Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
AKHIR MASA BAKTI PUTIH ABU


__ADS_3

Hari ini adalah hari penentuan bagi semua anak kelas tiga. hari yang sudh di tunggu -tunggu hingga akhirnya ujia akhir nasional pun tiba.


Selama tiga hari ke depan, semua anak kelas tiga akan berjuang dan bertarung dengan semua apa yang telah di timba ilmu di sekolah.


Semua anakterlihat cemas dan taut. Mereka hanya takut gagal. Mereka hanya takut tak bisa menjawab semua pertanyaan dnegan baik karena kegugupannya.


"Sudah siap menjadi seorang calon dokter?" tanya Wulan kepada Arsy sambil terkekeh.


"Sudah dong. Semua demi mereka," ucap Arsy pelan sambil menunjuk ke arah perutnya yang mulai membuncit.


"Berhasil ya?" ucap Wulan pelan sambil mengusap pelan perut Arsy.


Arsy hanya mengangguk pelan Ia paham maksud ucaan Wulan. Ia berhasil menutupi kehamilannya selama ini hingga usia kandungannya menginjak ketiga bulan lebih.


Bel masuk sudah berbunyi. Tanda ujian akhir pun segera di mulai.


Setelah ini, semua anak kelas tiga menunggu keputusan lulus atau tidak dan itu adalah hal yang paling membuat jantung mereka berdebar tak jelas.


Rangkaian ujian sudah terlewati semua. Masa -masa indah memakai seragam putih abu pun akan segera berakhir. Tapi tidak dengan berakhirnya persahabatan, pertemanan dan tali silaturahmi yang merekatkan mereka menjadi saudara dan keluarga.


Semua hasil, semua doa, semua usaha, dan kerja keras akan meneruskan perjalanan anak -anak kelas tiga menuju jalan cita -cita mereka.


Impian, harapan, keinginan dan semua cita -cita setinggi langit itu akana mereka gapai seiring dengan kedewasaan yang menuntut mereka haus akan sebuah kebutuhan.


Cerita indah yang sempat terukir manis akan menjadi kenangan manis. Cerita konyol juga akan mengisi pengalaman yang harus di jadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi.


Suasana riuh dan kacau di akhir ujian. Semua murid melempar topi mereka secara bersama -sama di lapangan sekolah.


"Semoga kita lulus semua," ucap salah satu pentolan kelas tiga setelah kepergian Bismo dari sekolah itu.


"Aamiin," semua menjawab serempak mengamini.


"Kita pasti lulus dengan nilai yang tinggi semua," ucap salah satu murid laki -laki dengan keras.


"Aamiin," jawab semua anak serempak sambil tertawa.


Hari semakin siang. Semua amurid beraktivitas kembali seperti biasa. Murid yang mengikuti ekstrakurikuler akan berlatih. Murid yang tak ikut apapun juga pulang ke rumah masing -masing.


Satu minggu lagi, pengumuman kelulusan. Semua siswa di harapkan daang tepat waktu dan berkumpul di lapangan sekolah dengan memakai seragam putih abunya.


"Arsy ...." panggil Tono pelan.


Arsy pun menoleh ke arah Tono. Semenjak kejadian jatuhnya Arsy. Hubungan pertemanan mereka menjadi sedikit merenggang.

__ADS_1


"Ya?" jawab Arsy pelan saat akan memasuki kelasnya untuk mengambil tas sekolahnya.


"Maafkan aku," ucap Tono pelan sambil mengulurkan tangannya, mengajak Arsy bersalaman sebagai permintaan maaf.


Arsy tersenyum dan mengulurkan tangannya unutk menerima permintaan maaf Tono.


"Arsy sudah memaasfkan sejak lama. Jangan pernah di ulangi, walaupun itu hanya candaan," ucap Arsy pelan.


"Ya. Terima kasih, sudah mau jadi temanku," ucap Tono pelan.


"Iya. Sama -sama," jawab Arsy sambil memberikan senyum yang indah.


"Aku ingin berubah, Sy," ucap Tono pelan.


"Bagus dong. Kamu harus berubah. Semangat Tono, ini smeua demi cita -cita kamu," ucap Arsy pelan menyemangati.


"Ini karena kamu, Sy. Aku berubah juga demi kamu," ucap Tono pelan.


"Karena Arsy? Demi Arsy? Kok bisa?" tanya ARsy bingung.


"Kamu adalah wanita yang baik. Wanita yang gak pernah pilih -pilih teman, dan kamu tetap mau berteman walaupun aku seperti itu," ucap Tono pelan. Ia hanya memberikan kode bahwa ia seperti itu, dengan maksud untuk menjelaskan ia bukanlah lelaki baik -baik.


"Semua orang mempunyai hak yang sama. Hak untuk di perdulikan, hak untuk di perhatikan, hak untuk di kasihani, dan hak untuk berteman. Bagi Arsy, selama orang itu baik dan tidak melecehkan Arsy. Arsy anggap ia adalah teman yang baik, walaupun di luar sana, ia seperti apa? Arsy gak pernah peduli," ucap Arsy menjelaskan.


Tono menatap lekat kedua mata Arsy.


"Ini ada kenang -kennagan dari aku. Semoga saja, ini menjadi kenangan termanis, karena kita pernah menjadi teman," ucap Tono pelan.


Tono memberikan sebuah kotak yang tida besar dan tidak kecil juga.


"Apa ini?" tanay Arsy pelan.


"Bukalah saat acara pementasan drama perpisahan nanti, ucap Tono menjelaskan.


Arsy malah tertawa mendengar permintaan Tono.


"Kenapa harus saat pementasan? Itu masih dua minggu lagi," ucap Arsy pelan.


"Aku mencintai kamu, Sy," ucap Tono dengan suara lantang dan jujur.


Kedua mata Arsy langsung mengerjap kaget. Ia tak menyangka Tono akan mengungkapkan perasaannya dengan jujur.


"Tono ...." ucapan Arsy langsung di sela oleh Tono.

__ADS_1


"Aku tahu. Kamu sudah menikah, kamu pun sedang hamil kan?" ucap[ Tono setengah berbisik.


Arsy langsung menutup mulut Tono dnegan tangannya.


"Gila kamu. Tahu dari mana? JAngan berkata yag tidak -tidak. Ini sekolah, bisa -bisa Arsy di keluarkan," ucap Arsy kesal.


Kedua matanya mengedar melihat situasi di sekelilingnya. Takutnya ada orang yang mendengar, habislah riwayat Arsy sebelum batas waktunya.


"Tenang. AKu tutup mulut. Aku pamit ya. Kita ketemu lagi saat pementasan," ucap Tono tertawa penuh arti.


"Hei ... Minggu depan itu kan pengumuman kelulusan. Memangnya kamu gak akan datang?" tanay Arsy pelan kepada Tono.


"Gak tahu. Aku mau rehab," jawab Tono singkat.


Belum juga selesai bicara. Tono pun di panggil oleh kepala sekolah.


"Aku ke kantor kepala sekolah dulu. Kalau mash ada umur kita ketemu lagi, kalu gak, kita ketemu di pemetasan. Kalau gak juga, kamu buka kotak itu," ucap Tono menjelaskan.


"Kamu itu pemeran utama. Mana mungkin bisa di gantikan oleh orang lain. Kita sudah berlatih mati -matian lho," ucap Arsy pelan.


"Iya Sy. Aku akan datang," jawab Tono pelan.


"Oke. Arsy tunggu," jawab Arsy pelan.


"Ekhemm ... Ini untuk aku ya. Buat kenang -kenangan," ucap Tono sambil memegang foto Arsy yang sedang tersenyum dengan sangat manis.


"Iya. Jangan buat nakut nakutin tikus ya? Selamat di panggil kepala sekolah," teriak Arsy sambil tertawa saa Tono sudah berlari menjauhinya menuju ruang kepala sekolah.


Arsy hanya menatap punggung Tono yang kemudian meghilang saat emmasuki ruang kepala sekolah.


"Akrab banget. sampai nyimpen foto, ehh ... Ada kado perpisahan juga. Kayak mau pergi jauh aja. Padahal minggu depan ketemu lagi, dua minggu lagi pentas bareng," ucap Wulan menggoda Arsy.


"Husttt ... Jomblo diam ya," ucap Arsy tertawa.


"Loe gak mau ke London?" tanay Wulan pelan.


"Gak. Nanti aja sekalian. Capek Lan," ucap Arsy pelan. Ia membayangkan belasan jam duduk di kursi pesawat dan itu sangat melelahkan.


"Gak kangen sama suami? Apa kabar tuh?" tanya Wulan semakin menggoda Arsy.


"Gak tahu. Gak mau tahu," jawab Arsy ketus.


Wulan hanay terkekeh dan terus menggoda sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2