
Sesuai permintaan permaisuri kecil. Teddy dengan cepat pergi ke kantin untuk membeli batagor. Teddy menyelinap dari bagian belakang, dimana para guru biasa memesan makanan dari pintu belakang kantin.
"Bungkukan batagor sepuluh ribu tidak pakai sambal," ucap Teddy pelan sambil mengeluarkan uang sepuluh ribuan dan di berikan kepada Ibu Kantin yang berjualan.
"Hanya batagor? Minumannya gak Pak Guru?" goda Ibu Kantin kepada Teddy.
"Oh iya betul juga. Es teh manis deh satu. Bungkus ya," pinta Teddy sambil mengeluarkan uang lima ribuan untuk membayar minumannya.
Teddy duduk di meja belakang sambil menatap ke arah depan. Banyak murid -muridnya yang masih jajan ke kantin. Mungkin jam istirahat tadi mereka ulangan dan kini mereka di beri waktu untuk istirahat.
"Ada anak baru, namanya Tono, gw kira cupu ternyata suhu guys. Gantengnya kebangetan. Walau tetep ganteng guru idola kita Mr. T. Tapi yang gw sebel, tuh cowok bisa langsng akrab sama Arsy. Tuh cewek bisa aja, dapet cowok bening ya? Gw jamin tuh Mr. T, pasti kesel lihat Arsy begitu," ucap salah satu murid perempuan bernafsu sekali saat berghibah.
"Loe yakin Mr. T sama Arsy ada hubungan? Secara mereka biasa aja? Cuma sering lihat pergi dan pulang sekolah bareng satu mobil sih. Sok kecakepan ya. Untung aja dulu Bismo mau sama dia makanya populer," ucap teman yang lainnya sambil menikmati bakso pedas.
"Tuh cewek nasibnya mujur amt. Lihat noh Budi, segitu lumayan juga sampe sekarang ngejar -ngejar kek orang gila. Kayak gak ada cewek lain di sekolah ini," ucap cewek yang menyeruput es teh manis itu dnegan geram ikut nimbrung.
Sepertinya, ini adalah geng pembenci Arsy. Teddy hanya menggelengkan kepalanya cepat. Tapi ada satu suara lain yang membuat Teddy muali cemas.
"Eh ... Tapi, gw denger -denger, Arsy itu cewe gampangan. Buktinya gwpernah lihat dia jalan sama guru idola kita, dan mereka masuk apartemen. Loe kira ngapain coba? Laki dan perempuan berduaan di dalam kamar apartemen?" ucap satu perempuan dengan suara keras.
"Argh ... yang bener loe. Jangan bikin gosip," ucap perempuan yang sednag makan bakso dengan kepedesan.
"Paranya. Dia sekarang lagi hamil. Kita buktikan saja," ucap satu cewek yang minum es teh manis tadi.
Deg ...
Teddy pun cemas dengan keadan ini. Bukan cemas karena takut harus mengakui kebenaran. Tapi, cemas jika Arsy harus di bully dan mereka sengaja mengerjai Arsy.
"Nanti deh kita cari cara yang tepat untuk kerjain tuh cewek sok cakep itu," ucap satu cewek yang lain.
Teddy menggigit bibir bawahnya dengna keras.
"Pak guru. Ini pesanannya," ucap Ibu Kantin sambil memberikan satu kantong plastik pesanan Teddy.
"Terima kasih bu," ucap Teddy sopan.
__ADS_1
Teddy pun keluar dari pintu belakang dan sengaja melewati gerombolan geng ghibah.
"Selamat siang. Kalau makan yang benar jangan banyak ngomongin orang nanti tersedak," ucap Teddy pelan kepada semua gadis yang adadi sana sambil memelankan langkahnya.
Para siswi yang berkumpul itu pun tercengang bingung, melihat Teddy yang tiba - tiba saja lewat di depa mereka yang entah dari mana datangnya.
Semua sisiwi itu menunduk dan tak ada yang berani menjawab.
Setelah Teddy pergi dan agak menjauh, beberapa siswi itu saling menyenggol lengannya.
"Mampus deh, Mr. T tahu nih lagi kita ghibahin. Pasti dia juga akan membela cewek murahan itu," ucap siswi lainnya yang memang benci setengah mati dengan Arsy. maklum sejak kelas X, dia dan Arsy sudah menjadi musuh bebuyutan. Sampai sudah mau lulus pun mereka masih belum bisa saling memaafkan.
"Sudah. Gak aman ghibah di sini. Tentu ada yang pro kontra. Kita sebarin gosip dengan cara elegan jangan kayak admin lambe turah gini. Mudah terciduk tahu," titah salah satu siswi yang di jadikan pentolan di geng ghibah.
"Bener nanti kita cari cara biar kita bisa pastiin tuh cewe murahan lagi hamil atau gak," ucap siswi lainnya.
Teddy sudah berada di ruang UKS sesekali ia memegang perut Arsy memastikan memang semuanya baik -baik saja.
"Gak ada yang sakit kan? Atau memang ada yang sakit tapi kamu gak sadar?" tanya Teddy pelan sambil mengeluarkan bungkusan batagor dan es teh manis.
"Tadi pagi memang agak sakit di bagian bawah sini. Tapi sekarang gak lagi,' jawab Arsy pelan menerima suapan batagor.
Arsy mengangguk pelan dan meerima suapan itu.
"Sy ...." panggil Teddy pelan.
"Ya Mas," jawab Arsy sambil mengunyah makanannya dengan pelan.
"Ikut home schooling aja gimana? Kamu gak perlu ke sekolah begini," ucap Teddy pelan sambil memberikan potongan batagor.
Arsy mengunyah pelan dan menggelengkan kepalanya cepat.
"Gak ah, Mas. Arsy maunya sekolah. Tinggal beberapa bulan lagi, Mas. Asy mau menikmati masa -masa terakhir Arsy memakai seragam putih abu ini. Lagi pula, Arsy kan ikut teater untuk pementasan akhir," ucap Arsy pelan.
Teddy menatap lekat kepada Arsy.
__ADS_1
"Sy. Kamu gak usah ikut pementasan akhir untuk perpisahan. Kamu kan sedang hamil, Sayang," ucap Teddy lirih sambil celingukan. Teddy cemas bila ucapannya ada yang mendengarkannya.
"Mas ... Ini kan terakhir. Boleh ya, Mas. Arsy menjadi pemeran utamanya," ucap Arsy pelan.
"Oke. Ada syaratnya. Kamu harus banyak makan dan minum susu. Mas yang harus antar kamu setiap latihan. Mas gak mau sesuatu terjadi sama kamu," ucap Teddy pelan memeberikan minum kepada Arsy saat Arsy mulai kewalahan menguyah batagor di dalam mulutnya.
"Iya. Arsy janji. Arsy tetep jaga kesehatan, makan, minum susu dan Arsy gak akan lupa minum vitamin sesuai petunjuk dokter Effendy," ucap Arsy pasrah.
"Cakep. Gitu dong. Baru istri yang pintar," ucap Teddy memegang dagu Arsy.
"Ya harus pintar dong. Masa suaminya pintar, istrinya B aja. Apa kata orang. Ehh .. Arsy, suaminya itu dokter, guru, CEO. Kok, kamu cuma pelajar putih abu," ucap Arsy pelan.
"Biarin orang bilang apa. Yang penting kamu bahagia sama Mas. Kamu bahagia gak?" tanya Teddy kepada Arsy.
"Bahagia. Sangat bahagia. Makasih untuk semuanya ya Mas," ucap Arsy pelan lalu memeluk Teddy kembali.
Arsy muali berani mengungkap rasa sayangnya pada Teddy tnpaada rasa malu.
"Sama -sama sayang. Mas ada hadiah buat kamu," ucap Teddy sambil merogoh kantong celanannya.
Arsy mengendurkan pelukan itu dan melepaskan pelan.
"Hadiah? Hadiah apa?" tanya Arsy mulai penasaran.
"Tebak apa coba?" tanya Teddy pelan.
Arsy memutar kedua bola matanya. Ia berpikir hadiah apa yang sedang di persiapkan untuknya.
"Pakaian bayi?" tanya Arsy cepat.
"BUkan dong. Pamali, ngasih pakaian sekarang," ucap Teddy cepat.
"Lalu? jangan main tebak -tebakkan, ah," cicit Arsy mulai kesal karena belum bisa menebak betul.
"Ini dia ... Tiket ke London," jawab Teddy menunjukkan dua tiket untuk ke London.
__ADS_1
Binar wajah Arsy langsung terlihat.
"Serius Mas? kapan kita berangkat?" tanya ARsy cepat. Ia sudah tak sabar ingin bertemu Bunda Bella dan Papa Hermawan lalu memeluk keduanya dengan penuh rasa sayang karen rasa rindunya.