
Rombongan Bis itu sudah memasuki pelabuhan gilimanuk untuk menyebrang menuju pelabuhan tanjung perak.
Semua para penumpang turun dan berjalan masuk menuju kapal. Teddy yang sudah turun pertama kali mencari -cari keberadaan Arsy, istrinya. Sudah waktunya untuk istri labilnya itu minum susu hamil.
Sore itu begitu ramai dan padat sekali. Ada beberapa rombongan study tour juga dari sekolah lain dan dari kota lain. Kebetulan rombongan bis Teddy datang lebih awal sehingga mendapatkan temapt terlebih dahulu, sedangkan bis yang di tumpangi Arsy adalah bis dalam antrian terkahir.
Jangankan untuk mencari tempat, untuk bisa naik ke atas kabin saja terasa sulit sekkali, karena saking banyaknya orang mengantri di bagian tangga yang akan naik ke atas.
"Jangan di lihat. Ekhem ... Maksudku jangan lihat ke bawah, takutnya kamu akan pusing, karena kapal sudah akan berjalan," titah Bismo pelan yang terus mendekap Arsy dan menggandeng mantan kekasihnya itu.
Teringat masa -masa indah dulu. Arsy yang manja selalu saja ingin di perhatikan dan di pedulikan setiap saat. Bismo tidak pernah keberatan dengan sikap Arsy yang memang kekanak -kanakan seperti itu, bahkan Bismo malah senang, itu tandanya Arsy hanya membutuhkan dia. Tapi, dalam sekejap semua mimpi itu hilang dan musnah begitu saja bagai butiran debu yang di terpa oleh angin.
Arsy mengangguk paham. Ia fokus pada tangga yang ia naiki agar tidak terpeleset dan terjatuh ke bawah, karena memang tangga itu kurang safey dan pegangannya kecil dan tidak ada pagar sebagai pembatas.
Kapal itu mulai berjalan pelan dan perlahan maju hingga terasa angin kencang menerpa tubuh mungil Arsy. Saat kapal sudah berada di tengah laut, Arsy dan Bismo baru bisa naik ke atas. Tapi mereka tidak dapat tempat duduk dan terpaksa Arsy dan Bismo memilih ke ujung depan kapal seperti ala -ala titanic gitu.
Awalnya memang tak terasa mual dan pusing. Tapi lama kelamaan, Arsy mulai mabuk laut. Tubuhnya yang mungil mulai terhuyung ke kana dan ke kiri secara tidak seimbang. Pandangannya juga mulai kabur, dan rasa mual itu mulai sesak naik hingga ke ulu hati.
Beberapa kali Arsy nampak memejamkan kedua matanya dan memegang kepalanya.
"Kamu mual Sy? Mau minum atau apa?" tanya Bismo panik.
"Mau muntah rasanya," ucap Arsy dengan wajah yang tak kuat menahan rasa mual yang semakin terasa di ulu hatinya.
Bismo memegang erat tangan Arsy. Ia sendiri bingung karena memang sudah tida ada lagi tempat duduk untuk mereka. Dan banyak orang juga berdiri dan ber swa foto di seitar dek kapal.
Wajah Arsy sudah pucat pasi. Ia menahan segala rasa di dalam tubuhnya yang tidak enak. Ingin rasanya berbaring begitu saja di lanati kapal itu kalau tidak malu dengan yang lainnya. Paling tidak bisa mengurangi rasa mualnya.
Tubuh Arsy mulai merapat ke Bismo dan kepalanya di rebahkan di bahu Bismo. Ombak laut yang cukup keras di terjang kapal membuat kepalanya semakinteasa pusing.
__ADS_1
"Mo ... Arsy gak kuat," lirih Arsy di bahu Bismo. Ia sudah emmejamkan kedua matanya. Tangannya terasa sangat dingin dan banyak mengeluarkan keringat.
"Sy ... Arsy ... Kuat Sy. Sebentar lagi sampai," ucap Bismo pelan.
Arsy sudah tak mendengar lagi suara Bismo. Arsy pun tak menjawab panggilan Bismo membuat lelai itu semakin bingung.
"Sy ... Arsy ...." panggil Bismo kembali. Bismo menatap Arsy yang terpejam kedua matanya. Bibirnya nampak putih dan terlihat sangat pucat. tangan Bismo pun menepuk pelan pipi Arsy dan RAsy tak bergerak sedikit pun.
Bismo begitu cemas dan langsung memeluk Arsy erat agar tidak terjatuh. ia bertahan dengan kondisi ini agar Arsy bisa di selamatkan tepat pada waktunya.
Sejak tadi Teddy nampak tidak tenang duduk di dalam kapal. Sesekali ia berdiri dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ituv dan mencari sosok istri labilnya. namun, Ary memang tidak ada di ruangan itu.
"Arsy belum ketemu Pak?" tanya Wulan pelan yang tahu dengan kebingungan Teedy sejak tdi.
Teddy menggelengkan kepalanya pelan.
"Paling juga di atas dek kapal bersama teman -teman yang lain. Arsy kan sedikit narsis sdan suka sekali foto -foto. Lagi pula kenapa harus di pedulikan. Dia saja tidak peduli dengan barang -barang bawaanya. Gadis begitu di pilih sebagai tunangan, gak salah Pak?" tanya Bu Lina yang masih saja terlihat nyinyir dan sinis soal Arsy.
Teddy tak memperdulikan kata -kata Bu Lina. Ia memilih diam dan pergi untuk mencari Arsy.
"Pak ... Biarkan saja dulu," ucap Wulan pelan.
"Say harus cari Arsy. Kalau ada apa-apa dengan Arsy bagaimana? Saya tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri," ucap Teddy pelan.
Baru juga kan beranjak dari tempat duduknya dan membawa beberapa barang milik Arsy. Kapal pun bergoyang. Mesinnya mati, itu tandanya, kapal sudah memasuki area pelabuhan. Hanya saja masih antri berada di lautan menunggu masuk ke dalam dermaga, karena masih ada kapal lain yang stay di sana.
Tubuh Teddy sedikit terhuyung dan hampir saja terjatuh karena tidak seimbang dan tidak ada pegangan.
Dengan sigap Bu Lina pun berdiri dan memegang tangan Teddy dengan erat. Keduanya hanya saling berpandangan. Teddy yang terkejut mendapati Bu Lina yang berdiri di depannya sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Teddy langsung melepaskan tangannya perlahan. Teddy tidak mau ada salah paham. Apalagi, ada Wulan di sana yang bisa menjadi wartawan bagi Arsy. Walaupun Wulan tidak akan menambah -nambahkan cerita seperti tukang ghibah pada umumnya.
"Saya gak mau ada orang salah paham. Maaf Bu," ucap Teddy pelan dan bergegas keluar dari ruangan itu.
"Sudah di tolongin bukan bilang terima kasih," ucap Bu Lina kesal.
"Terima kasih Bu," teriak Teddy keras tanpa menengok ke arah Bu Lina.
Bu Lina tersenyum lebar dan puas dengan jawaban Teddy kepada dirinya. Jawaban terima kasih saja sudah membuat hatinya berbunga -bunga. Maklum perawan tua, sekalinya agak di pepet gombal bisa terbang ke awan.
"Yaelah Bu. Baru di bialng terima kasih aja udah enyum -senyum. Lihat Arsy saja di perhatiin lebih sama Pak Teddy biasa aja," jawab Wulan yang muali kesal melihat gerak gerik guru bahasa indonesianya ini.
"Lha. Kamu kok nyinyir sih, Lan? Ibu saja tidak pernah mau tahu sama urusan kamu, lho. Ibu bahagia karena bis amemegnag tangan Pak Teddy, lembut banget," ucap Bu Lina dnegan rasa bahgia. Sampai sampai tangannya pun di cium agar wangi Pak Tedy masih melekat di telapak tangannya.
"Dasar lebay," cicit Wulan lirih. ADa guru yang begini, sangat terobsebsi dengan rekan kerjanya sendiri yang jelas -jelas sudah bertunangan dengan anita lain.
"Apa kamu bilang lebay? Lan ... Sebelum janur kuning melengkung. Pak Teddy itu masih milik bersama. Bisa saja dia nanti di tengah jalan putus sama Arsy. Apa yang tidak mungkin, yang penting saingan secara sehat. Iya kan?" ucap bu Lina dengan rasa percaya dirinya bisa merebut Teddy dari Arsy.
"Terus? Kalau ternyata janur kuning itu sudah melengkung, dan Ibu gak tahu? Ibu mau di sebaut pelakor?" tanya Wulan ketus.
Bu Lina melotot ke arah Wulan. Muridnya yang satu ini makin lama makin membuatnya kesal. Selama di bali ia harus bertemu dnegan orang -orang yang di anggap mengganggu perjalanan ia mendekati Pak Teddy.
"Maksudnya kamu mau bilang, kalau Arsy dan Pak Teddy menikah diam -diam? Oh gak mungkin. Aturan di sekolah sudah jelas bukan. Seorang siswa tidak boleh menikah atau hamil, itu tandanya mereka harus keluar. Kalau saya sampai tahu ada berita mereka sudah menikah, sya pastikan, saya orang pertama yang akan membuat Arsy keluar dari sekolah di saat akan ujian akhir. Biar dia tahu, rasanya kecewa dan sakit hati. Bilang sama sahabatmu itu!!" ucap Bu Lina dengan suara tegas.
Suara Bu Lina begitu terngiang di telinga Wulan. Ia dan Arsy memang sedang hamil, bedanya Arsy hamil ada suami dan dia tidak. Tentu ancaman bagi keduanya adalah di keluarkan dari sekolah ini.
Wulan menelan air liurnya sangat dalam. Rasanya ia ingin meminum darah manusia sebagai amunisi agar tubuhnya tidak lemas mendadak seperti ini.
"Kenapa? Kamu takut? Kalian punya rahasia besar?" tanya Bu Lina makin penasaran pada kedua sahabat itu.
__ADS_1