
Pelajaran terakhir di isi oleh pelajaran Biologi. Tepat seperti apa yang di katakan Wulan tadi pagi. Teddy masuk dengan kepala sekolah. Kepala sekolah mulai mengenalkan Teddy sebagai guru biolgi dn bukan lagi sebagai guru BP.
"Bisa kita mulai pelajaran siang ini. Terakhir materinya pa? Bisa lihat catatan kalian?" tanya Teddy pelan dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas.
Tidak ada satu pun siswa yang berani memberikan catatan di bukunya. Karena guru biologi terdahulu jarang sekali mendikte, jadi catatan di buku itu adalah kepekaan muridnya merasa penting di catat atau tidak.
"Tidak ada? Atau tidak ada yang pernah mencatat?" tanya Teddy mulai tegas.
Wulan menunjukkan jri dan membuka buku catatan biologi.
Teddy menatap Wulan dan menhampiri Wulan.
"Mana?" tanya Teddy pelan sambil mengambil buku catatan biologi milik Wulan.
"Dulu memang jarang mencatat Pak. Biasanya hanya di jelaskan tanpa di suruh mencatat. Ini catatan kalau saya rasa penting saja baru di catat," ucap Wulan pelan.
Setidaknya memang itu yang terjadi. Biar Pak Teddy tahu gaya mengajar guru bilogi sebelumnya.
"Oke baiklah. Saya akan mulai materi baru tentang makhluk hidup," ucap Teddy muali menjlaskan.
Cara menjelaskannya begitu ringan dan mudah di cerna. Tidak hanya itu Teddy sering melemparkan pertanyaan yang membuat komunikasi antara murid dn guru itu bisa terjaga.
"Boleh say taya sesuatu pada kalian? Kalian sudah kelas tiga dan sebentar lagi lulus. Apa cita -cita kalian setelah ini?" tanay Teddy memandang e seluruh ruangan kelas itu.
Semua murid mulai sibuk mencari jawaban dengan bertanya teman.
"Hei ... Coba kalain angkat tangna sesuai dengan cita cita kalian? Polisi? TNI? Guru? Atau Dokter?" tanya Teddy kemudian.
Beberapa laki -laki banyak memilih Polisi dan TNI, menurut mereka memakai seragan itu lebih menjanjikan dibandingkan harus kuliah dan belum tentu tahu hasilnya nanti.
"Belajarlah yang rajin, jangan pernah putus asa untuk menggapai angan yang tinggi. Bapak harap kalian semua yang ada di sini berhasil semua," ucap Teddy memotivasi dan menyemangati. Tepat di akhirpembicaraan, bel pulang pun berbunyi dengan sangat nyaring.
"Pulang Pak," celetuk salah satu siswa.
"Ya, silahkan beres -beres alat tulis kalian dan tetap semangat. Jaga kondisi kalian untuk study tour minggu depan," ucap Teddy sambil keluar dari kelas.
Sampai di ujung pintu keluar kelas, Teddy melirik ke arah Arsy yang masih duduk di kursinya. Satu kedipn mata Teddy sengaja menggoda Arsy yang masih manyun sejak pagi gara -gara masalah salah paham.
Arsy yang juga menatap Teddy pun memutar dua bola matanya dengan malas. Wulan pun menynggol lengan Arsy.
"Hey ... Kenapa lu. Itu suami lu kedip -kedip mata juga, lu kok cuek aja," ucap Wulan pelan.
__ADS_1
"Lagi males. Main yuk Lan? Kemana gitu," pinta Arsy pelan.
"Hah? Main? Lu gila? Katanya lu di tempat mertua lu," ucap Wulan terkekeh.
"Ke rumah lu, Lan. Udah lama juga gw gak main ke tempat lu," pinta Arsy pelan.
Wulan mencoba tersenyum lebar.
"Gw ada janji sama orang. Pulang sekolah ini mau ada acara," ucap Wulan.
"Janji sama orang? Siapa? Gw kenal gak? Acara apa?" tanya Arsy pelan. Sorot mata Wulan terlihat sangat aneh dan tak bisa di mengerti. Ada sesuatu hal yang di tutupi oleh Wulan dari Arsy.
"Ada lah. Rahasia. Yuk ke depan." ucap Wulan pelan.
Kedua sahabat ini pun berjalan melalui koridor menuju parkiran sekolah.
"Lan, kemarin gw seharian di kantor Pak Teddy. Terus gw ketemu Kak Rendy, Kakak kelas kita yang ganteng dulu," ucapArsy berbinar.
Wulan nampak biasa saja dan tidak kaget.
"Oh ... Terus?" tanya Wulan pelan.
"Dia ngajakin gw kencan gitu. Dia gak tahu gw udah bersuami," ucap Arsy pelan.
Arsy menatap Wulan. Sahabatnya ini benar -benar agak aneh hari ini, atau memang hanya perasaannya saja.
"Lu lagi gak ada masalah kan?" tanya Arsy pelan kepada Wulan.
"Gak ada Arsy. Gw cuma mau bilang, hidup lu tuh beruntung. Lu mesti banyak bersyukur," ucap Wulan pelan.
Sesampai di parkiran keduanya berpisah. Wulan menuju gerbang sekolah untuk mencari angkutan umum dan Arsy menunggu di parkiran guru menunggu Teddy datang.
Dari arah samping Teddy sedang berjalan dengan Lina, guru bahasa indonesia yang masih ters berusaha mendekati Teddy.
Teddy melihat Arsy yang sudah duduk di dekat taman dan berusaha menyudah pembicaraan dengan guru bahasa indonesia itu.
"Saya duluan ya bu," ucap Teddy tanpa basa basi.
"Pak Teddy gak tanya saypulang naik apa?" tanya Bu Lina pelan.
Teddy pun menoleh ke arah Bu Lina dan tersenyum kecut di paksakan. Ia sengaja tidak bertanya agar tidak memberikan tumpangan.
__ADS_1
"Maaf Bu. Saya buru -buru," ucap Teddy pelan.
"Pak ... Saya mau numpang sampai pecinan. Bapak lewat sana kan?" tanya Bu Lina yang masih tak gentar berusaha.
Teddy menghela napas dalam dan berusaha sabar.
"Ya sudah. Silahkan naik ke mobil saya," ucap Teddy pelan.
"Makasih Pa," ucap Bu Lina sumringah.
Akhirnya apa yang di perjuangkan Bu Lina pun pelan -pelan bisa ia dapatkan. Padahal Teddy mengiyakan karena kasihan.
Dengan santainya. Bu Lina melenggang jalan dan memilih pintu depan mobil. Arsy menatap kesal dan tak suka.
"Arsy ..." panggil Teddy dengan lantang. Sampai ia tak tahu, kalau Bu Lina sudah mask ke dalam mobil dan duduk di bagian depan.
Arsy berjalan lunglai menanggapi panggilan suaminya. Lalu masuk ke dalam mobil di jok penumpang bagian belakang.
"Kok Ibu duduk di depan? Harusnya Arsy yang di depan?" ucap Teddy bingung. Ia menatap Arsy yang sudah duduk bersandar dan emmejamkan kedua matanya.
"Sudah gak apa -apa. Arsy pura -pura gak lihat," celetuk Arsy lantang.
"Memang Arsy siapanya Pak Teddy?" tanya Bu Lina penasaran.
Teddy diam tak bisa menjawab dan Arsy paham betul.
"Keponakannya Bu. Jalan Pak, mulai panas hareudang," ucap Arsy ketus.
Teddy pun melajukan mobilnya dnegan kecepatan pelan.
Arsy menatap ke arah luar jendela dan melihat Wulan sedang berbincang dengan seorang laki -laki yang tidak Arsy kenal. Lelaki itu berusaha menarik Wulan seperti ingin memaksa Wulan.
"Pak berhenti dulu. Itu Wulan kenapa?" tanya Arsy cemas.
Teddy menatap Wulan sedang di tarik seorang laki -laki untuk masuk ke dalam mobilnya. Tapi Wulan berusaha berontak. Teddy keluar dari mobil, begitu juga dengan Arsy yang berlari ke arah Wulan dan beteriak.
"Wulan ...." teraik Arsy lantang. Teddy lebih dulu sampai di sana dan menarik Wulan mundur.
Arsy langsung memeluk Wulan dan lelaki itu pergi saat Teddy menanyainya.
"Dia siapa Lan?" tanya Arsy pelan.
__ADS_1
Wulan hanya diam seribu bahasa. Arsy tidak memaksa dan menggandeng Wulan menuju mobil Teddy dan akan di antra pulang.