
Arsy diam seribu bahasa sambil brusaha menutupi jarinya yang tak lagi memakai cincin pernikahan.
Arsy mengusap lembut jarinya. Rasanya ingin menghilang secepatnya dari hadapan Teddy dan mengambil cincin pernikahannya di dalam dompet dan memakai kembali di jari tengahnya sabil bilang.
"Lihat ... Cincinku sangat indah,"
Itu yang ingin di lakukan Arsy saat ini.
"Gak bisa jawab kan? Sebenarnya yang malu itu, Mas atau kamu? Hah?" tanya Teddy dengan nada suara agak tinggi.
Mata Arsy mulai berkaca -kaca. Ia memang bersalah tapi Teddy juga tidak perlu berkata dengan suara tinggi yang bikin dadanya sesak sekali.
Arsy langsung bangkit berdiri menuju meja kerja Teddy dan membuka tas ranselnya lalu mengambil dompet dan mencari cincin pernikahannya. Kedua matanya membola dan terus mencari cincinya yang tak ada di dalam dompet itu. Mungkin kalau saat itu Teddy melihatnya, raut wajahnya sudah memerah karena panik dan takut.
Teddy hanya menatap punggung Arsy yang sejak tadi hanya berdiri tegak dengan tangan bergetar.
__ADS_1
"Kenapa? Kalau ambil cincin kok lama?" tanya Teddy sengaja memojokkan.
Posisi Teddy hanya ingin Arsy lebih menghargai lagi hubungan pernikahan mereka. Mneikah bukan hanya perkara memiliki anak, tapi juga proses menjalaninya itu yang terkadang tidak bisa di hindari menerima ujian dari berbagai masalah.
Arsy memejamkan kedua matanya. Rasanya kedua matanya begitu panas dan berair. Ia memberanikan diri membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah ranjang kembali.
Ia terduduk dan mengingat kembali, kemana cincin itu ia letakkan.
"Gak ada cincinnya? Menjaga cincin saja gak bisa? Gimana kamu mau menjaga diri kamu sendiri untuk tetap bertahan dengan Mas? Kamu seperti sedang bermain -main dalam pernikahan ini?" ucap Teddy kesal.
"Ma -Maaf Mas. Ta -tapi biasanya ada di dompet," jawab Arsy lirih. Arsy nampak sangat menyesal dengan kejadian ini.
Terdengar suara hembusan napas Teddy yang begitu panjang dan dalam lalu di hembuskan dengan keras sebagai tanda rasa kecewanya.
Arsy menoleh ke arah Teddy yang kembali merebahkan tubuhnya kembali dan menyelimuti sebagian tubuhnya tanpa menatap ke arah Arsy.
__ADS_1
"Mas Teddy marah?" tanya Arsy lirih. Suara itu terdengar jauh dan nampak ragu. Nadanya begitu lemah dan suaranya sedikit bergetar ketakutan. Arsy tahu, Teddy tentu akan sangat marah sekali.
Tak ada jawaban dari mulut Teddy. Ia lebih baik diam di bandingkan harus mengeluarkan energi untuk marah. Seteleah beberapa menit tak ada jawaban. Arsy kembali menatap Teddy yang masih memejamkan kedua matanya. Entah memang sudah tertidur atau berpura -pura tidur. Arsy sama sekali tidak tahu.
Ia kembali berdiri dan mengeluarkan semua buku -buku pelajran yang ada di dalam tas sekolahnya. Ia nampak membuka sau per satu buku tersebut, mungkin saja cincin itu ikut nyangkut di sana.
Peluhnya sudah banyak di sekitar dahinya. Padahal suhu di kamar itu begitu dingin. Arsy begitu takut sekali.
Ia mengambil ponselnya dan mulai mengetik chat kepada Bunda Bella.
Tapi, Bunda Bella belum membalas, ponselnya pun sepertinya sedang tidak aktif.
Ia terduduk di kursi kerja milik Tedy sambil bersandar. Tubuhnya nampak tegang. Kedua matanya pun masih mencari -crai di lantai, siapa tahu cincinnya jatuh.
"Kemana sih? Cincin oh cincin, jangan buat Arsy bingung," ucapnya lirih pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Arsy keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum.