Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
AKU SAYANG KAMU


__ADS_3

Suara lantang itu jelas milik Teddy. Melati membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah direktur perusahaan yang selama ini di akui sebagai calon suaminya. Arsy sendiri terkejut dengan kedatangan Teddy yang tiba -tiba. Arsy yakin Teddy akan marah besar dengan sikap Melati kepada Arsybarusan.


Tatapan Teddy lekat kepada Melati membuat Melati sedikit cemas karena sudah berdebat dan membuat ricuh di ruangan direktur.


"Maaf Pak. Saya hanya mengantarkan bekal sepeti biasanya," ucap Melati yang langsung meminta maaf dan menundukkan kepalanya.


"Ohh ... Bekal untuk makan siang saya?" tanya Teddy yang tiba -tiba berubah sikap menjadi lembut. Melati sendiri ikut bingung dnegan perbedaan sikap Teddy. Melati tahu, biasanya sikap Teddy, sang direktur sangat dingin, cuek dan tak peduli. Tapi siang ini, sikap sang direktur agak berbda. Sikapnya lebih lembut, hangat dan tatapannya lebih terlihat manusiawi.


"I -iya bekal untuk Pak Teddy," jawab Melati sedikit ragu dan takut.


"Terima kasih ya, Melati. Nanti pasti saya makan bekalnya," ucap Teddy sambil tersenyum ramah.


"Benarkah Pak? Terima kasih ya Pak. Saya permisi dulu mau melanjutkan pekerjaan saya," ucap Teddy pelan.


Melati langsung pamit dari ruangan itu dan Teddy lngsung masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintu ruangan itu tanpa mempedulikan Arsy yang sejak tadi menatap Teddy dan berharap membela dirinya.


Teddy meletakkan smeua berkas -berkasnya di atas meja dan menatap tas bekal pemberian Melati. Ia mengeliarkan dua kotak makan dan satu tumbler. Lalu merapikan di atas meja kerjanya.


Dengan tenang, Teddy melihat waktu pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Arsy menoleh ke arah Teddy dan menatap lekat lelaki yang sejak tadi mendiamkan Arsy. Rasanya sangat menyakitkan kala kita meminta di bela, namun orang yang kita harapkan tidak berpihak kepada kita dan bahkan tidak membela kita sama sekali dan malah cenderung mengabaikan.


Arsy berjalan menghampiri Teddy yang sudah membuka dua kotak makanan pemberian Melati. Wajah Teddy begitu terlihat sumringah saat melihat isi kotak bekal itu. Satu kotak makanan berisi nasi goreng spesial dengan udang tempura. Satu kotak makan lainnya berisi puding cokelat dan tumbler berukuran sedang itu berisi jus buah naga yang dingin karrena nampak embun di sekitar wadah minum itu.


Tatapan Arsy semakin lekat dan tajam saat Teddy dnegan sengaja mulai melahap makan siang itu dnegan sangat nikmat.


"Enak?" tanya Arsy ketus dan berdiri di depan Teddy di seberang meja kerjanya.


Teddy diam dan tak menjawab, hanya memberikan mimik wajah bahagia dan puas dengan apa yang sedang di nikmati.


"Gak denger? Apa pura -pura gak denger?" tanya Arsy dengan nada suara yang mulai meninggi.

__ADS_1


"Bicara sama saya?" tanya Teddy pelan dan bersikap acuh.


Arsy mendelik dan menatap Teddy tajam.


"Bapak pikir, Arsy bicara sama siapa? Kita di sini cuma berdua?" ucp Arsy tak terima.


"Oh gitu. Bicaralah. Saya dengarkan dan saya lapar, jadi sambil makanya," ucap Teddy dengan sengaja ingin membuat Arsy kesal.


"Hah? Bapak anggap Arsy ini siapanya Bapak? Di depan Arsy, Bapak menerima bekal dari perempuan lain? Apakah itu pantas?" tanya Arsy mulai cemburu. Napasnya terdengar memburu karena emosi.


Teddy meletakkan sendik makanya dan menatap Arsy dengan santai.


"Bukankah ini mau kamu? Tidak mau saya perhatikan, tidak mau saya sentuh, dan kamu tidak mau di paksa kan? ya sudah, saya gak maksa kamu. Tapi saya lapar, salah saya ingin makan dan menerima bekal dari orang lain? Letak salah saya di mana?" tanya Teddy mulai menjelaskan dengan suara yang tetap lembut.


Teddy tidak mau berdebat dan mengintimidasi Arsy. tapi setidaknya agar Arsy lebih paham dengan yang namnaya hubungan dengan sebuah komitmen.


Mendengar ucapan Teddy, Arsy pun terdiam. Memang tadi Arsy malah pergi dan mendorong Teddy saat Teddy berusaha menciumnya. Arsy hanya belum terbiasa dan masih risih. Bgimana sih, kita di hadapkan pada hubungan yang SAH, namun kita belum mnyukai pasangan kita dengan tulus. Semua sentuhan itu malh membuat emosi bukan membuat tenang.


Arsy hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. Mencoba menenangkan hatinya yang sejak tadi mulai merasakan cemburu.


"Gak salah. Habiskan saja makanan calon istri Bapak," ucap Arsy pelan. Arsy langsung berbalik dan kembali duduk di sofa.


"Kamu cemburu?" tanya Teddy kemudian dan menutup semua kotak bekal dan memasukkan ke dalam tas bekal itu kembali.


"Gak," jawab Arsy pelan. Ia mencoba meredam semuanya. Hari ini moodnya semakin tidak baik.


Teddy berjalan menghampiri Arsy dan duduk di sebelahnya sambil ikut bersandar di sofa itu. Tangannya menggenggam tangan Arsy dnegan erat. Lalu di cium punggung tangan istri labilny itu.


"Maafkan saya, kalau sudah membuat kamu kecewa dan cemburu," ucap Teddy menyesal. Tadinya Teddy hanya ingin membuat Arsy itu jera. Teddy hanya ingin Arsy menghargai dirinya sebagai suami. Bisa menerimanya sebagai pasangan hidupnya, bisa mencintai dirinya dengan tulus dan ikhlas. Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu.

__ADS_1


Arsy hanya mengangguk kecil Ia juga bersalah tapi ego nya masih terus menguasai dirinya untuk bersikeras membenci perjodohan ini.


"Mau memaafkan saya?" tanya Teddy mengusap pelan punggung tangan Arsy dengan lembut.


Arsy melirik ke arah Teddy dan mengangguk pelan.


"Iya," jawab Arsy singkat.


"KAmu cemburu dnegan Melati?" tanya Teddy kemudian dnegan suara pelan.


"Menurut Bapak? Arsy salah kalau cemburu?" tanya Arsy membalikkan ucapannya.


"Berarti kamu cinta dong sama saya?" tanya Teddy mengulum senyum. Teddy merasa hari ini ia menang.


Arsy hanya mengangguk kecil dan pasrah.


"Kagum," jawab Arsy singkat.


"Hanya kagum? Gak cinta?" tanya Teddy kemudian.


Arsy diam. Ia sedang merasakan apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Kalau gak cinta tapi cemburu. Kalau gak sayang, kenapa di diemin Arsy kesal. Kalau hanya kagum, Arsy gak suka melihat Teddy berdekatan dengan perempuan lain yang ada di kantor ini.


"Cinta gak sama saya?" tanya Teddy kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Arsy.


Arsy nampak diam dan tak bergerak saat wajah Teddy mendekat pada wajahnya. Arsy berusah untuk tidak mundur dan tidak menolak. Arsy hanya ingin semua wanita di kantor tahu bahwa ia adalah istrinya dan Teddy itu miliknya.


"Kenapa diam?" tanya Teddy lirih steengah berbisik. Kedua bibir itu sudah menempel dan Arsy hanya memejamkan kedua matanya. tubuhnya akaku bagaiakn patung dan detak jantungnya mencelos begitu saja tak bisa merasakan detaknya saking cepanya berdetak. Teddy menatap sendu wajah istrinya yang labil. Hari ini ia melukai perasaan istrinya.


Cup ...

__ADS_1


"Saya sayang sama kamu, Sy," ucap Teddy lirih.


__ADS_2