
Hening, sunyi, senyap, gelap, hanya dingin AC yag masih terasa itu pun sudah menjadi hangat. Entah kemana rasa dingin itu menghilang.
Teddy memang bergairah tapi masih tetap bisa mengontrol dirinya sendiri agar tidak terlihat sangat bernafsu dan terburu -buru. Sedangkan Arsy yang masih polos pun masih terlihat ragu dan sedikit takut.
Tautan kedua bibir mereka pun terlepas. Arsy merasa mulai kehabisan oksigen.
"Pak ...." panggil Arsy pelan.
"Ya ...." jawab Teddy dengan napas yang masih memburu.
"Arsy kebelet pipis. Ini rasanya kayak ngompol gitu," ucap Arsy polos.
Kedua mata Teddy pun lekat ke arah Arsy. Dalam hati Teddy hanya berpikir, apa mungkin itu ...
"Mau di antar pipis?" tanya Teddy lirih. Rasanya dunia berhenti kalau sedang memuncak pada gairah dan di hentikan, walaupun tidak sampai membuka gembok. Tapi, begini saja, Arsy sudah ada kemajuan.
"Iya," cicit Arsy manja.
Setelah ke kamar mandi. Keduanya kembali naik ke atas kasur. Arsy dengan santaimya merebahkan tubuhnya kembali di kasur dengan menyelimuti tubuhnya dengan selimut bulu.
"Sy ...." panggil Teddy yang juga sudah naik ke kasu dan tidur di sebelah Arsy.
"Hemm ... Kenapa Pak?" tanya Arsy yang pura -pura bodoh. Minta di antar ke kamar mandi pun itu juga salah satu akal -akalan Arsy agar semuanay tidak berlanjut.
Arsy masih trauma dan takut dengan cerita tetangganya dulu kepada Bunda. Katanya melakukan itu terasa sakitnya sampai satu minggu lebih dan jalannya pasti terlihat renggang tidak rapat lagi. Belum lagi resiko hamil.
"Ini tadi bukan mimpi kan?" tanya Teddy yang sempat mersa di awang -awang. Sayangnya semua ini tak di tuntaskan. Tentu akan membuat dirinya pusing dan penat. Mungkin laki -laki berbeda dengan perempuan. Perempuan akan lebih mudah melupakan apa yang baru saja terjadi dalam keadaan nanggung seperti tadi. Tapi kalau laki -laki, tentu tidak akan mudah melupakan, yang ada juga butuh penyelesaian secepatnya.
"Tadi yang mana?" tanya Arsy pura -pura bodoh.
"Tadi barusan, Sy. Masa iya langsung amnesia?" tanay Teddy yang makin gemas melihat wajah polos Arsy.
"Iya bener. Memang ada bagian yang bohong? Kan memang barusan terjadi kan?" ucap Arsy santai.
"Gak ada keinginan di lanjutkan gitu? Mumpung kita hanya berdua?" tanya Teddy mulai berani mengungkapkan keinginannya.
Kedua mata Arsy menatap lekat ke arah Teddy. Ia tak menyangka kalau Teddy masih berharap lebih dari aktivitas tadi.
"Arsy takut Pak ...." jawab Arsy lirih.
"Kamu belum siap Sy? Kalau memang takut dan belum siap gak apa -apa. Saya mengerti. Ya sudah tidurlah, istirahat, besok kamu kan harus sekolah," ucap Teddy mengalah.
Padahal ia sudah senang dengan sikap Arsy yang menggodanya lebih dulu tadi. Tapi pada kenyataannya Arsy hanya membuatnya bertambah masalah. Bagaimana tidak, pusing di kepalanya semakin terasa nyut -nyutan.
Dengan santainya Arsy hanya mengangguk dan mulai memejamkan kedua matanya. Sebenarnya kedua matanya juga sudah tidak bisa tidur lagi, tapi ia berusaha menutup matanya agar Teddy mengiranya ia tertidur.
Tak lama berselang, Arsy merasakan Teddy turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Arsy membalikkan tubuhnya dan menatap kosong kasur di sebelahnya.
Dengan perasaan bersalah, Arsy membuka matanya dan menata lurus ke atas. Kedua tangannya saling memainkan jari -jarinya.
'Arsy harus bagaimana memulainya. Kalau di berikan, mungkin Arsy sudah tidak penasaran lagi karena memang sudah di berikan kepada suami. Kalau tidak di berikan, tentu dosa. Belum lagi para penggoda, buaya betina sudah berkeliaran mampu menyatap lelaki se -tampan suami Arsy,' batin Arsy di dalam hatinya.
Arsy menoleh ke arah kamar mandi yang masih tertutup.
"Kok lama sih? Apa jangan -janagn buang air besar?" tanya Arsy pada dirinya sendiri.
"Atau jangan -jangan? Argh ... masa iya, segitunya?" tanya Arsy kembali.
__ADS_1
Arsy mencoba urun dari tempat tidurnya dan menghampiri Teddy.
"Pak?" panggil Arsy pelan.
Teddy yang sejak tadi sedang mengontrol dirinya sambil duduk di atas kloset yang tertutup pun agak kaget dengan ketukan pintu kamar mandi. Air shower yang masih bergemericik membasahi kepalanya hingga tubuhnya pun ia matikan.
Dengan tubuh polos yang sudah mulai merasakan tenang dan tak setegang tadi ia tutup dengan piyama handuk. rambut Teddy masih basah dengan sisa butiran air yang menetes di sekitar wajahnya.
ceklek ...
"Hemm ... Kenapa?" tanya Teddy lirih. Ia tak sanggup melihat Arsy dengan piyamanya dan kancing atasnya sudah terbuka karena aktivitas tadi. Entah sengaja atau tidak, Arsy tak mengancingkan kembali piyama itu hingga kulitnyayang bersih dan gundukan itu sedikit tlihat dan membuatnya lagi -lagi sakit kepala.
"Bapak ngapain di dalam? Lama banget? Arsy khawatir," ucap Arsy polos.
"Khawatir kenapa? Memang saya mau bunuh diri?" tanya Teddy kesal.
"Galak aja. Siapa tahu, memang mau bunuh diri gara -gara ...." ucapan Arsy terhenti. Jangan sampai ia mengatakan itu. Jangan sampai dia yang salah paham. Jangan mapai dia sendiri yang malah baper.
"Gara -gara apa? Hem ...." tanya Teddy mendekatkan wajahnya pada Arsy.
Arsy menahan tubuh Teddy yang semakin mendekat dan Arsy sendiri brusaha mundur perlahan.
"Gara -gara apa?" tanya Teddy yang terus maju dan membuat Arsy kebingungan.
"Itu ... Anu ... ekhemm ... Gara -gara itu," ucap Arsy pelan. Langkah mundurnya sudah mentok di kasur. Dengan sengaja Teddy tetap terus mendekatkan wajahnya ke arah Arsy hingga Arsy terjatuh dikasur denga tubuh terlentang.
Tatapannya sendu dan pasrah. Rasa takutnya di bunag jauh -jauh oleh Arsy. Kalau pun hari ini ia harus melepas keperawanannya itu ia lakukan bersama suaminya sendiri.
Tubuh Teddy sengaja mengukung Arsy yang ada di bawahnya. Kedua sikut Teddy bertumpu dan kedua lututnya pun menahan tubuhnya agar tak menimpa tubuh Arsy.
"Kamu cantik Sy," ucap Teddy pelan sambil mengusap pipi mulus Arsy dnegan punggung tangannya.
"Pak ...." lirih Arsy memanggil.
"Berhenti panggil saya, Pak, kecuali di sekolah. Saya suami kamu, Sy," ucap Teddy menasehati.
Seolah sedang terhipnotis dan Arsy hanya bisa mengangguk pasrah.
Berkali -kali Teddy mencium Arsy dan membuat gadis itu mendesah kecil. Lam -lama ARsy terbiasa dengan ciuman dan sentuhan dari Teddy. Ia mulai bisa menerima sesuatu yang juga membuatnya merasakan nikmat.
Napas keduanya mulai memburu. Baik Teddy dan Arsy sudah tak sanggup menahannya lagi. Teddy yang memang sudah cukup umur untuk melakukan itu, sedangkan Arsy yang memang terbawa suasana di tambah kewajiban Arsy sebagai seorang istri yang memang harus melayani suaminya tanpa ada perlawanan.
"Boleh? Kalau saya menginginkannya sekarang?" tanya Teddy lirih sambil mengecup pelan bibir Arsy.
Awalnya Arsy ragu dan takut. Tapi, mengingat kejadian kemarin, Arsy tidak mau terulang lagi. Jangan sampai ia melakukan hal konyol. Menunda memberikan kepada suaminya tapi malah di nikmati oleh orang lain tanpa sengaja.
"Sakit gak?" tanya Arsy jujur.
"Saya akan lakukan pelan -pelan. Kalau memang sakit, kamu bilang ya?" ucap Teddy bernegosiasi.
Arsy hanya mnegangguk pasrah. Tidak ada pilihan kecuali mengiyakan. Sekarang atau besok, smeua sama. Arsy harus siap.
Mendapat anggukan kecil pertanda siap. Teddy pun mulai beraksi. Jiwa kejantannya mulai mucul dengan gairah dan semangat yang tinggi.
Perlahan Teddy membuka piyama handuknya. Tubuh polosnya sudah berada di atas Arsy dengansatu tanga Teddy dengan cepat membuka kancing piyama itu.
Arsy nampak diam. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
__ADS_1
"Kamu sudah siap?" tanya RTeddy yang masih agak ragu.
"Siap," jawab Arsy pelan.
Teddy sengaja mencium bibir Arsy agar semuanya bisa berjalan dengan baik. Menurut ilmu biologi, dengan aktivitas lainnya, maka aktivitas utama tidak terfokus.
Dengan pelan -pelan dan sangat hati -hati, Teddy pun mulai mencoba jalan masuk untuk memulai permainannya.
Sesekali Arsy menahan bibi Teddy, tanda ia merasakan sakit.
"Sakit?" tanya Teddy yang tidak tega melanjutkan aktivitasnya.
"Sedikit. Kayak perih gitu rasanya," ucap Arsy menggigit bibirnya menahan sakit.
"Ya sudah kalau sakit. Saya tidak lanjutkan," ucap Teddy pelan.
Ia lebih menjaga perasaan Arsy dan menyudahi aktivitasnya yang belum berhasil itu.
"Maafkan Arsy ya," jawab Arsy lirih.
Rasanay berdosa sekali. Mungkin tinggal selangkah lagi. Cukup Arsy menahan sebentar rasa sakit itu akan berubah menjadi rasa nikmat. Namun, segala sesuatu yang di paksakan juga tidak akan bagus hasilnya. Saat Arsy sudah merintih kesakitan, tubuhnya pun ikut menegang dan membuat beberapa otot juga menguat dan yang ada malah makruh nantinya.
"Iya Arsy. Maafkan saya juga yang terlalu memaksa," ucap Teddy memeluk Arsy dan emncium pipinya.
"Besok Arsy coba lagi," ucap Arsy mencoba membesarkan hati Teddy agar tidak kecewa.
"Iya. Ya susdah istirahat," jawab Teddy pelan.
"Peluk ya?" cicit Arsy manja.
Senyum Teddy pun melebar dan mengangguk pelan.
"Iya sini di peluk." jawab Teddy senang.
Hari memang sudah pagi Sudah pukul setengah lima. Sebentar lagi adzan shubuh pasti berkumandang. Tapi keduanya terasa cape dan lelah seperti habis melakukan aktivitas berat. Padahal tujuannya belum tercapai sama sekali. Ibarat tamu yang sejak tadi ketuk pintu namun tak ada yang membukakan pintu.
Teddy memeluk rasy dari samping. Keduanya masih dengan tubuh polos dan hanya di tutupi selimut yang sama. Sesekai Teddy mencium tengkuk Arsy yang membuatnya terasa kegelian.
"Ini bukannya tidur malah bercanda," ucap Arsy mencubit tangan Teddy.
"Habis gemes." jawab Teddy menggigit kecil bahu Arsy hingga istrinya berteriak kaget.
"Gemes kenapa?" tanya Arsy pelan.
"Kamu tahu, lelaki itu pusing kalau di buat nanggung," jawab Teddy lirih di telinga Arsy.
"Maaf Mas ...." jawab Arsy lirih.
"Hemmm manggil apa tadi?" tanya Teddy yang takut salah dengar.
"Mas? Kenapa? Salah?" tanya Arsy irih.
"Gak salah. Suka malah. Asal jangan kelepasan di sekolah aja. Kalau di kantor sih gak apa -apa," ucap Teddy mengingatkan.
"Kalau di sekolah mau Arsy panggil sayang. Biar Bu Lina tahu, kalau Mas Teddy itu memang punya Arsy," ucap Arsy pelan.
"Aduh ... Kok Mas berasa mau terbang ya?" ucap Teddy tertawa.
__ADS_1
"Ekhemm Mas ... Kemarin sama Bu Lina kemana bahas acara buat ke Bali?" tanya Arsy yang baru ingat kalau Teddy pergi bersama Bu Lina kemrin.