
Teddy sudah menyambungkan sambungan jarak jauh dengan kedua orang tua Arsy melalui panggilan video call.
Laptop itu di letakkan di meja kecil di atas kasur di mana Arsy duduk.
"Mas mau mandi dulu? Kamu telepon sendiri sama Bunda gak apa -apa kan?" tanya Teddy pelan sambil mengecup kening Arsy.
"gak apa -apa Mas. Makasih ya?" jawab Arsy lembut.
Sambungan telepon itu sudah tersambung. Ada Bunda dan Papah yang sedang berada di suatu ruangan, seperti ruangan rawat inap sebuah rumah sakit.
"Bunda? Papah? Apa kabar? Kalian dimana?" ntanya Arsy lembut. Rasa rindunya begitu begejolak sekali di dalam dadanya.
"Hei sayang? Tumben di rumah jam segini? Kamu gak sekolah?" tanya Bunda lembut sengaja mengalihkan pembicaraan.
Kemarin Teddy sudah mengabari kedua orang tua Arsy bahwa Arsy tengah mengandung dan kondisinya sedikit lemah.
"Gak Bunda. Lagi gak enak badan," ucap Arsy pelan.
"Kamu harus banyak makan. Gak boleh pilih -pilih makanan karen asemua makanan itu baik dan sehat. Apalagi kamu sedang mengandung," ucap Bunda Bella langsung menuduh.
Binar mata Arsy begitu bahagia.
"Kok Bunda tahu sih?" cicit Arsy manja.
"Tahu dong. Semuanya tenetang kamu, pasti Bunda tahu," ucap Bunda Bella pelan.
"Hei ... gadisnya Papah yang sebentar lagi mau jadi ibu. Dengarkan Papah baik -baik, Suamimu itu lelaki hebat dan trebaik untuk kamu. Seharusnya kamu bangga dan merasa menjadi wanita paling beruntung. Jadi untuk apa kamu memikirkan siapa itu? Ketua OSIS yang kkamu banggakan itu? Siapa Bun? Namanya?" tanya Papah Hermawan kepada istrinya dengan mengernyitkan dahinya karena berusaha mengingat.
"Bismo Pah," jawab Arsy pelan.
"Iya ... Bismo. Bukannya Paph gak suka. Kalau ada yang lebih baik, yang mau serius sama kamu dan lebih sayang sama kamu. Untuk apa Papah tolak? Nak Teddy itu luar biasa pokoknya," puji Papah Hermawan.
"Suami SIAGA juga," tambah Bunda Bella.
"Gitu ya? Kok yang di puji Mas Teddy aja. Arsy gak sama sekali. Sbnarnya anaknya itu Arsy apa Mas Teddy?" tanya Arsy kesal.
Arsy menunjukkan sikap cemburu dan ksal. Teddy yang sedang memakai pakaian pun ikut menoleh ke arah Arsy dan memberi kode dengan gelengan kepalanya bahwa tak boleh bersikap seperti itu kepada kdua orang tuanya.
__ADS_1
Teddy keluar kamar lagi sambil merapikan bajunya dan membuatkan segelas susu putih untuk Arsy. Kali ini bukan susu hamil, karena memang belum menyediakan syok di dapur.
"Minumsayang. kamu belum sarapan," titah Teddy yang tiba -tiba duduk di samping Arsy dan mengecup pipi gadis labil itu dnegan tulus.
Kedua orang tuanya ikut mengulum senyum dan malah senang melihat rumah tangga Arsy yang selalu mesra dan harmonis setiap hari.
"Duh ... mesranya. Bunda jadi iri ini. Papah sudah jarang bersikap begitu," ucap Bunda Bella mengadu.
"Bunda, Papah, apa kabar?" sapa Teddy menyela sambil memegang gelas susu untuk di minum oleh Arsy.
"Baik Nak Teddy. Gimana rumah sakitnya?" tanya Papah Hermawan pelan.
"Bulan depan sepertinya sudah beres, bulan depannya lagi gunting pita pembukaan rumh sakit, atau mungkin lebih cepat lagi. Kalau bisa Papah dan Bunda hadir. " pinta Teddy dengan sopan.
"Kami usahakan. Tidak janji Nak Teddy." jawab Papah hermawan yang terlihat sangat berhati -hati dalam bicara seperti ada yang di sembunyikan dari Arsy.
Arsy diam dan mengambil susu putih itu dan meminumnya. Baru beberapa teguk, gelas itu pun di lepasnya.
"Eneg Mas. Sudah ya. Arsy malah mau muntah," cicit Arsy dengan wajah melas. Biasanya ARsy begitu sangat suka dengan susu putih tapi tidak untuk pagi ini.
"Kalian sudah periksa ke dokter kandungan?" tanya Bunda Bella yang mulai khawatir dengan kondisi putrinya.
"Nanti sore Bunda. Teddy sudah janjian dengan dokter Effendy." jawab teddy pelan.
"Jaga kesehatan kamu juga Nak Teddy. Jangan terlalu capek," ucap Bunda pelan.
"Papah mana?" tanay Arsy yang baru tersadar Papahnya sudah tidak ada di sana lagi.
Bunda Bella tampak gelagapan karena menjauhndari tempat tadi.
"Ekhemm ... papah lagi ke kamar mandi," jawab Bunda Bella singkat.
"Bunda ... Teddy berangkat kerja dulu. Lanjutkan saja sama Arsy. Dia ijin mau istirahat. Kami tadi malam baru sampai Jakarta," ucap Teddy pelan sengaja mengalihkan pembicaraan.
Teddy tahu Papah Arsy sedang tidak baik -baik saja kondisinya.
"Bunda juga mau cari sarapan. Nanti kita sambung lagi ya," ucap Bunda Bella dengan cepat.
__ADS_1
Bunda Bella langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Dan langsung mengahmpiri suaminya yang sedang di periksa oleh dokter spesialis.
"Syukurlah. Kondisi Pak Hermawan sudah lebih baik. Perlu banyak istirahat sampai benar -benar pulih semua keadaan tubuhnya," ucap dokter itu pelan menasehati.
Ya, belum lama ini Papah Hermawan mengalami kebocoran jantung. Dengan cepat pergi ke London untuk pengobatan. Semuanya berjalan lancar. Setidaknya pengobatan itu di lakukan minimal tiga bulan full, dan enam bulan pertama rajin pengecekan kondisi pasien.
"Sudah selesai telepon Arsy. Kita mau punya cucu sebentar lagi," cicit Papah Hermawan pelan.
Bunda Bella mnegangguk kecil. ia juga bahagia mendengar kabar Arsy tengah mnegandung. Ingin rasanya memeluk gadisnya itu dengan erat sambil mengucapkan kata, 'Selamat sayang, sebentar lagi kamu akan jadi ibu.'
"Gadis kecil lucu itu sudah menikah dn sudah akan memeberikan kita cucu," ucap Bynda Bella menyemangati Papah Hermawan untuk smebuh dan melihat cucunya yang akan lahir tahun ini.
Papah Hermawan merbahkna tubuhnya, dan emnatap ke arah atas langit -langit kamar rawat inap itu.
"Kenapa Pah?" tanya Bunda Bella pelan.
"Rindu Arsy. Rindu manjanya, teriaknya, ketusnya, galaknya, keras kepalanya. Semoga Teddy bisa menerima semua kekurangan anak kita. Semoha Teddy bisa sbar menghadapi sikap Arsy yang seperti anak -anak," ucap Hermawan sedikit cemas.
"Papah tenang saja. Arsy pasti berubah. Apalagi ia sedang mengandung, tentu hormonnya aakan berbeda, mingkin dia bisa lebih santai dan tidak muda emosi," ucap Bunda Bella menjelaskan.
"Anak kamu tuh Bun. Perlu didikan yang lebih baik lagi," ucap Hermawan tertawa.
"Anak Bunda aja?" goda Bunda Bella kepada Papah Hermawan.
"Anak kita sayang. Kan buatnya berdua," jawab Hermawan tertawa.
"Emang kue, pakai di buat," ucap Bunda bella meninju papah Hermawan pelan.
Bunda Bella pun duduk di tepi ranjang dan meetakkan kepalanya di bagian dada Hermawan.
"Sudah lama kita tidak tudr berpelukan seperti ini," ucap Bunda Bella pelan.
"Kamu sedang menggerutu Bun?" tanya Papah Hermawan sambil mengusap pelan kepala Bunda Bella.
"Gak Pah. Hanya suka teringat saja," jawab Bunda Bella meluruskan jawabannya.
Bunda Bella menahan air matanya. Ia hanya rindu saja. Ia tahu kondisi suaminya saat ini. Mau tidak mau Bunda Bella harus sabar dan mendukung semua demi kesembuhan suaminya.
__ADS_1