
Keduanya pulas tertidur hingga pukul enam pagi. Teddy pun terbangun dengan terkejut karena alarm di ponselnya berbunyi dengan keras. Ia sengaja memyetel alarm tersebut agar bisa terbangun tepat wakti dan tidak kesiangan saat berangkat ke sekolah. Dari apartemen itu menuju sekolah kira -kira hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit karena memang jaraknya sangat dekat.
Teddy pun langsung bangun dan menyiapkan roti dan susu hangat untuk Arsy. Lalu seragam Arsy pun sidah di gantung di dalam kamar.
"Sy ... Arsy ... Yuk bangun. Kita harus berangkat ke sekolah," panggil Teddy kepada Arsy yang masih pulas di bawah selimut.
Dengan cepat Teddy mengisi air hangat dalam bathup untuk mandi pagi sang istri. Teddy kembali lagi ke kamar dan Arsy masih dengan posisi yang sama.
"Arsy ... Ayo bangun dulu sayang. Nanti kita telat berangkat ke sekolah," panggil Teddy sambil menepuk pipi Arsy pelan.
"Eummm ... Masih cape." Jawab Arsy singkat sambil menguap.
"Mau di gendong? Terus di mandikan?" tanya Teddy cepat.
"Libur dulu ya Mas. Mau istirahat," jawab Arsy lirih. Tubuhnya masih terasa pegal dan nyeri. Gencatan senjatany terlalu cepat dan menghabiskan energi yang cukup banyak.
Tanpa aba -aba, Teddy pun langsung mengangkat tubuh Arsy dan membawanya ke kamar mandi.
"Mas ... Turunin. Arsy bisa jalan sendiri," ucap Arsy dengan suara keras.
Sejujurnya ia malu di gendong ala bridal style begitu dan yang paling memalukan adalah ia masih dalam keadaan tubuh yang polos.
"Kelamaan ini udah jam enam lebih." jawab Teddy langsung menceburkan Arsy di bathup. Kamar mandi itu langsung di tutup dan mereka mandi bersama. Arsy mandi di dalam bathup dan Teddy mandi di bawah guyuran shower.
Tidak sampai sepeuluh menit mereka pun bergegas. Arsy sendiri tampak masih ogah -ogaha untuk berangkat ke sekolah.
"Nanti di UKS aja. Arsy lelah, Mas. Ngantuk,'" ucap Arsy pelan.
"Sy. Kamu sudah kelas tiga, beberapa kali kamu juga sudah ijin. Di kelas saja ya," ucap Teddy menasehati.
"Hari ini Mas Teddy ngajar lagi kan? Uh ... Cape ini Arsy, di bagian ini masih agak sakit," ucapnya pelan sambil menunjuk di area pangkal pahanya.
Teddy yang sudah rapi memakai kemeja dan celana panjang pun kini mmebantu Arsy merapikan rambutnya dengan sisir. Rambut Arsy masih basah.
"Ini mau di catok gitu? Atau di hair dryer? Mas punya alatnya?" tanya Teddy pelan.
"Jangan Mas. Arsy gak suka, nanti rambut Arsy rusak dan gampang rontok," ucap Arsy pelan. Ia merapiakn kemeja putihnya dan di masukkan sedikit ke dalam rok abu yang semakin terlihat pendek.
"Oke. Kita berangkat sekarang. Di meja makan sudah ada susu putih, minumlah," titah Teddy pelan.
__ADS_1
Arsy mengambil tas ranselnya. Jalannya agak pelan menahan rasa pegal di area selakangannya. Ia berjalan menuju meja makan dan meminum suus putih yang mash hangat. Rasanya benar -benar pas, tapi susunya bukan susu biasa yang di minum oleh Arsy. Ini susu yang berbeda mereknya, namun lebih enak dan gurih.
"Sudah? Rotinya mau di bawa? Bawalah sepiringnya, kita makan di mobil," titah Teddy sambil mengambil tas kerjanya.
Arsy mengangguk kecil dan membawa pring itu berjalan keluar kamar apartemen menuju parkiran.
Lorong itu masih nampak sepi, namun sudah wangi, seperti habis di pel.
"Mas ... Di sini sepi ya?" tanyaArsy kemudian.
"Gak juga, kita yang kesiangan. Ini sudah setengah tujuh lewat," jawab Teddy pelan sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
Langkah kakinya begitu cepat dan membuka pintu mobil dengan remote mobil dari jarak jauh. Arsy masuk dari pintu samping dan bersandar di jok tanpa melepaskan tas ransel sekolahnya. Ia memangku piring berisi roti tawar dengan selai cokelat.
Sedikit demi sedikit roti itu di cuil -cuil dan di masukkan ke dalam mulutnya.Ia mulai mengunyah roti itu pelan. Perutnya memnag lapar.
"Enak?" tanay Teddy pelan sambil melirik Arsy berharap ia mendapatkan jatah suapan dari Arsy.
Arsy mengangguk kecil lalu menyuil kembali roti itu dan menyuapkan pada Teddy.
"Buka mulutnya," titah Arsy pelan.
"Nah gitu dong. Mesra sama suami," uacap Teddy terkekeh.
"Kan lagi belajr Mas," jawab Arsy lirih.
Lama -lama tubuhnya menyandar di jok dengan nyaman, Wajahnya terkena dinginya Ac pun membuat Ary mulai mengua dan mengantuk. Tak lama Arsy pun tertidur.
"Hem malah tidur," ucap Teddy lirih. Ia mencoba mengambil piring yang masih berisi roti dan melettakkan di depan setir mobilnya sambil sesekali mengambil roti dan mengunyah potongan roti yang berada di dalam mulutnya.
Sepuluh menit kemudian. Mobil Teddy pun sudah mausk ke area parkir khusus untuk para guru. Biasanya para guru akan berjalan melalui pintu samping yang menghubungkan ke arah koridor menuju ruang guru.
"Arsy bangun sayang. Sudah sampai di sekolah," panggil Teddy pelan sambil melepaskan sabuk pengaman yang mengikatnya.
Arsy pun mulai membuka matanya dan mengucek pela kedua kelopak matanya. Rasanya masih sangat mengantuk sekali dan ingin kembali tidur seharian dia taas kasur empuk.
"Capek banget?" tanya Teddy yang terlihat iba. Ia pikir tadi, Arsy hanya malas sekolah. Ternyat Arsy memang seperti kelelahan dan nampak sesekali terlihat meringis karena masih ada nyeri di bagian intimnya.
"Iya Mas. Tapi, Arsy coba masuk kelas." jawab Arsy lirih.
__ADS_1
"Kalau memang lelah banget, bilang aja mau ke UKS, atau ke ruangan Mas ya??" titah Teddy pelan.
"Iya Mas. Arsy ke kleas dulu ya," jawab Arsy dengan malas.
"Ini uang jajan buat kamu," ucap Teddy memberika uang lembaran biru satu lembar.
Arsy menerima dan tersenyum lebar.
"Terima kasih Mas guru," ucap Arsy sambil tertawa.
"Udah gitu aja? Pamitan sama suami, cuma begini? Gak ada manis -manisnya? Padahal kita baru saja bemesraan tadi," goda Teddy pelan.
Arsy yang sudah bersiap membuka pintu mobil pun menoleh ke arah Teddy.
"Gak usah di ungkit yang tadi pagi. Arsy malu," jawa Arsy menunduk.
"Malu? kenapa harus malu. Mas kan suami kamu, kita akan sering seperti itu, bukan tadi pagi saja, mungkin nanti malam Mas minta lagi, besok pagi nambah lagi, besok malam juga minta lagi," ucapan Teddy terhenti saat Arsy berteriak.
"Cukup Mas. Janagn di bahas. Ini di sekolah, Arsy benar -benar malu. Masih pakai seragam putih abu, tapi sudah hilang keperawanan," ucap Arsy pelan.
"Hus ... Bukan hilang. Kamu kan sudah menikah Sy. Ini beda jalurnya lho. Konsepnya ga kayak gadis lain. Kita SAH," ucap Teddy pelan.
"Udah ah. Arsy mu ke kelas." jawab Arsy ketus.
"Ya sudah. Selamat belajar dnegan baik sayang,' ucap Teddy yang selalu berusaha mesra.
"Iya Mas," jawab Arsy pelan.
Arsy turun lebih dulu dari mobil Teddy dan Teddy memberi jeda agar tidak terlihat brsamaan. Baru saja Arsy akan brbelok menuju lorong koridor. Suara tak asing di telingannya memanggil nama suaminya dengan sangat manja.
"Pak Teddy ...." cicit Bu Lina sambil menghampiri Teddy dengan wajah berbinar dan senyum merona.
Arsy berhenti melangkah dan memundurkan langkahnya untuk melihat dan memastikan bahwa suara itu milik Bu LIna.
Teddy merasa risih dengan cepat ia mengunci pintu mobilnya. Lalu berjalan mendahului Bu LIna.
"Pak? Bapak kenapa? Memang saya punya salah?" tanya Bu Lina dengan semnagat empat lima.
Arsy menatap keduanya. Ia thau suaminya berusaha menghindari. Tapi guru bahasa indonesia itu memang sedikit agresif dan sangat terobsesi untuk mendapatkan Teddy.
__ADS_1