
Mendengar ucapan Arwana, Nada hanya bisa mengulum senyumnya. Jika bukan karena menginginkan nyawanya masih bisa di selamatkan. Nada tidak mungkin, menyerahkan tubuhnya untuk mau di sentuh - sentuh.
Arwana mulai gemas dengan aktivitas satu tangannya itu. Rasanya ia sudah tidak mau melayangkan pikirannya untuk terus berhalunisasi, sedangkan tepat di depannya obyek untuk melampiaskan sudah ada.
"Nada ... ." lirih sekali panggilan Arwana yang sudah terselimuti dengan birahi itu.
Arwana pun langsung mengangkat tubuh Nada dan di rebahkan di kasur mewah itu tanpa aba - aba hingga membuat Nada semakin cemas sekali. Nada hanya beharap Nyai Konde datang tepat waktunya dan Arwana tidak merusak keperawanannya.
Arwana sudah melucuti pakaiannya sendiri dan hanya tersisa ****** ******** saja. Arwana baru saja akan beringsut menaiki tubuh Nada yang masih memakai pakaian itu, dan kedua tangannya berusaha menggapai gundukan kenyal yang masih tersimpan rapi di dalam bra hitam yang berbahan broklat itu.
Rok pendek Nada pun sudah tersingkap hingga menyembulkan ****** ***** berwarna merah darah dengan gundukan yang jelas terlihat kelebatannya rambut intimnya.
"Saat tangan Arwana mulai menyentuh gundukan itu, sontak Nada berteriak keras. Tubuhnya meremang seperti tersengan aliran listrik. Antara ingin di ulangi dan risih itu menjadi sesuatu yang berbeda tipis maksudnya.
"Mas ... Mas Arwana. Stop dulu. Jangan terburru - buru, Nada malah takut," ucap Nada beralasan. Padahal Nada benar - benar takut dan cemas.
Arwana yang sudah mulai mneingkat birahinya pun mendobgakkan kepalanya menatap lekat kedua bola Nada yang berbicara dengan begitu memohon.
"Kamu kenapa? Takut? Aku akan melakukannya dengan peln, Nada. AKu tidak mungkin menyakitimu. Kita berdua sama - sama belajar, bukan? Aku juga belum pernah seperti ini," ucap Arwana dengan sangat jujur.
__ADS_1
"Bukan begitu Mas. Nada sepertinya belum siap," jawab Nada yang menutup kembali tubuhnya dengan pakaian yang sudah terlepas dari kancing - kancingnya.
"Aku akan melakukannya dengan pelan Nada. Aku janji tidak akan membuat kamu sakit," ucap Arwana sendu. Tubuhnya mulai sesak sekali ingin segera melepas kenikmatan yang tertahan.
"Ekhemmm ... Matikan dulu lampunya," pinta Nada dengan uara pelan.
Nada bingung harus berbuat apa. Tidak ada tnda - tanda Nyai Konde adatang tepat pada waktunya. Nada pun tidak tahu, bagaimnaa pergantian posisinya dengan Nyai Konde yang akan menghisap keperjakaan Arwana.
Arwna tersenyum sumringah. Ia pikir permintaan Nada adalah hal yang wajar. Melakukn hubungan intim dnegan mematikan lampu adalah hal klasik. Mungkin karena malu atau rasa kurang percaya diri.
"Matikan lampunya? Bener? Siap ya? Kalau sakit bilang," titah Arwana pelan.
Nada hanya mengangguk kecil dengan senyum kecut dalam kecemasan.
Hawa dingin menyelimuti dan di iringi hembusan angin yang entah masuk dari mana asalnya. Sedangkan kamar itu sangat tertutup tidak ada celah kecil untuk udara luar masuk ke dalam kamar hotel itu kecuali alt pendingin kamar itu.
Tubuh Arwana sedikit merinding. Wangi bunga kantil pun tiba - tiba semerbak menyebarkan aroma harus di sekitar kamar itu.
Arwana tidak curiga. Suasananya begitu sangat hening dan senyap. Jarak pandang pun tak terlihat. Yang Arwana ingat, Nada masih terbaring lemah dan pasrah di atas kasur kamar hotel itu untuk siap di terkam dengan pedang tajam yang sudah lama terasah namun tak pernah sekali pun menghujam daging mentah manapun.
__ADS_1
Aroma wangi kembang tujuh rupa itu semakin menusuk indera penciuman Arwana. Tanpa beripikir buruk, Arwana pun beringsut naik ke atas tempat tidur dan mulai meraba - raba tubuh yang terbaring di atas kasur mewah itu.
Tubuh indah yang selalu di idam - idamkan oleh Arwana kini benar ada di depan mta Arwana.
Arwana terkejut, tubuh itu sudah polos. Padahal tadi jelas sekali Nada masih memakai pakaiannya dengan lengkap.
Perlahan tubuh itu di jamah dan di telusuri dengan jari - jari manis milik Arwana. Kenyal, empuk, halus dan begitu mulus seolah tanpa ada cacat. Tapi, sedikit berbeda. Tubuh itu lebih lunak dan sedikit kurus, wangi tubuhnya pun malah mirip dengan wangi kemenyan dan dupa buka wangi tubuh manusia pada umumnya. Biasanya wewangian itu bercampur dengan keringat dan peluh sehingga menimbulkan bau sedikit asam.
Tidak ada pergerakan dari lawannya itu sama seali. Tubuh polos yang di kira milik Nada pun hanya terdiam bagaiakan patung yang pasrah tanpa ada perlawanan sedikit pun. Mungkin saja, belum mencapai tujuan klimaknya hingga semua terasa hambar.
Nada memejamkan kedua matanya, perlahan di buka. Ia berada di tempat yang begitu sempit dan sanga gelap. Entah tempat apa itu yang menyulitkan Nada untuk bergerak.
'Tempat apa ini? Sempit sekali, tubuhku sampai tak bisa bergerak bebas, dan tidak ada udara segar di sini, semuanya terasa sangat pengap,' batin Nada sabil berusaha menarik napas dalam dan menghirup napas yang begitu banyak ke dalam rongga parunya agar tak terasa pusing dan pening.
Sekilas terdengar suara suara leguhan baik suara perempuan dan lelaki. Suara kenikmatan sedang bercinta. Apakah itu suara Arwana? Ia sedang bercinta dengan Nyai Konde? Aih ... Nada bergidik ngeri. Tak bisa membayangkan jika seorang manusia harus bercinta dengan makhluk yang belum jelas. tapi jelas Nyai Konde itu adalah makhluk halus yang ingin membalas dendam.
Tiba - tiba saja Nada berpikir tentang beberapa rentetan kejadian yang di alaminya.
'Apa jangan - jangan aku hanya di jadikan boneka saja? Aku hanya di manfaatkan menjadi sosok manusi aynag bisa menggiring laki - laki yang masih perjaka untuk masuk pernagkap Nyai Konde demi meningkatkan ilmu hitamnya dan membalas dendam kepada Ki Melet?' Nada terus berpikir dan membatin.
__ADS_1
Suara leguhan dan percikan percintaan itu semakin kentara dan terdengar jelas. Arwana terus meracau tak jelas, begi juga dengan Nyai Konde yang terus meleguh kenikmatan. Suara itu sangat dekat, bahkan seseklai Nada membayangka apa yang sedang di lakukan keduanya di aas kasur. Pertempuran basah yang membuat keduanya kenikmatan dan terpuaskan.
'Arghh ... Kenapa aku malah ikut membayangkan yang tidak - tidak. Aku harus bagaimana ini? Ini sudah satu perjaka yang di dapat Nyai Konde dan masi membutuhkan dua puluh sembilan perjaka lagi. Atau kira - kira aku tanyakan saja? Apa maksud dengan pencarian perjaka ini? Kalau Nyai Konde bekelit dan tidak bisa menjelaskan, berarti semua yang dia minta itu hanya untuk kepentingan pribadinya. Lalu, aku harus minta tolong pada siapa?' batin NAda kembali. Kedua matanya terus membuka menatap ruangan gelap dan sempit itu. Namun, yang terlihat hanya gelap saja.