
Teddy masih berada di kantin kantor polisi bersama Ayah Bismo. Berulang kali, Ayah Bismo meminta maaf atas tindakan Bismo yang hampir menyerempet pada tindakan kriminal.
"Jadi bagaimana? Anak saya bisa di bebaskan?" tanya Ayah Bismo pelan.
Teddy menarik naas dalam. Bukan tidak mau membebaskan, tapi Teddy takut kejadian seperti ini terulang lagi. Dan ini bisa menyulitkan bagi dirinya sendiri dan Arsy.
"Pilihannya hanya ada satu, bebas dan Bismo harus pindah sekolah. Hanay itu yang bisa saya berikan pada anda, Pak. Klaau setuju, maka saya harus berinteraksi langsung dengan Bismo," ucap Teddy lantang.
"Oke. Saya akan bawa anak saya jauh dari sini untuk melupakan Arsy," tegas Ayah Bismo meyakinkan.
"Baiklah. Kita temui Bismo saekarang," ucap Tedy pelan.
Kedua pria itu sudah beada di ruang tunggu besuk. Mereka menunggu sosok Bismo yang sudah meringkuk di sel tahanan anak -anak.
"Ayah ... Pak Teddy," sapa Bismo sopan.
"Maafkan saya harus melakukan tindakan tegas ini. Kamu tahu? Saya juga tidak mau berakhir seperti ini. Tapi, kamu selalu mengusik Arsy dan berusaha mencari celah untuk memperpanjang masalah. Saya akan bebaskan kamu hari ini juga dengan satu syarat," ucap Teddy tegas.
Bismo pun mengangkat wajahnya. mendengar kata bebas adalah hal yang ia harapkan. Hatinya begitu pedih berada di dalam sel bersama anak -anak nakal lainnya yang memang melakukan tindakan kriminal dan keji. Sedangkan Bismo hanya mempertahankan cintanya saja. Ia merasa ini semua tak adil baginya.
"Apa itu Pak? Bismo akan lakukan semuanya," ucap Bismo terbata.
__ADS_1
"Kamu minta maaf pada Arsy dan kamu pergi untuk selamanya. Pindah dari sekolah yang sekarang," titah Teddy tegas.
"Iya Mo. Ayah akan bawa kamu ke kota lain. Kamu lanjutkan di sana, setelah itu kamu lanjutkan cita -cita kamu kuliah di kedokteran. Di sana kamu pasti akan menemukan perempuan lain yang lebih baik dari Arsy," ucap Ayah Bismo menasehati.
"Gimana. Kalau kamu setuju. Pakaian orange ini akan di lepas sekarang juga," ucap Teddy tegas.
Bismo mengangguk pasrah. Ia harus mulai merelakan Arsy untuk selama -lamanya. Semoga memang benar, di tempat lain ia bisa menemukan Arsy -Arsy lain dnegan nama yang berbeda tapi dengan sifat yang di miliki oleh Arsy.
Rasa nyaman itu ternyata menutup segalanya. Menutup mata, menutup hati, menutup rasa cinta juga. Semuanya terasa berhenti dan tak ingin berpindah ke lain hati.
"Saya setuju. Saya siap, bila harus meminta maaf dnegan Arsy dan mengundurkan diri dari sekolah lalu pindah ke sekolah lain demi menjauhi RAsy. Saya minta maaf kepada Pak Teddy juga, karena saya sudah mengganggu hubungan Bapak dan Arsy. Awalnya saya kira ini semua hanya candaan, tpi rasa cemburu saya melebihi batas wajar dan saya tidak mau tersakiti seperti ini," ucap Bismo jujur.
"But ... The Winner is you, Mr. Teddy," ucap Bismo lemah.
Teddy pun tertawa keras sambil merangkul Bismo. Biar bagaimanapun juga, Bismo adalah muridnya. Apapun yang ia lakukan hanyalah sebuah penunjukkan jati diri.
"Kamu lebih hebat dari saya. Kamu masih muda, masa depan kamu masih terbentang luas seperti hamparan sawah yang sedang menguning. Cita -cit kamu bisa setinggi langit kalau kamu mau berusaha sekeras dan semampu kamu. Bulatkan tekad dan kumpulkan niat. Semua itu pengendaliannya ada di diri kamu sendiri," ucap Teddy menasehati.
Teddy hanya ingin menjadi sosok guru yang bisa di jadikan teman atau sahabat. Bahkan tempat curhat juga, sama seperti ia masih menjabat sebagai guru BP>
"Iya Pak. Saya paham maksud Bapak. Saya coba untuk mulai fokus pada cita -cita saya. Mungkin memang pikiran dan hati saya terlalu di butakan oleh cinta dan rasa kecewa telah tersakiti. Semoga Bapak dan Arsy selalu bahagia, menjadi pasangan yang harmonis bisa membawa rumah tangganya menjadi sakinah, mawadah dan warahmah," ucap Bismo pelan.
__ADS_1
Sesak seklai rasanya bicra bijak seperti itu. Seperti ada beberapa jarum pentul yang menusuk -nusuk di bagian dadanya. Celeki, celekit rasanya.
"Ini baru anak Ayah. Jagoan Ayah. Kamu kemana saja selama ini. Ayah gak pernah melarang kamu pacaran. Kamu selalu meyakinkan Ayah bahwa gaya pacaran kamu dn Arsy berbeda, tapi nyatanya? Kamu yang terpuruk oleh keadaan. Setelah ini kita kedealer mobil, kamu pilih mobil yang kamu suka, dengan cattatan, pindah sekolah dan lupakan ARsy. Biarkan Arsy juga bahagia dengan guru kamu in," ucap Ayah Bismo menyemangati.
"Oke. Mungkin kita telah mengambil keputusan yang sangat penting. Kita sudah mengambil langkah terbaik untuk kebaikan kita bersama. Seki lagi, ini bukan Bapak lakukan karena Bapak benci kamu. Itu sama seklai tidak benar. Bapak hanya ingin kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih mandiri, lebih bijak, lebih dewasa, dan lebih segala -galanya. Ingat, Kamu itu ketua OSIS yang sukses membawa nama sekolah denan harum dan baik," ucap Teddy mengingatkan.
Sosok Bismo memang sellau di kaitkan dengan ketampanannya. Tapiia juga memiliki segudang prestasi yang tak kalah keren dan mumpuni. Prestasi akademiknya selalu baik walaupun tidak terbaik. Minimal selalu masuk jajaran lima besar teratas setelah Arsy. Ia punya wawasan yang cukup luas dan pemahaman bahasa yang cukup baik sehingga bisa mengaplikasikan kegiatan positif untuk teman -temannya sebagai peningkatan karya kreativitas. Ada beberapa lomba yang di ikuti dan selalu menang di bawah mentor Bismo.
"Kalau saya hebat. Arsy gak akan ninggalin saya, Pak. Makanya Arsy pilih Bapak, karen aBapak lebih sempurna dari saya. Saa mau belajar banyak dari Bapak, biar makin terasah dan semakin sempurna. Semoga saja masih ada satu orang yang tertinggal di dunia yang mirip dengan Arsy," ucap Bismo memohon.
"Masih saja," ucap Teddy menyonyor kepala Bismo pelan.
"Ya Pak. Namanya juga usaha, asal bukan Arsynya Bapak kan?" ucap Bismo pelan.
Hari ini satu per satu masalah pun terselesaikan. Bismo sudah keluar dari sel tahanan. Ayah Bismo pun cukup menerima dengan hukuman untuk anaknya demi kebaikan asal nama baiknya tidak tercemar.
"Jangan lupa besok kamu ke sekolah. Langsung menghadap saya. Kita pakai sound di runag OSIS. Saya tidak mau teman -teman kamu menangisi kepergian kamu. Kita buat acara yang cukup menarik dan berkesan. Maafkan saya, Mo. Saya harus lakukan ini," ucap Teddy tegas.
"Iya Pak. Saya paham sekali. Saya juga minta maaf sudah emmbuat Bapak kecewa akan hal ini," jawab Bsimo tegas.
Keduanya saling bersalaman dan berpelukan. Menerima semuanya dengan ikhlas dan memaafkan yang sudah terjadi dengan penuh ketulusan.
__ADS_1