Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
SUKA GAK JELAS


__ADS_3

Ponsel Teddy masih dalam genggamannya. Entah kenapa sore ini hatinya terus gelisah. Teddy pergi begitu saja tanpa memberitahukan kemana akan pergi. Bertemu saja tadi seperti tidak mengenalnya, hanya menatap lekat namun sama sekali tak menyapa atau bertegur sapa. Sampai -sampai, Ivana pun menanyakan Teddy pada dirinya.


Tepat pukul tiga sore. Arsy pun pergi begitu saja dari raungan kerja Teddy tanpa memberikan informasi apapun kepada Riana, sekertaris Teddy.


Arsy prgi ke taman bermain, ia mencari kesenangan sendiri untuk melepaskan rasa lelahnya yang masih terus membuntutinya. Masih lengkap dengan seragam putih abunya, Arsy pergi menyusuri taman bermain itu.


Indera penciuamnnya mulai bergerak mencari -cari jajanan yang mengugah selera lidahnya.


Arsy mulai kalap membeli berbagai jajanan kurang sehat tapi sungguh nikmat bagai surga dunia. Mulai dari cilor, cilung, sosis jumbo, papeda, jasuke, cimol, sampai tahu bulat semua di jelajahi dan di beli oleh Arsy. Tidak lupa, minuman es cokelat dengan toping meses dan parutan keju serta choco chip. Satu lagi, gula -gula kapas karakter juga tidak ketinggalan di belinya.

__ADS_1


Kursi besi taman bermain menghadap ke arah air mancur dengan lampu kelap kelip di setiap jam dengan musikal seperti air mancur berjoget, mirip seperti air mancur yang sering di lihat Arsy kalau sedang pergi ke Plaza Indonesia dulu bersama Bunda Bella.


Arsy sudah duduk bersandar dan meletakkan tas ranselnya. Nafsu makan Arsy akhir -akhir ini snagat tinggi sekali. Ia mulai memmbuka satu per satu jajanan yang telah di belinya. Mulai dari tahu bulat dadakan yang masih empuk dan hangat di tambah bumbu asin balado menambah nikmat cita rasa tahu itu sendiri.


Tatapannya kosong ke depan sambil mengunyah makanan kedua, yaitu sosis besar. Sesekali ia menyeka air matanya yang tiba -tiba saja turun ke pipinya. padahal, Arsy sedang tidak ingin menangis.


"Di cari ternyata ada di sini. Kenapa sih? Haruspergi tanpa pamit. Ponsel di matikan semua? Untung saja, Mas punya GPS khusus jadi tahu kamu berada," ucap Teddy tiba -tiba datang dan duduk di samping Arsy sambil menghapus air mata Arsy yang masih ada di pipi chubby itu. Arsy hanya menatap Teddy lekat. Senyumnya belum terbit, Arsy masih takjub dnegan hadirnya Teddy tiba -tiba di hari yang mulai menggelap ini.


"Arghh ... Mas Teddy? Kok bisa ada di sini sih?" tanya Arsy penasaran.

__ADS_1


"Karena hati kita sudah menyatu. Pikiran kita pun satu tujuan. Tidak sulit mencari kamu dalam kegalauan anak milenial," ucap Teddy tertawa.


"Cih ... Bisa gitu," ucap Arsy kesa karena tak mendapatkan jawababn yang di inginkan. Di kira bakal di romantisin, di bucinin dengan kata -kata wajar dan normal sebagai pasangan.


"Kamu gak percaya?" tanya Teddy menatap Arsy.


Arsy hanya mengunyah sisa sosis yang masih tersisa di tusukan satenya dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Aneh. Tadi aja pura -pura gak kenal. Malu? Apa emang gak mau di publikasikan?" tanya Arsy memancing permasalahan.

__ADS_1


"Malu? Malu apa? Mas sama sekali gak malu," ucap Teddy pelan.


"Malu kalau punya pasangan masih pakai seragam putih abu. Inget!! Mas udah titip sesuatu nih di rahim Arsy. Jadi kalau macem -macem, Arsy mau ke rumah Mama. Mau curhat sama Mama dan Papa," gertak Arsy mulai emosi. Maklum ibu hamil suka gk jelas kalau marah.


__ADS_2