Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
RENCANA EMAPT BULANAN


__ADS_3

Pagi ini, Teddy yang di temani oleh Papah Baron dan Bunda Bella sudah berada di sebuah rumah sakit mata.


Ia mennyakan tentang donor mata dan bagaiamna jika melakukan operasi mata.


Kebetulan dokter senior seklaigus pemilik rumah sakit mata itu, memberikan penjelasan yang begitu jelas. Sebelum melakukan operasi mata. Kedua mata Teddy harus di periksa dengan beberapa rangkaian pemeriksaan secara urut dan rutin untuk memastikan kedua mata Teddy memang masih sehat dan bisa di lakukan operasi.


"Hasilnya bagus. Kedua matanya masih baik. Luka pada saraf mata akibat serpihan kaca sepertinya sudah sembuh. Jika sekarang ada pendnor bisa langsug di lakukan operasi. Tapi sayang, kita tidak memiliki stok donor mata. Kami tidak bisa memaksakkan seseorang untuk mendonorkan kedua matanya sebelum mereka meninggal. Itu semua harus dengan keinginan ikhlas dan di perbolehkan oleh pihak keluarganya," jelas dokter itu pelan.


"Begini saja. Kita berusaha. Dokter juga mengusahakan. Kalau ada kabar baik. Tolong secepatnya hubungi kami. Kamu akan membayar berapa pun rupiah yang di minta oleh pendonor," titah Papah Hermawan menegaskan.


Skip ...


Ujian akhir semakin dekat. Arsy dan Wulan belajar dengan baik dan berusaha keras untuk menjadi yang terbaik.


Mama Tina dan Papah Baron juga tak menyenggol masalah Teddy kepada Arsy. Dua kelurga besanan itu cukup kompak untuk menyembunyikan rencana baik demi buah hati mereka.


Tugas Mama Tina hanya mengurus gizi si kembar. Mmebuatkan makan sehat dan susu hamil untuk Arsy. Setiap malam Teddy menghubungi Mamanya untuk melihat menanyakan kabar Arsy dn kandungannya.


Tiga hari lagi menjelang ujian akhir. Arsy masih nampak tenang sekali. Ia benar -benar melepas bebannya, melepas Teddy dan berusaha melupakan sejenak demi ujian akhirnya.

__ADS_1


"Mau sekolah?" tanya Mama Tina melihat Arsy turun dari lantai dua.


"Iya Ma," jawab Arsy pelan dan duduk di kursi makan.


"Wulan gak pernah nginep?" tanay Mama Tina pelan.


"Gak Ma. Wulan juga butuh sendiri untuk mempersiapkan ujian nanti," ucap Arsy pelan sambil meneguk susu hamilnya.


"Jangan pakai korset lagi. Biarkan saja, perutnya terlihat. Itu rok seragam kamu sudah Mama carikan ukuran yang besar,' ucap Mama Tina pelan.


Arsy pun tertawa. Ia tahu kini tubuhnya sudah seperti buntelan karung goni.


"Namanya orang hamil. gemuk juga terlihat seksi," ucap Papah Baron mengedipkan satu matanya menggoda istrinya.


"Itu katamu dulu, Pah,' ucap Mama Tina pelan.


"Semua suami pasti akan bicara begitu. Laki -laki itu suka melihat istrinya hamil. Perutnya buncit, rasanya gemas ingin megusap terus dari belakang," ucap Papah Baron. Ucapannya sedikit menyentil.


"Gak berlaku buat Arsy," jawab Arsy pelan.

__ADS_1


Raut wajahnya mulai berubah. Dengan cepat Arsy menyelesaikn sarapannya hingga membuat Mama Tina dan Papa Baron merasa bersalah.


"Maafin Papah, Sy," ucap Papah Baron tiba -tiba.


"Maaf untuk apa, Pah?" tanya Arsy pelan.


"Ekhemmm ... Ary berangkat sama Mama saja. Mama mau ke toko roti," ucap Mama Tina pelan..


"Ke toko roti? Mama mau ada acara?" tanya Arsy pelan.


"Kan mau acara empat bulanan kadungan kamu," ucap Mama Tina pelan.


"Udah Ma. Gak usah. Lagi pula, mau ada acara perpisahan juga," ucap Arsy menolak secara halus.


"Menurut adat jawa. Itu harus di lakukan sayang. Nanti kalau semua acara di sekolah sudah selesai. Baru kita buat acara empat bulanan. Rencananya, Bunda juga mau datang," ucap Mama Tina pelan.


"Benarkah? Kok, Bunda gak ada bilang sama Arsy," ucap Arsy pelan.


"Uppsss ... Kaynya itu surprise deh," jawab Mama Tina pelan.

__ADS_1


Arsy hanya mengulum senyum. Bunda Bella memang sering begitu. Sering buat kejutan hingga Arsy benar -benar terkejut.


__ADS_2