
Sang pangeran pun berjalan mendekat ke tengah panggung untuk melihat sang puteri yang meninggal karena keracunan. Menurut pengakuan para kurcaci yang berada di sana. Dari dalam mulut sang puteri keluar satu potongan apel yang tergigit dan sempat terkunyah.
Pangeran pun memegang peti kaca itu dan menatap sang puteri dengan tatapan penuh cinta. Debaran jantung sang pangeran terus saja berdetak keras. Baru kali ini ia melihat kembali sang puteri setelah sekian lama ia tak bersua dan hanya bisa menatap dari kejauhan.
"Boleh di buka petinya?" tanya sang pangeran pelan.
"Silahkan paduka pangeran,"
Beberapa kurcaci saling membantu mengangkat tutup peti kaca yang berat itu. Tangan sang pangeran terulur dan memegang tangan sang puteri dan di cium dengan mesra.
Rasanya sudah lama sekali tidak menyentuh tangan mungil ini.
"Cantik sekali kamu, Arsy ...." ucap sang pangeran lolos begitu saja dengan jujur.
Semua mata memandang ke arah pangeran yang menatap penuh cinta ke arah puteri yang masih tertidur.
Arsy tak kuasa menahan tangis bahagianya. Ia melihat jelas wajah Teddy dari sela -sela kedua matanya yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
Pangeran pun mendekati wajah Arsy dan menatap sendu kedua mata tertutup itu. Rasanya Arsy tak kuasa menahan ingin memeluk Teddy, suaminya.
Cup ...
Kedua bibir itu saling menyentuh. Dingin. Itu yang mereka rasakan berdua. Hampa. Hanya itu yang bisa terungkap tanpa ada yang terucap.
Kedua mata pangeran tetap membuka dan tetap ingin melihat reaksi sang puteri. Perlahan kedua mata sang puteri membuka dan menatap tepat di kedua mata pangeran.
Reflek Arsy membalas ciuman di bibir Teddy. Lalu merangkulkan tangannya di leher Teddy.
Para kurcaci sontak menangis. Benar -benar tidak ada yang bisa di duga. Semuanya mengalir begitu saja tanpa naskah dan dialog.
"Puteri Arsy ... Kamu terbangun, sayang?" ucap pangeran dengan kedua mata berbinar bahagia.
"Mas Teddy ...." hanya itu yang bisa terucap dari bibir mungil Arsy.
Senyum Teddy begitu manis sekali. Ia sendiri juga tidak bisa berkata -kata. Kedua matanya sudah basah dan tinggal mengedipkan kedua matanya maka air mata itu akan jatuh dengan sendirinya.
__ADS_1
Kepala Teddy berputar. Ia mengingat beberapa perjalanan hingga jiwanya bisa sampai bertemunkembali dengan Arsy, istrinya.
Mulai dari pesawat jatuh dan celaka hingga iabdi rawat oleh kedua petani tua yang begitu baik sampai pada akhirnya ia sanggup pergi ke kota untuk mencari keberadaan mertuanya.
Niat untuk menjual cincin pernikahan juga di urungkan. Memang takdir selalu berkata baik untuk Teddy.
Pada akhirnya ia bisa bertemu dengan mertuanya dan bisa berobat sampai akhirnya mendapatkan donor mata dari seseorang yang spesial juga.
Mungkin saat ini Teddy harus benar -benar banyak bersyukur atas semuanya.
Arsy terbangun dan duduk di dalam peti kaca itu. Teddy melangkah mundur dan mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.
"Puteri Arsy ... maukah kamu menjadi istriku? Jika engkau mau? Ambilah kalung berlian ini sebagai tanda aku ingin memilikimu," tanya Pangeran itu kepada Arsy yang masih takjub menatap kedatangan Teddy.
Sejak tadi dada Arsy bergemuruh ternyata ini jawaban semuanya. Rasanya ingin memeluk tubuh gagah itu kembali.
"Aku mau. Aku mau pangeran. Aku mau. Bawa aku ke istanamu dan aku akan menemani kamu hingga akhir hayatku," ucap Arsy sambil menangis.
__ADS_1