Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
16


__ADS_3

Hari Pertama ...


Mulai hari ini dan hari - hari selanjutnya, Nada akan menjalani kehidupannya secara normal dan seperti biasanya sebelum ia mengenal Desa Pelet itu. Namun, ada satu hal yang tak biasa saat ini, ia harus menjalani profesinya sebagai biduan dan menjalani misi tiga puluh hari sesuai kontraknya dengan Nyai Konde. Jika tidak, pilihannya hanya mati dan tak akan pernah kembali lagi hidup.


"Inget tiga puluh hari, jangan sampai kamu jatuh cinta dan memakai perasaan hati kamu. Ingat misi kita, sayangi nyawa kamu dan selamatkan Desa Sukahati dari pengaruh pelet Ki Melet," ucap Komariah yang setia berjalan di sebelah Nada.


Siang ini, Nada pergi ke kampus untuk memenuhi undangan salah satu organisasi mahasiswa yang ingin mengadakan acara malam akbar esok malam. Siang ini, Nada akan melakukan latihan dan gladi bersih untuk acara esok.


BRUK ...


"Argh ...." teriak Nada dengan suara keras. Nada terjatuh di lantai. Rok pendeknya tersingkap hingga ke pangkal paha hingga paha mulus Nada terlihat jelas di depan mata Arwana, Mantan Rektor Nada yang berskandal dengannya itu.


Kedua mata Arwana melotot sambil menelan ludahnya berkali - kali. Lihat saja, Nada sangat berbed sekali seratu delapan puluh derajat. Sekarang semakin cantik dan semakin seksi.


"Na - Nada? Kamu Nada kan? Super stars itu?" tanya Arwana dengan gugup. Arwan sempat ragu dan tak percaa dnegan apa yang di lihatnya saat ini. Tiba - tiba bertemu dengan Nada, mantan anak didiknya yang sempat ia kagumi setelah sekian lama.


Nada menatap Arwana lekat. Duda yang memiliki anak itu nampak semakin keren saja. Pantas saja, Arwana adalah salah satu rektor idaman para mahasiswa, karena umurnya yang masih muda. Usut punya usut anak yang searang bersamanya adalah anak bawaan dari mantan istrinya, dan mantan istri Arwana meninggal saat malam pertama pernikahannya.


"Mas Arwana?" jawab Nada pelan dengan tatapan kaget juga.


Arwana langsung berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Nada. Komariah yang berada di belakang Nada hanya mengamati saja. Mungkin ini adalah target dari misi petama. Tapi, tunggu dulu, apa benar masih perjaka? Jangan sampai salah pilih karena hanya akan membuang - buang waktu saja.


Nada menerima uluran tangan itu dan ikut berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Apa kabarmu, Nada? Sekarang sibuk sekali sepertinya? Berbeda dengan Nada setahun lalu," ucap Arwana pelan.

__ADS_1


Nada terkesiap mendengar ucapan Arwana. Kata setahun lalu, itu menandakan umur Nada sudah bertambah satu tahun. Dan profesi yang di jalani Nada saat ini sudah satu tahun berjalan. Nada menatap Komariah lekat. Tadi Komariah bicara bahwa semua adalah real yang di jalani sesuai waktu berjalan. Bukan masalampau atau pun masa depan. Mesin waktu yang aneh.


Komariah hanya tersenyum penuh arti. Banyak hal yang tidak bisa di ceritakan Komariah kepada Nada karena harus ada rahasia dan batasan. Biar semua kejadian itu berjalan nampak real dan alami dan tidak di buat - buat.


"Nada baik Mas," jawab Nada dengan senyum merekah yang semakin membuat para kaum Adam meleleh termasuk Arwana. Lelaki setengah tua itu sudah mengagumi Nada sejak lama dan kini hatinya makin di buat klepek - klepek dan pikirannya di penuhi dengan senyum indah Nada.


"Ekhem ... Nada mau kemana?" tanya Arwana dengan basa - basi. Arwana benar - benar gugup. Jantungnya terus terpacu berdetak dengan sangat kencang.


Nada tersenyum manis, lalu menjawab, "Mau ke Broto, Ketua Mahasiswa, memenuhi undangan." Nada menatap lekat Arwana yang juga menatap lekat kedua matanya.


"Oh Broto? Ekhem ... Mau makan siang bersama? Kita sudah lama tidak bicara? Mau ngobrol aja, melepas rindu. Sya yang traktir," ucap Arwana dengan tingkat kepercayan diri yang begitu tinggi.


Nada menoleh ke arah Komariah yang mengangguk pelan.


"Tapi Mas ... Nada mau latihan? Gladi bersih, besok kan harus tampil," ucap Nada pelan.


"Jangan Mas. Nada gak enak, jika yang lainnya harus menunggu Nada. Nada harus profesional dengan pekerjaan ini." ucap Nada dengan suara pelan.


"Oke. Saya tunggu saja. Saya akan menemani kamu latihan di auditorium. Kamu kesana dulu saja, Nada. Nanti saya menyusul," ucap Arwana menitah.


Nada mengangguk kecil menyetujui permintaan Arwana. Ini adalah salah satu trik Nada biar tidak terlihat terlalu mudah untuk di dapatkan, padahal misi pertama mungkin bisa terlewati dengan mudah.


"Nada ketemu Broto dulu ya," ucap Nada pelan.


Nada dan Komariah pun melanjutkan perjalanannya menuju Auditorium.

__ADS_1


"Ingat, semakin cepat kamu bisa mendapatkan perjaka, semakin cepat waktumu, Nada," titah Komariah dengan tegas.


"Nyai ... Ini baru hari pertama. Nyai tahu kan? Nada saja, masih syok dengan keadaan sekarang. Apalagi langsung mendapat target dan tantangan gila, demi tetap hidup? Ini berat, Nyai?" ucap Nada lemas.


Nada merasa semua yang ia lakukan adalah tindakan gila. Kenapa harus dia yang menanggung beban ini smeua.


"Kamu mau menyerah Nada? Ini pilihan kamu dan ini keputusan kamu. Lihat ini," ucap Komariah sambil memberikan cermin ajaibnya kepada Nada.


Nada menatap cermin itu. wajahnya memnag sangat cantik sekali, dan nampak bercahaya. Lama - lama cermin itu tersamar dan gelap lalu muncul bayangan dirinya yang sedang terbaring di amben, di rumah Nyai Konde dengan tidak sadar. Tubuhnya masih penuh luka, dan banyak lebam biru di beberapa bagian kaki dan tangannya.


"Ini ... Nada?" tanya Nada pelan. Nada mentup mulutnya dengan satu tangan. Jiwanya memang sedang berada di ujuk tanduk. Antara hidup dan mati.


Komariah mengangguk pelan. Semua keputusan ada di tangan kamu, semua pilihan hidup, kamu yang memilih.


Nada terdiam. Ia bingung sekali. Di lanjutkan tapi berat. Tidak di lanjutkan hidupnya di gantung.


"Baiklah. Nada lanjutkan. Tapi Nada hanya menggiring kan? Bukan harus bersetubuh dengan semua lelaki yang masih perjaka?" tanya Nada pelan.


Komariah mengangguk pelan.


"Jika sudah masuk perangkap. Itu menjadi urusanku, demi jiwamu yang sedang melayang. Ingat tiga puluh lelaki perjaka harus kamu dapatkan," ucap Komariah kembali mengingatkan.


"Baik, Nyai. Lalu fungsi tusuk konde ini?" tanya Nada pelan.


"Itu akan menjagamu, Nada. Kamu akan mengerti nantinya, apa fungsi tusuk konde itu," ucap Komariah dengan tegas.

__ADS_1


Keduanya sudah sampai di auditorium. Nada mencari - cari sosok yang bernama Broto.


"Hai Nada?" suara lembut itu khas sekali di telinga Nada.


__ADS_2