tangan mungil itu, tiba -tiba saja angin bertiup kencang dan menghempaskan semuanya. Mereka terpisah dan tak terlihat lagi kemana arahnya. Semuanya tertutup kabut tebal. Arsy hanya berteriak keras memanggil anak kecil itu dengan sebutan "UTUN ... Di mana kamu?"


Mimpi buruk itu membuat seluruh tubuh Arsy mengejang hebat. Keringat dingin pun mulai nampak di sekitar dahinya dan suara ngigau dari bibirnya semakin keras terucap.

__ADS_1


Tiupan Teddy di telinga Arsy yang sudah menggeleng -gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meracau tak jelas. Teddy sudah menepuk -nepuk pipi RAsy pelan dan mengusap keringat di dahinya dnegan telapak tangannya.


"Sy ... Arsy sayang ... Kamu kenapa, Sy. Bangun Sy," ucap Teddy lirih terus mengulang ucapannya.


Tiba -tiba kedua mata Arsy pun membuka lebar dan menatap langit -langit kamaranya. Napasnya memburu dan degub jantungnya berdetak tak beraturan. dadanya naik turun mengatur ritme napas yang belum stabil. Kedua mata indah itu pun menoleh ke arah Teddy saat mendengar suara lembut dari suaminya.


"Kamu kenapa, Sayang? Mimpi buruk kah?" tanya Teddy pelan sambil mengusap pipi ARsy dengan penuh kasih sayang.


Teddy ikut berbaring di sebelah ARsy dengan tubuh setengah duduk dan tangan melingkar di atas kepala Arsy. Di kecup kening Arsy dengan lembut seolah Teddy sedang mentransfer energi positif untuk Arsy. Tangan kanannya menggenggam taga Arsy dan sesekali mengusap pelan perut Arsy pelan dengan gerakan memutar serah jarum jam.


Arsy memejamkan kedua matanya lagi. Ia berusaha tenang dan tak ngos -ngosan seperti habis lari di kejar anjing herder yang hendak memangsanya.


"Mas ... Arsy takut," ucap Arsy tiba -tiba memegang erat kemeja Teddy dan mengeratkan pegangannya dan memeluk Teddy di dada bidang lelaki tampan itu.


"Kamu kenapa, Sayang. Coba ceritakan pada Mas? Ada masalah di sekolah? Atau ada masalah sama teman -teman kamu? Atau ada masalah di teater?" tanya Teddy mencoba menebak.


Arsy tak menjawab. Tubuhnya malah bergetar hebat, Arsy menangis dalam pelukan Teddy. Teddy mencoba menenangkan dan tak bertanya lagi. Ia menunggu Arsy sampai benar -benar siap. Tak biasanya Arsy seperti ini. Terliha manja dan begitu ingin di perhatikan oleh Teddy.


"Kamu sudah makan, Sayang? Atau mau es krim? Biar Mas belikan?" tanya Teddy pelan. Teddy jadi mulai ragu untuk pergi jika keadaan Arsy seperti ini.


Arsy masih diam dalam pelukannya dan tak bergerak. Tak ada jawaban dari bahasa tubuhnya.

__ADS_1


Tubuh Arsy mulai merenggang dan mulai mengendurkan pelukannya di tubuh Teddy.


"Arsy takut, Mas," ucap Arsy kemudia mendongakkan kepalanya menatap suaminya yang begitu sabar menghadapi Arsy.


"Takut apa? Ada Mas di sini, ada Mama, ada Papah juga. Apa yang kamu takuti, sayang," tanya Teddy lembut sambil merapikan anak rambut Arsy yang tak rapih dan mengusap pelan rambut panjang Arsy dengan penuh kasih sayang.


Bayangan mimpi tadi terlihat seperti nyata. Arsy seperti benar -benar merasakan sesuatu yang dahsyat akan terjadi pada dirinya. Suara anak kecil itu terus terngiang di telinganya sampai saat ini. Teriakan polos meminta tolong dan memanggilnya Mama.


Arsy memejamkan kedua matanya. Mimpi buruk itu tak bisa di hempaskan jauh dari pikirannya. Anak kecilitu memang tak berwujud jelas wajahnya. Tapi bayangan putih anak itu jelas datang menghampiri Arsy.


"Sy ... Kok diam? Ada apa sebenarnya? Jangan buat Mas khawatir, Sayang. Mas kan mau pergi, kalau begini dan melihatmu seperti ini, yang ada Mas malah kacau pikirannya nanti," ucap Teddy pelan.


Kepergiannya kali ini adalah sesuatu yang sangat mendadk dan urgent sekali. Teddy bilangnya akan ke luar kota. Padahal dia harus ke London untuk urusan rumah sakitnya. Kalau Arsy tahu, ia akan ke London, tentu ia meminta untuk ikut. Sedangkan tugas sekolahnya hanya tinggal dua bulan saja. Toh, liburan saat valentine sudah di persiapkan tiket pesawat ke London untuk dua hari berlibur di sana.


"Mas ...." panggil Arsy lirih. Ia ingin mencoba bercerita pada suaminya soal mimpi tadi.


"Iya?" jawab Teddy pelan sambil mengusap pipi basah Arsy karena air mata.


"Mas percaya dengan dejavu?" tanya Arsy tiba -tiba.


Tatpannya seolah meminta jawaban secepatnya. Arsy ingin tahu dan ingin lebih meyakinkan. Apakah dejavu itu ada atau tidak.

__ADS_1


Pandangan Teddy langsung beralih kepada dua mata indah yang masih basah. mata yang begitu sendu dengan wajah sedikit pucat.


__ADS_2