Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
KAMU MAU MENERIMAKU, SEBAGAI PENGGANTI AYAH SI KEMBAR?


__ADS_3

Arsy sendiri sedikit gugup. Mungkin rasa cintanya kepada Bismo memang sudah memudar dari hati Arsy, hanya saja kalau di ingat lagi beberapa kenangan manis yang memang terukir indah di kedua hati mereka. Bisa jadi rasa sayang itu masih tertinggal di hati mereka.


Arsy membuka satu botol minuman jus dan meneguknya hingga habis setengah botol. Lalu mengambil cemilan berupa roti manis dengan isi campuran daging dan sosis.


"Arsy sambil makan ya," ucap Arsy pelan lalu melahap roti manis itu dengan cepat.


Bismo mengangguk pelan. Ia memaklumi Arsy yang sedang hamil begitu terlihat rakus dan lahap menikmati makanan sederhana itu.


"Berapa usia kandunganmu sekarang?" tanya Bismo pelan tanpa menatap Arsy. Pandangannya lurus ke depan.


"Jalan tiga," jawab Arsy tanpa malu -malu.


Arsy bahkan terdengar sangat bangga jika sedang mengandung.


"Sehat -sehat ya, Sy. Semoga lancar sampai melahirkan nanti," ucap Bismo pelan.


Kata -kata yang terucap seolah ingin mengingatkan.


"Siap," jawab Arsy pelan. wajahnay terlihat ceria namun datar. Cerianya tidak nampak tulus dan lepas.


"Ada yang beda. Kenapa?' tanya Bismo pelan.


"Kamu yang kenapa? Kenapa bisa sampai sini? Kamu ngikutin Arsy ya?" tanya Arsy dengan tingkat percaya diri yang sangat tinggi sekali.


"Dasar hadis labil. Masih aja gak berubah," ucap Bismo tertawa pelan.


"Dih ... Terus? Kenapa kamu bisa sampai di sini? Ada alasannya dong?" tanya Arsy pelan.


"Aku mau ngelupain kamu," jawab Bismo tegas.


Arsy terbatuk dan menyudahi makan rotinya laku kedua mata indahnya menatap ke arah Bismo.


"Arsy gak salah dengar?" tanya Arsy dengan kedua mata menyipit. Ia merasa aneh dengan ucapan Bismo.

__ADS_1


Bismo tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Salah dengar? Ya? Gak mungkinlah. Mungkin kalau bisa, aku tidak ingin bertemu kamu lagi, Sy. Aku juga tidak pernah mau bertemu kamu lagi," ucap Bismo pelan. Ia memang tertawa tapi ucapannya jelas terdengar tegas.


Arsy malah terkekeh sendiri.


"Ini aja kita ketemu. Bahkan kamu yang mengikuti Arsy," ucap Arsy pelan.


"Ini gak sengaja, Sy. Terus, ini bisa jadi pertemuan terakhir kita," ucap Bismo pelan. Penekanan katanya begitu berarti dalam dan tegas.


"Arghh ... Kamu ini lucu , Mo. Memang kamu gak mau lihat bayi kembar Arsy?" ucap Arsy sambil tertawa pelan.


Bismo menatap Arsy dalam. Hatinya semakin sakit mendengar ucapan Arsy yang bicara tentang bayi kembar. Itu keinginannya sejak dulu.


"Kamu? Mereka kembar?" tanya Bismo kemudian.


"Iya. Kembar. Tapi sayang ...." ucapan Arsy terhenti. Ia menggingit bibir bawahnya dan melipat ke dalam mulutnya untuk menahan rasa sedihnya.


"Kamu emang gak tahu? Pura -pura gak tahu? Atau emang ketinggalan informasi?" tanya Arsy pelan.


Bismo menggeleng pelan.


"Aku sama sekali gak tahu apa -apa. Semenjak pagi itu aku di usir dari sekolah dan tak boleh masuk lagi ke sekolah lama. Buatku itu sebuah cambukan besar. Aku ingin menunjukkan bahwa aku orang baik, aku orang yang bisa di andalkan, dan aku sebenarnya bisa menjaga kamu, seperti suamimu menjaga kamu saat ini, Sy," ucap Bismo dengan nada melemah seperti orang menyesali sesuatu.


"Lupakan itu. Mereka akan lahir tanpa seoarng Ayah yang ada di sisinya. Mas Teddy hilang dalam kecelakaan pesawat sa bulan yang lalu. Sampai saat ini, jasadnya tidak di temukan dan di naytakan hilang. Itu tadanya Mas Teddy sudah di anggap mati," ucao Arsy lirih.


Bismo tak tega melihat mantan kekasihnya bersedih. Tangannya sengaja memeang tangan Arsy.


"Boleh ku pegang?" tanya Bismo pelan.


Arsy mengangguk kecil.


"Boleh. Kamu kenapa, Mo?" tanya Arsy menatap Bismo aneh.

__ADS_1


Bismo pun menggenggam erat jari jemari Arsy dengan penuh kasih sayang. tentu, Arsy sebagai perempuan bisa merasakan kasih sayang Bismo yang masih terasa sampai saat ini. Cnitanya bukan sekedar cinta monyet. Cinta pertama yang begitu tulus untuk Arsy.


"Jawab dengan jujur," ucap Bismo pelan.


Bismo menarik napas dalam dam perlahan di hembuskan dari hidungnya. Ia sama sekali tak merespon tentang kecelakaan pesawat itu. Karena ia sudah berhasil mengingatnya dengan baik.


"Soal apa?" tanya Arsy pelan.


"Jika sampai waktu yang di tentukan. Suami tak kembali, berarti memang kemungkinan beliau meninggal dalam kecelakaan itu. Apakah kamu mau menerimaku lagi? Jika aku sukses menjadi seorang dokter? Apakah aku boleh menggantikan menjadi Ayah si kembar? Apakah aku boleh mencintai kamu?" tanya Bismo pelan dengan pertanyaan yang bertubi -tubi.


Genggaman di tangan Arsy semakin erat. Bismo sangat berharap Arsy mau menjawab pertayaannya sesuai dengan keinginannya.


Arsy hanya menatap kedua mata Bismo lekast dan mengerjap pelan. Pertanyaan yang tak pantas di ungkapkan oleh seorang Bismo.


"Pertanyaan itu gak salah alamat?" tanya Arsy pelan.


Bismo menggelengkan keplanya pelan.


"Gak Sy. Aku boleh egois kan? Egois mencintai kamu? Egois untuk tetap ingin memiliki kamu seutuhnya? Walaupun kamu sudah pernah menikah," ucap Bismo tegas.


Arsy pun tertawa. Ia geli karena pernyataan Bismo di anggap lucu.


Perlahan tangan Arsy pun di tarik dari genggaman Bismo. Namun Bismo malah mneggenggam erat dan bahkan sangat erat.


"Tetaplah di sini, bersamaku," ucap Bismo pelan.


Arsy meggelengkan kepalanya pelan.


"Aku gak bisa Mo," ucap Arsy dengan mata basah.


Arsy tak mungkin mengkhianati cinta suaminya. Walaupun suaminya telah tiada. Tapi, rasa kehilangan itu benar -benar menyadarkan Arsy bahwa ia begitu mencintai suaminya. Arsy selalu berdoa dan berharap suatu keajaiban itu datang. Ia bisa melihat suaminya, bakan bisa hidup bersama selamnaya.


"Kenapa gak bisa, Sy? Toh, suamimu sudah meninggal? Apa yang kau tunggu lagi? Bahkan dengan menerimaku, bebanmu akan berkurang untuk mengurus si kembar," ucap Bismo yang masih saja berharap.

__ADS_1


__ADS_2