
Arsy terdiam. Merasakan nyamannya dalam pelukan Teddy. Ternyata lelaki dewasa itu membuat dirinya nyaman dan di emong seperti ini. Pantas saja, Bunda Bella dan Papah Arsy begitu memuja dan mengakui kebaikan Teddy.
Keduanya terbawa suasana sampai lupa kalau mereka melakukan itu di tempat umum. Banyak orang melihat dan menatap mereka sambil senyum. Bukannya malu tapi mereka malah cuek dengan perasaan yangsdeang membelenggu mereka berdua.
Klurukkk ... Perut Arsy berbunyi keras. Kejadian begini yang membuat semua buyar dan menjadi cnggung satu sama lain. Arsy malu bukan main. Tentu saja rasa gengsinya lebih besar dari pada harus meminta makan di saat seperti ini.
Teddy pun mengendurkan pelukannya. Ia ingin melihat istri labilnya yang tersiksa karena lapar dan tak berani meminta makan. Keduanya saling berpandangan. Tangan Arsy masih berada di pinggang Teddy. Dengan cepat ia melepaskan. Dirinya kenapa harus terbawa suasana.
Wajah Arsy nampak sangat lucu dan lugu. Semakin gemas rasannya Teddy ingin menerkam pipinya yang sedikit chubby itu.
"Maaf Pak. Arsy lapar," ucap Arsy jujur dengan wajah menunduk. Rasanya malu banget sampai ketahuan perutnya berbunyi.
"Arsy. Berhenti panggil saya dengan sebutan Pak. Kita ini sudah suami istri. Lalu yng kedua, kalau kamu memang ada sesuatu yang kamu inginkan atau sesuatu yang kamu butuhkan. Kamu harus bilang pada saya. Karena kamu sudah enjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Kamu paham?" ucap Teddy pelan.
Tangan Teddymengankat dagu Arsy agar wajah cantik istrinya itu menatap wajahnya.
"Kalau saya lagi bicara. Biasakan tatap kedua mata saya. Saya ini suami kamu bukan patung," ucap Teddy menasehati.
"I -iya Pak. Emmm anu, Arsy harus panggil apa?" tanya Arsy pelan. Ia ingung harus memanggil Teddy dengan sebutan apa.
Teddy melirik ke sekeliling tempat itu. Semakin lama tempat itu semakin ramai. Banyak orang yang meihat kemesraan mereka dan Teddy sedikit malu. Ia tetap orang yang mengabdi pada adat ketimuran. Tentu tidak di ajarkan bermesraan di tempat umum, walaupun keduanya sudah SAH menjadi suami dan istri.
Tangan Teddy pun di turunkan dari pipi Arsy dn segera menggandeng Arsy menuju pintu keluar ke arah parkiran mobil. Arsy menatap ekilah ke arah tangannya yang di genggam erat. Ada kenyamanan di sana. Arsy hanya diam dan menurut. Degup jantungnya pun ikut berlari -larian seolah tak ingin tertangkap dan tidak bisa tenang.
Dengan gerakan cepat, Teddy pun langsung membukakan pintu mobil untuk Arsy. Arsy pun masuk ke dalam mobil dan duduk dengan manis. Teddy menutup pintu mobil di bagian samping dan berputar masuk ke dalam mobil dari bagian samping lainnya. Lalu memakai sabuk penganman dan menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanya Teddy pelan. Teddy mengambil kacamata dari dashboard dan memakai kacamata hitam itu.
Arsy melirik ke arah Teddy. Memang benar -benar tampan hingga Arsy pun tak sadar berdecak kagum menatap wajah tampan Teddy dari arah samping.
"Kok bengong. Mau makan apa?" tanya Teddy kembali.
"Emm anu ... Itu Pak. Makan fried chicken aja," jawab Arsy asal dengan gugup.
Baru kali ini Arsy merasakan kegugupan pada Teddy. Padahal biasanya tidak masalah, bahkan Arsy selalu menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Teddy.
"Oke. Kita makan fried chicken. Lalu, Kira -kira kamu mau manggil saya dengan sebutan apa?" tanya Teddy kebali mengulang pertanyaan saat di Bandara tadi.
Pertanyaan ini belum sempat di jawab oleh Arsy tadi. Karena tempat yang tidak memungkinkna. Sekarang mereka hanya berdua saja di dalam mobil. Jadi tidak mungkin ada yang tahu dan Arsy bebas mengungkapkan apapun semuanya tanpa terkecuali.
Arsy sendiri tidak tahu, perasaan apa yang sebenarnya ada pada dirinya terhadap Teddy. Kadang merasa kagum dan merasa nyaman. Tapi kadang Arsy kesal, benci dan malas melihat Teddy.
Teddy hanya mengangguk anggukan kepalanya dengan paham. Ia tidak bisa memaksakkan kehendaknya terhadap Arsy. Bukankah lebih baikdiam dan mengalah dan memang bukan berarti kalah. Teddy ingin mengikuti alurnya saja, supaya Arsy bisa menerima dirinya dengan ikhlas bukan keterpaksaan.
"Oke. Gimana baiknya saja. Saya sendiri tidak mau memaksa kamu hanya untuk memperdebatkan maslah panggilan dan itu tidak membuat kamu nyaman. Lakukan saja apa yang menurut kamu baik dan membuat kamu nyaman. Itu saja," ucap Teddy menasehati.
Saat ini bagi Teddy bukan waktu yang tepat mempermasalahkan panggilan. Biarkan semuanya berjalan sesuai keinginan Arsy. Toh, Kalau Arsy merasa apa yang di lakukannya itu tidak baik pasti akan mengganti dnegan sendirinya.
Keduanya kembali diam. Suasana hening di dalm mobil akan terus terasa jika keduanya tak ada yang mau mengalah dan memulai pembicaraan. Hingga setengah jam kemudian, mobil Teddy sudah berada di halaman parkir restoran cepat saji sesuai dengan keinginan Arsy tadi.
"Sy ... Arsy, sudah sampai," ucap Teddy lembut sambil mematikan mesin mobilnya.
__ADS_1
Arsy mengucek kedua matanya dan membuka perlahan. Jelas erasa mobil itu sudah berhenti da tak bergerak lagi. Kedua mata Arsy menatap ke sekeliling melalui kaca depan. Ia sudah berada di salah satu restauran cpat saji favoritnya.
"Yuk kita turun. Makan dulu. Setelah ini, kita pulang," ucap Teddy pelan.
Arsy hanya mengangguk pelan dan turun dari mobil itu. Wajah cantik Arsy masih terlihat natural dan alami. Dengan santai dan cueknya, Arsy berjalan lebih dulu dan meninggalkan Teddy di belakang.
"Mau pesan apa?" tanya Teddy pelan saat Arsy mulai memandang ke arah layar depan kasir yang menampilkan semua menu yang di jual di restauran cepat saji itu.
"Arsy mau nasi putih, ayam gorengnya dua, mocacino float, kentang goreng, dan hamburger, satu lagi air mineral. Jangan lupa es krim sundae satu sama puding rasa coklatnya satu," ucap Arsy memesan menu favoritnya. Arsy biasa menikmati makanan sebanyak itu, tapi khusus menu itu saja. Lainnya tidak.
Kedua mata Teddy menatap tak percaya. teddy memang baru kali ini pergi dnegan Arsy dan makan bersam. Jujur, ia belum tahu karakter Arsy, kesukaan Arsy itu apa. Walaupun beberapa hal sudah ia ketahui banyak dari Bunda Bella.
"Kenapa begitu lihatnya? Gak bawa duit? Sini biar Arsy saja yang bayar," ucap Arsy semakin kesal.
Tangan Teddy langsung menghalangi ARsy dan dengan tegas Teddy berkata, " Tidak. Biar saya yang bayar. Ini bukan masalah uang. Tapi, pesanan kamu harus bnar -benar di habiskan dan jangan sampai kamau sisakan," ucap Teddy menasehati.
Arsy menunjukkan jempol kanannya tanda oke.
"Jangan khawatir kalau itu. Arsy ini doyan makn, dan selalu habis kalau makan. Arsy beri tahu sama Bapa. Bapak yang jangan kaget kalau lihat Arsy makan banyk dan menghabiskan makanan apapun,"ucap Arsy mengingatkan.
"Saya malah senang. Itu tandanya saya kerja cari uang tidak sia -sia. Karena istri saya doyan makan dan mau makan dari hasil jerih payah saya. Ini sesuatu sekali lho, Sy," ucap Teddy engan senyum penuh kemenangan.
Teddy pun memesan banyak makanan untuk Arsy sesuai pesanannya tadi dan untuk dirinya sendiri. Setelah ini mereka akan pulang dan mungkin akan beristirahat.
Arsy sudah duduk di salah satu sudut ruangan. Duduk dengan manis sambil menatap ke arah luar. Kedua matanya mengerjap pelan dan menatap fokus ke arah depan. Kali ini ia tidak percaya dengan apa yang di lakukan seseorang yang ia lihat dari balik kaca resatauran cepat saji tersebut.
__ADS_1