
Satu minggu ini, Arsy hanya di rumah saja. Ia lebih memilih berada di kamar, nonton drama korea, membaca novel atau majalah. jaln -jalan ke mall bersama Wulan dan belajar masak dengan Mama Tina.
"Pagi Ma," ucap Arsy pelan sambil mengusap pelan perutnya.
"Eh ... Sayang. Baru bangun? Tadi mau di bangunin sama Mbok, tapi Mama bialng, biarin saja, takutny aArsy masih pules," ucap Mama Tina pelan sambil merangkul Arsy dan mnegajaknya duduk bersama di meja makan.
Sarapan pagi masih lengkap tertata rapi di meja makan.
"Papah sudah berangkat Ma?" tanya Arsy pelan.
"Sudah dari tadi. Ini sudah jam sembilan sayang," ucap Mama Tina pelan sambil menyiapkan susu hangat untuk Arsy.
Arsy hanya mengangguk pelan sambil menatap lekat jam dinding untuk memastikan waktu saat ini. Benar saja, sekarang memang sudah jam sembilan pagi. Ya, ampun malas sekali, Arsy sebagai menantu.
Tatapan Arsy mengedar ke seluruh arah. Hari ini, rumah Mama Tinasedikit berbeda.
"Mama mau kedatangan tamu?" tanya Arsy tiba -tiba.
"Ekhemm ... Gak sih kalau dalam waktu dekat. Gak tahu kapan," jawab Mama Tina pelan.
"Oh gitu," jawab Arsy beroh -ria.
Arsy meneguk susu hangat itu hingga habis. Ia memilih membuka topleh kue berisi kue nastar. Niat hati hanya ingin mencomot atu kue saja, ternyata rasa kue itu begitu enak, hingga Arsy mengambil lagi dan lagi.
"Ma ... Kue nastarnya enak? Ini buatan Mama?" tanya Arsy pelan.
Mama Tina pun berbalik dan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.
"Iya. Mama lagi coba -coba. Enak gak?" tanya Mama Tina pelan.
"Enak Ma. Itu Mama lagi buat kuenya?" tanya Arsy pelan.
"Iya sayang. Tapi bahan -bahan Mama habis. Kita belanja yuk?" ucap Mama Tina pelan.
"Boleh. Mau sekarang apa nanti? Nanti malam, Arsy keluar sama Wulan ya, Ma. Mau nonton bioskop. Sama Pak Parjo aja, biar aman," ucap Arsy pelan.
"Iya sayang. Uang bulanan kamu masih ada?" tanya Mama Tina pelan.
"Masih kok Ma. Kan waktu itu Papah sdah kasih Arasy sekalian buat cek kandungan," ucap Arsy pelan.
"Iya Sayang. Kalau habis biar Mama yang tambahin," ucap Mama Tina pelan.
__ADS_1
Kedua mertuanya begitu sangat baik sekali. Tida ada alasan bagi Arsy untuk tidak meyayangi kedua mertuanya.
"Ma ...." panggil Arsy sedikit ragu.
"Ya? Kenapa?" jawab Mama Tinayang kemudian berjalan dan duduk di depan Arsy.
"Mama benran gak tahu kabar Mas Teddy?" tanya Arsy tiba -tiba.
"Kamu lagi rindu sama Teddy? Kenapa bertanya seperti ini?" tanya Mama Tina pelan. Mama Tina berusaha tenang dan terlihat santai. Padahal jantungnya berdegup keras.
"Ekhemmmm ... Cuma nanya aja," jawab Arsy pelan. Arsy tak pernah cerita tentang pertemuannya dengan Teddy.
Papah Hermawan dan Bunda Bella juga sama sekali tak membicarak soal Teddy. padahal dua keluarga itu slaing berkomunikasi dan tahu persis soal ini dan sengaja menyembunyikan dari Arsy.
"Mama sudah ikhlas soal Teddy. Mama harap, kamu juga ikhlas," ucap Mama Tina pelan berusaha sabar dan tak menampakkan kesedihan di wajahnya. Karena memang tidak ada yang perlu di sedihkan. Semuanya baik -baik saja dan bahkan semuanya malah membahagiakan.
Arsy hanya mengangguk pasrah. Ia tak berani melanjutkan obrolannya untuk memberitahukan kalau Teddy masih hidup.
"Ekhemmm ... Ma," panggil Arsy kembali dengan sedikit ragu.
"Apa?" jawab Mama Tina pelan. Mama Tina tahu persis arah pembicaraan Arsy.
"Kalau suatu saat ternyata Mas Teddy masih hidup san kembali?" ucap Arsy pelan, ragu dan menggantung.
Plok ... plok ... plok ...
Mama Tina langsung bertepuk tangan dengan bahagia.
"Mama?" panggil Arsy malah bingung.
"Kenapa? Salah kalau Mama mengungkapkan rasa bahagia Mama denagn tepuk tangan," ucap Mama Tina pelan.
Arsy menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak Ma," jawab Arsy lirih.
"Tentu kamu tahu bagimana perasaan seorang Ibu yang anaknya datang kembali ke rumah dengan selamat. Apapun keadaannya, dia sudah berjuang untuk keluarga dengan bertahan hidup," ucap Mama Tina menjelaskan.
"Tapi kalau dia sudah mengabaikan kita?" tanya Arsy mulai terpancing.
"Mengabaikan bagaimana?" tanya Mama Tina pelan.
__ADS_1
"Ya, dia sudah di temukan tapi mengaku itu bukan dia. Bagaimana?" tanya Arsy pelan.
Ha ha ha ... Mama Tina pun tertawa geli.
"Sudah ah ... Siap -siap sana. Jangan ge -halu aja. Kamu list, apa kebutuhan kamu yang habis di kamar, cemilan, susu kotak, atau mau beli apa? Nanti tinggal ambil saja," titah Mama Tina pelan.
"Iya Ma," jawab Arsy pelan.
Arsy pun kembali ke kamarnya dan bersiap -siap untuk pergi dengan mertuanya. Obrolan tadi sebenarnya ingin di ajdikan pembuka oleh Arsy. Tapi, nampkanya Mama Tina kurang yakin denagn ucapan Arsy. Beliau menganggap ini semua hanya lelucon.
Skip ...
Di Pusat perbelanjaan, Mama Tina dan Arsy mulai sibuk memilih dan memasukkan beberapa barang yang di butuhkan hingga keranjang belanjaan itu pun penuh.
"Ma ... Mau tambah keranjang dorong lagi? Biar Arsy ambilkan," ucap Arsy pelan.
"Boleh, Sayang," ucap Mama Tina pelan.
Arsy pun mengambil keranjang dorong dari depan.
"Arsy?" panggil Pak Tunggul, guru olah ragnya.
Hari ini outfit Arsy memang terlihat lebih casual dan santai. Baju terusan pendek yang memang di peruntukkan untuk ibu hamil karena perut Arsy sudah mulai membesar.
"Pak Tunggul," jawab Arsy sedikit gugup.
"Kamu gemukan ya? Padahal baru beberapa hari gak ketemu," ucap Pak Tunggul menatap lekat ke arah p[erut Arsy yang terlihat menonjol.
"Ekhemmm ... Mungkin efek saya bahagia dan banyak makan selama di rumah," ucap Arsy mnejawab dengan santai.
"Masa? Kamu gak lagi ... Begini kan?" tanya Pak Tunggul sambil menunjukkan perutnya di buat agak membesar.
"Apa itu Pak? Arsy gak paham. Pak ... Arsy duluan ya, kasihan Mama di san sudah emnunggu," jawab Arsy menyudahi obrolannya dengan Pak tunggul.
Pak Tunggul hanya takjub melihat Arsy yang begitu cantik dengan setelan baju terusan pendek dan sepatu balet. Sempurna.
Dengan cepat, Arsy mendorong kereta belanjanya yang kosong dan menghampiri Mama Tina dengan terangah -engah.
"Kenapa Sy?" tanya Mama Tina lembut dn mengusap kening ARsy yang berkeringat.
"Ada Pak Tunggul, guru Arsy. Dia lihat ini," ucap Arsy bingung sambil mneunjukkan perutnya.
__ADS_1
"Udah gak apa -apa. Biarkan saja mereka tahu. Toh, smeua sudah selesai. Tinggal nunggu klulusan, terus mereka mau mengeluarkan kamu?" ucap Mama Tina menenangkan Arsy.
Ucapan Mama Tina ada benarnya Juga. Arsy harus lebih terlihat santai. Kalau pun ketahua, tentu Papah Baron dan Mama Tina akan membelanya. Ini cucu kembarnya. Gak ada alasan untuk di sembunyikan lagi.