Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
HISTERISNYA ARSY


__ADS_3

Suara rintihan itu adalah dua orang korban kecelakaan pesawat tak lain Teddy dan Bismo. Keduanya saling berpelukan. Teddy yang masih setengah sadar pun merintih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Pandangannya begitu gelap. Sedangkan Bismo sama sekali tak di ketahui bagaimana kondisinya. Apakah hidup atau mati?


Para petani itu langsung menolong kedua korban kecelakaa pesawat dan membawanya di rumah sakit terdekat untuk segera mendaatkan pertolongan.


Lokasi mereka terlempar agak jauh dari titik jatuhnya pesawat. Saat bagasi barang terbuka dan sebagian tubuh pesawat lepas dari kerangka. Teddy dan Bismo saling berpegangan erat dan bahkan mereka berpelukan. Hanya itu yang bisa di ingat oleh Teddy sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri. Dan setelah beberapa hari ia baru terbangun dan Bismo tak ada pergerakan.


Skip ...


Arsy menyalakan kembali televisi di kamarnya dengan suara keras. Ia ingin mendengar langsung dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa yang ia lihat itu berita benar.


Wulan mendengar suara televisi sangat kencang pun terkejut. Ia meletakkan gelas minumannya di atas meja dan berbalik menuju ke arah kamar. Ia tak mau sesuatu terjadi kepada Arsy.


Langkah Wulan memelan, tatapan Wulan begitu iba saat tubuhnya berdiri di depan pintu kamar dan menatap ke arah Arsy yang sudah berdiri di depan televisi dengan memegang remote televisi sambil menangis sesegukan. Air matanya deras luruh membasahi pipi dan jatuh di seragam putihnya.


Sahabat mana yang tega melihat Arsy yang bertubi -tubi harus merasakan masalah yang datang silih berganti. Ini memang ujian untuk rumah tangganya, tapi ini sungguh berat untuk Arsy. Pernikahan yang masih seumur jagung dengan ujian yang tak kunjung selesai sejak pernikahan itu terjadi.


Pelan kaki Wulan melangkah maju menghampiri Arsy. Hatinya juga berdegub keras, tak sampai hatinya melihat raut kesedihan yang secara nyata terlihat di wajah Arsy.

__ADS_1


"Arsy ...." panggil Wulan pelan. Arsy tak menoleh ke arah Wulan. Kedua matanya tetap fokus menatap layar televisi tanpa berkedip. Wajahnya terlihat sangat serius sekali sambil sesekali memegangi perutnya yang mungkin terasa sakit.


Wulan memeluk bahu Arsy seolah memberikan ketenangan pada sahabatnya itu.


"Mas Teddy ...." ucap Arsy lirih dengan air mata yang terus saja luruh tanpa henti.


"Mas Teddy pasti selamat, Sy," ucap Wulan pelan. Ia juga bingung harus bersikap bagaimana. Cara apa yang harus di lakukan Wulan saat ini agar Arsy tak terus menerus bersedih.


Arsy menggelengkan kepalanya pelan. Tatapannya makin lekat ke layar televisi hingga Arsy pun terjatuh dan memukul lantai dengan kepalan tangannya dengan kencang. Ia berteriak histeris dan memanggil nama suaminya dnegan suara keras.


"Arsy ...." panggil Wulan sambil berusaha mengangkat tubuh Arsy yang begitu tegang tak mau beranjak dari lantai itu.


"Jangan seperti ini, Sy. Kamu harus kuat dan kamu harus tetap berjuang dan menjaga bayi kembarmu," pinta Wulan pelan.


"Untuk apa? Percuma? Kamu kira, Arsy mau jadi janda? Hah? Gampang kamu bilang Arsy harus kuat? Kamu bayangkan kalau semua ini terjadi sama kamu? Bisa kamu santai? Bisa kamu tenang?" teriak Arsy kesal. Wajahnya sembab dan di penuhi air mata serta leleran cairan dari hidung bercampur menjadi satu. Rambutnya sudah lepek karena keringat.


Ucapan Arsy bagai tamparan bagi Wulan. Memang peasaan Arsy saat ini pastilah campur aduk. Kalau berita itu benar, dan semua penumpang menjadi korban dan tak ada yang hidup. Maka, kelar hidup Arsy. sahabatnya itu an menjadi janda.

__ADS_1


"Iya. Gue tahu, tapi kan gak begini juga, Sy. Loe mesti kuat, loe mesti tegar dnegan semua ini," ucap Wulan masih berusaha menenangkan Arsy.


"Mudah, ya? Ngomong gak pake mikir? Ini hati!! Ada perasaannya!! Bukan tiang listrik yang tetap berdiri tegak merasakan panas dan dingin yang silih berganti," ucap Arsy sesegkuan.


Nada suarnya melemah. Ia tak sanggup lagi bicara. Tangisnya kembali pecah dan meraung -raung dengan sangat keras.


"Arsy ... Jangan begini dong," ucap Wulan lirih. Wulan ikut terduduk di lantai sambil mengusap bahu Arsy.


"Arghhhhh ...." teriakan histeris Arsy menutup ketegangan siang itu. Arsy langsung terkulai lemas. Tubuhnya semua mendingin membuat Wulan bingung. Ia tak kuat mengangkat tubuh Arys sendiri ke atas kasur.


Fix, Arsy pingsan. Wulan keluar kamar untuk mencari bantuan. Tak hanya itu, ia menelepon dokter Effendy untuk memeriksa keadaan Arsy secepatnya.


Arsy sudah berada di atas kasur. Beberapa orang tetangga kamar Arsy membantu Wulan mengangkat Arsy dan menunggu kedatangan dokter Effendy.


Berita kecelakaan itu juga sudah di dengar dokter Effendy. Ia hanya bisa ikut berduka cita. Apapun yang terjadi dnegan Teddy, Arsy di minta pasrah dan ikhlas.


Mama Tina pun datang ke apartemen setelah dokter Effendy pulang.

__ADS_1


__ADS_2