Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
SEMUA LULUS DENGAN NILAI MEMUASKAN


__ADS_3

Kepala sekolah turun dari podium dan berjalan menghampiri Wulan serta Arsy. Langkah kakinya begitu tegas berjalan kepada dua murid berprestasi itu.


"Gak mungkin, Arsy buka sweater dong. In perut udah buncit," ucap Arsy berbisik sangat lirih sekali.


"Wulan hanya diam. Kepalanya terus mencari cara, agar kepala sekolahnya membatalkan niatnya.


Sepatu hitam pantopel yang nampak kemilau itu sudah berada di bawah tepat di depan sepatu kets Arsy.


"Kalian memang sengaja mau menjadi pembangkang. Cobalah, di akhir masa bakti kalian bersekolah di sini tidak menjadi siswi yang memberontak pada aturan," ucap kepala sekolah itu dengan suara lantang.


"Kenapacuma kami yang di salahkna. Arsy itu sedang sakit Pak," ucap Wulan tegas membela sahabatnya.


"Buka sweaternya!! Kalau saya bilang buka, ya buka. Atau ada yang kamu tutupi?" ucap kepala sekolah itu dengan suara keras.


Semua murid memandang ke arah Wulan dan Arsy dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Maju ke depan!!" teriak Kepala sekolah dengan suara lantang dan keras.


Arsy hanya bisa melirik ke arah Wulan yang menatap tajam ke arah Kepala sekolah dengan tatapan tidak suka.


Satu orang guru juga berteriak di atas podium memakai mic, agar kedua siswi itu cepat ke depan.


Wulan dengan cepat menggandeng tangan Arsy, sahabatnya dan berjalan menuju ke arah depan lapangan. Suasananya terlihat menegang dan begitu tenang. Desas desus tentang keberadaan perut buncit Arsy seolah menjadi berita ter -viral satu sekolah. Bukan tak ada yang tahu, lebih tepatnya tidak ada yang berani bertanya secara langsung kepada Arsy dan Wulan, sahabatnya. Secara Wulan yang galak sellau menjadi algojo Arsy kemana pun pergi hingga latihan drama pun, Wulan sellau ada di dekat Arsy.


Kedua gadis bersahabat itu sudah ada di depan. Beberapa guru maju ke depan hingga membuat Arsy sedikit ketakukan. Genggamannya semakin erat di tangan Wulan dan membuat Wulan mencoba menenangkan sahabatnya itu.


Dan ... Ini dia, dua siswi yang seharusnya di jadikan sebagai pelajaran untuk kalian semua. Karean mereka berdua adalah dua siswi yang berhasil mendapatkan nilai ttinggi di ujina akhir nasional di kota ini.


Keduanya juga saling berpandangan tak percaya. Tak lama semua orang di sana memberika tepuk tangan yang sangat keras sebagai bentuk ucapan selamat atas kesuksesan mereka dan hasil kerja keras mereka.


Rangkaian bunga di kalungkan kepada keduanya. Begitu juga dengan piala bergilir untuk tiga swa atau siswi berprestasi.

__ADS_1


"Selamat untuk kalian berdua. Pertahannkan prestasi kalian untuk di masa depan. Sukses untuk kalian berdua, beasiswa kalian pun sudh di setujui oleh pihak sekolah. Kalian berdua bisa melanjutkan studi kdokteran di London," ucap Kepala sekeolah memberikan selamat.


Lagi -lagi kedua sahabat tu di berikan kejutan yang luar biaa membahgiakan.


"Bapak serius? Kita berdua?" ucap Wulan dengan suara keras tak percaya.


"Iya. Kalian berdua. Sebntar," ucap kepala sekolah pelan dan kembali naik ke podium.


Kepala sekolah itu terdengar sedang menarik napas dalam dan menurunkan kaca mata tebalnya di tangan. Terlihat satu tangannya merogoh saku celananya dan mengambil sapu tangan lalu mengusap wajahnya dan kedua matanya yang basah. Kaca matanya di pasang kembali dan di benarkan agar bisa pas di kedua matanya dan fokus melihat semua murid di depannya.


Kepala sekolah mulai berbicara, "Saat ini saya sedang beduka sebenarnya. Salah satu teman kita, ada yang sedang koma di salah satu rumah sakit. Kita doakan semoga, sahabat kita itu sembuh dan cepat pulih kemabli. Lalu bisa mengejar impiannya. Dia memang murid baru, tapi dia bisa membawa nama harum sekolah dengan prestasi terbaiknya di olimpiade matematika kemarin. Dia juga salah satu murid yang seharusnya berada di depan bersama Wulan dan Arsy," ucap Kepala sekolah pelan dan emnunduk.


Arsy dan Wulan saling menatap dan saling berpegangan tangan. Arsy dan Wulan hanya menebak. Ia tahu siswa itu adalah Tono.


"Kabar baiknya ... Kalian semua satu angkatan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Selamat untuk kalian semua," ucap Kepala sekolah sambil memberika tepuk tangan kepada semua muridnya yang ikut berbahagia. Mereka semua langsung ricuh dan riuh ramai melemparkan topi mereka ke atas dan berteriak kegirangan karena menyambut kelulusan mereka semua.

__ADS_1


Arsy dan Wulan saling berpelukan dan Arsy menatap ke arah balkon lantai tiga. Sosok itu berdiri di sana, menggunakan topi hitam dan kaca mata hitam serta pakaian tebal seolah menatap ke arah lapangan dan menatap ke arah Arsy.


"Lan ... Lihat ke balkon," ucap Arsy berbisik.


__ADS_2