Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
BAKSO URAT PEDAS


__ADS_3

Teddy begitu kesal dan geram. Kedua telapak tangannya terkepal erat karena terbakar api cemburu. Ia mencari Bis yang di tempati oleh Arsy, lalu niak ke dalam Bis itu. Kedua matanya mengedar mencari Arsy yang sedang meringkuk duduk di kursi paling belakang.


Kebetulan guru pendamping di Bis itu tidak ada. Teddy pun langsung masuk ke dalam dan membuat sebagian siswa yang melihatny apun merasa aneh. Ke arah mana Teddy akan berjalan.


"Pak Teddy ... Siska di sini?" ucap Siska berteriak histeris. Siska adalah salah satu dari beberapa siswa yang nge -fans banget dengan Teddy.


Semua teman -teman satuangkatannya pun tahu kalau Siska menyukai Pak Teddy sejak lelaki itu menjadi guru di sekolah itu.


Teddy hanya menoleh ke arah Siska dan tersenyum manis.


"Sehat Siska?" sapa Teddy lembut.


"Sehat Pak. Jantung saya yang gak sehat setiap bertemu dengan Bapak? Boleh di cek kok Pak? Jantungnya saya sellau berdegup keras lihat senyum Bapak," cicit Siska manja. Suara yang di lembut -lembutkan itu pun mendapatak sorakan teman -teman Siska satu bis. Tentu riuh sorakan ada yang pro dan ada yang kontra.


"Coba sekali -kali kamu periksa jantung kmau itu, takutnya malah parah Sis," ucap Teddy yang malah ikut berbasa -basi.


"Ya ampun Pak. Ini udah parah banget. Bapak mau ngapain ke sini? Pasti mau lihat saya dan memastikan saya baik -baik saja," ucpa Siska masih dengan rasa percaya dirinya.


"Saya cari Arsy. Ada yang lihat?" tanya Teddy dengan suara keras dan lantang.


Arsy terbangun ia melirik ke arah depan melalui sela -sela jok kursi. "Hah ... Kenapa ada dia sih? Hidup Arsy mulai gak tenang kalau gini," cicitnya lirih.


Tubuhnya yang meringkuk pun terus di turunkan ke bawah agar tak terlihat oleh Teddy. Arsy pun berpura -pura memejamkan kedua matanya lagi.


Beberapa murid pun menoleh ke arah tempat duduk Arsy dan Bismo di belakang. Tapi, keduanya tak ada di tempat.


"Itu Pak tempat duduknya. Tapi, kok gak ada ya. Mungkin ke toilet," ucap salh satu murid.


Persis bangku di sebelah Arsy menoleh ke arahnya. Ya, namanya Tami, gadis cupu yang paling di sisihkan di kelas. Orangnya baik banget cuma tingkahnya suka terlihat aneh dan konyol. Tami melirik ke arah Arsy dan menatap Arsy sambil berdehem agar Teddy melihat apa yang ia lakukan.


Arsy pun mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Tami sambil memberikan kode dengan menutup bibirnya menggunakan jari telunjuknya yang artinya Tami harus diam.


Tami hanya tersenyum smirk. Dia adalah salah satu gadis kesayangan para guru karena tak hanya cupu, ternyata dia juga cepu, celir para guru. Maksudnya ia adalah wartawan bagi guru, apapun yang di lakukan teman -temannya di kelas akan cepat sampai ke telinga guru. Mulia dari ada yang menyontek saat ulangan, makan di kelas, naik meja saat jam kosong, cabut dari pelajaran yang gak di suka, pura -pura sakit dan masuk UKS saat upacara atau mesum di kelas, dan maish banyak lagi.

__ADS_1


"Tami? Kamu kenapa berdehem keras?" tanya Teddy menatap Tami.


Suasana di Bis itu langsung hening dan melihat ke arah Tami si gadis cupu.


Tami hanya tersenyum sambil melirik ke arah Arsy tanpa bicara. Kode keras itu jelas memberitahukan kepada Teddy bahwa bangku di sebelahnya tidak kosong dan ada penghuninya yang sengaja mengumpat.


Teddy berjalan ke arah kursi yang di tempati oleh Arsy dan benar saja. Gadis itu ada di sana sedang meringkuk.


"Apa yang kau lakukan di situ? Bangun lalu keluar ikut saya," ucap Teddy tegas.


Arsy diam tak menjawab dan berpura -pura tidur dalam posisi meringkuk.


"Tidak menjawab saya? Pura -pura tidur, maka kamu akan saya kasih skors di buku tata tertib kamu," tegas Teddy kemudian.


Arsy membuka matanya perlahan dan menatap ke arah Teddy. Dua bola mata indah Arsy pun memutar dengan malas.


"Siapa yang suruh pindah -pindah Bis. Satu bis nungguin kamu," ucap Teddy mencari alasan untuk bisa memarahi Arsy dan membawanya kembali ke bis awal bersamanya.


"Buat apa di tunggu, sudah jelas, Arsy dan Robby bertukar tempat duduk, dan Robby pasti ada di samping Bapak kan?" ucap Arsy ketus.


Teddy pun menoleh ke arah Siska dan memberi kode dengan jari telunjuk di depan bibirnya. Siska mengangguk kecil dan mengedipkan satu matanya kepada Teddy. Teddy menggelengkan kepalanya pelan. Murid -muridnya memang sedikit konyol. Mereka berani menggoda gurunya sendiri.


"Arsy ... Ayo ikut saya. Lihat wajah kamu pucat begitu," ucap Teddy memelankan suaranya.


Pandangan Arsy mengedar ke seluruh bis. Semua mata memandang dan mengarah ke arahnya.


"Untuk apa?" jawab Arsy ketus.


"Bis sudah mau berangkat. Yuk, pindah lagi di sana," titah Teddy pelan.


Semua teman se -kelasnya pun bersiul riuh. "Ayo Sy. Ikut saja," teriak salah satu teman laki -laki Arsy.


"Gak mau. Arsy mau di sini. Tolonghargai keputusan Arsy," ucap Arsy ketus. Arsy menyandarkan tubuhnya dan duduk di pojok dekat kaca. Ia sudah malas melihat Teddy.

__ADS_1


Bismo sudah naik ke bis dan melihat Teddy yang sedang membujuk Arsy untuk pindah bis lagi. Namun Arsy nampak cuek tak merespon.


"Arsy ... Ini baksonya," ucap Bismo dengan suara keras seolah memang tidak mengetahui keberadaan Teddy di sana.


Arsy pun tersenyum lebar. Wangi bakso urat itu sudah tercium dan menggoda lidahnya ingin segera mencicipinya.


"Pak Teddy ... Bis sudah mau berangkat. Kenapa masih di sini?" tanya guru pendamping yang baru saja naik ke dalam bis.


"Maaf Pak. Tadi mau memberikan barang yang tertinggal di bis sbelah milik Arsy," ucap Teddy berbohong.


Teddy pun membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju keluar dari bis. Saat bersenggolan dengan Bismo, Teddy berbisik tepat di telinga lelaki itu.


"Kalau ada apa -apa dnegan Arsy. Kamu orang pertama yang saya cari," ucap Teddy tegas.


Bismo hanya menunduk seolah memahami permintaan Teddy.


"Bismo ... Ayo sini duduk. Makan bakso," ucap Arsy pelan.


"Bis nya sudah mau jalan Sy. Nnati malah tumpah," ucap Bismo pelan menasehati.


"Sini mana? Biar di kenyot aja kayak batagor. Gak mungkin tumpah kan?" ucap Arsy pelan.


Bismo hanya mnegangguk pasrah. Sulit juga menghadapi wanita yang sedang ngidam.


"Ucapan Pak Teddy gak perlu di ambil hati," ucap Arsy tiba -tiba kepada Bismo.


Bis sudah mulai melaju ke arah jalan pulang. Sebentar lagi waktunya makan malam dan akan berhenti di sebuah kota yang masih di sekitaran jawa timur.


Bismo hanya tersenyum kecut.


"Pak Teddy itu sayang banget sama kamu. Seharusnya kamu kesana dan duduk bersama dia," titah Bismo pelan.


Hem ... Arsy hanya berdehem kecil sambil menikmati bakso urat pedas dari plastik.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memberitahu saja. Jangan sampai kamu menyesal nantinya, Sy," ucap Bismo pelan.


"Sok tahu," jawab Arsy ketus.


__ADS_2