
Bismo sudah sembuh. Luka -lukanya sudah mulai mengering hampir dua minggu dia koma dan terbaring di ranjang rumah sakit hanya di temani alat pendektsi derak jantung dan beberapa selang yang masuk melalui beberapa bagia tubuhnya.
Kedua orang tua Bismo pun datang untuk memastikan bahwa anak lelaki itu benar anaknya.
"Aku ingin bekerja dan melanjutkan studiku di sini, Ma. Aku gak mau balik kesana karena aku gak mau sakit hati," ucap Bismo pelan saat berada di sebuah apartemen bersama kedua orang tuanya.
"kau ingin kerja apa, Bismo? Ini negera orang. Perbedaan bahasa pun bisa membuatmu kesulitan beradaptasi, belu lagi masalah makanan, sosial dan lain sebagainya. Gak udah, Mo. Mending ikut Papah dan Mamah pulang dan kamu bisa ikut tante kamu di Bandung," titah Sang Mama memberikan solusi.
"Gak Ma. Bismo bisa kerja di hotel atau di restaurant. Kenapa harus ribet sih? Anak mau mandiri juga," ucap Bismo mulai kesal.
Sejak dulu Bismo tidak mau di atur. Sifatnya yang keras kepala membuat segala apa yang menjadi keputusannya tidak bisa di ganggu gugat.
Papah dan Mamah Bismo sudah tak bisa memaksa. Kini mereka hanya bisa mendukung semua cita -cita dan keinginan Bismo.
__ADS_1
Skip ...
Satu minggu berlalu. Teddy sudah berada di London dan mencari keberadaan mertuanya. Ternyata London itu cukup luas dan tidak semudah yang di bayangkan oleh Teddy. Menurut orang yang ia tanya. Ia harus menaiki kereta bawah tanah untuk sampai di tempat yang dia tanyakan tadi.
Teddy tak pernah putus asa. Walaupun uang saku yang di beri oleh petani tua itu mulai menipis. Teddy tak kehilangan akal, ia tetap berusaha bertahan hidup dengan bekerja.
Mulai dari bekerja menunggu kedai minuman sampai menunggu kios bunga hanya untuk mendapatkan uang agar ia bisa membeli tiket kereta bawah tanah.
Bismo tak pernah mengingat apapun tentang kejadian buruk itu termasuk Teddy yang sempat menolongnya saat sudah berad di ambang bahaya mulai mendekatinya.
Bukan berarti Bismo hilang ingatan, tapi lebih tepanya ia sama sekali tak mengingat kejadian buruk itu saja. tapi, kejadian sebelum itu sangat jelas berada di dalam memorinya.
Tepat di hari ketujuh, Teddy mendapatkan uang hasil kerja kerasnya. Kebetulan sekali pemilik kios bunga tahu alamat yang ingin di tuju Teddy. Ia pun ingin pergi kesana untuk mengantarkan pesanan bunga.
__ADS_1
"Lebih baik kau ikut kami. Uang yang sudah kamu dapatkan, kamu simpan. Aku akan mengantarkan kamu hingga ke alamat tersebut," ucap pemilik kios bunga itu dengan lembut.
Kerja Teddy sanga baik. Walaupu ia buta, tapi ia panai berinteraksi dengan pelanggan hingga setiap pelanggan yang datang selalu berhasil membeli dalam jumlah yang cukup banyak dan memberikan keuntungan besar bagi pemilik kios.
"Memangnya tidak keberatan aku ikut dalam mobil kalian?" tanay Teddy pelan.
"Bukankah ke kota itu keinganan kamu dari smeinggu yang lalu. Kami hanya ikut mendoakan semoga kamu cepat bertemu dengan keluargamu," ucap pemilik kiso itu pelan.
Perjalanan menuju tempat di mana mertuanya berada itu tidaklah memakan waktu yang lama. Hanya sekitar tiga jam saja.
"Kita sudah memasuki kota. Kami akan antar kamu higga ke apartemen orang taumu," ucap pemilik kios itu pelan.
Jantung Teddy berdegup keras. Ia tahu, pasti ia sudah di anggap mati. Satu bulan lebih, tak ada kabar tentang Teddy dan di pastikan hilang.
__ADS_1