
Arsy sengaja tak melanjutkan langkah kakinya dan di saat Tedddy berbelok menuju arah yang sama dengannya ia berpura -pura berjalan sambil memainkan ponselnya agar tak terkesan memang sedang menunggu Teddy.
Teddy menatap lekt Arsy yang sudah berjalan sejak tadi, tapi baru sampai di sini. Ia sengaja melewati Arsy.
"Ekhemmm Pagi Pak Teddy ...." sapa Arsy penuh semangat tak seperti biasanya. Suaranya begitu lantang dan keras hingga membuat Teddy pun terkejut dan melirik aneh ke arah Arsy tanpa membalas sapaan itu.
"Kamu tidak sapa saya? Kenapa hanay Pak Teddy yang di sapa? Jelas -jelas saya ada di sini juga," ucap Bu Lina menggerutu.
"Pagi Bu Lina ... Semoga hari ini hari ibu menjadi lebih bahagia," ucap Arsy denagn senyum leebar namun sinis.
"Nah gitu. Kalau menyapa guru, semua di sapa. Bukan hanya dengan guru laki -laki saja yang di sapa. Saya jelas -jelas ada malah gak di sapa," ucap Bu LIna masih terus menggerutu kesal.
"Ya kali jeruk makan jeruk Bu. Arsy kan masih normal," celetuk Arsy sekenanya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong saku kemeja putihnya.
Untung saja ucapannya tak terdengar jelas oleh Bu Lina. Mungkin kalau dengar, ia akan mendapat ceramah tujuh hari tujuh malam tentang tata krama sebagai murid teladan dalam bersikap.
Suasana sekolah sudah cukup ramai. Baik dari halaman sekolah menuju koridor utam hingga lorong menuju kelas - kelas siswa. Arsy memang termasuk siswi populer, selain pintar, ia juga cantik dan salah satu icon siswi yang berkualitas dalam bermain basket.
Beberapa siswa dan siswi adik kelas banyak yang menyapanya memang mengenal soosk Arsy dan ada yang mengenalnya karena ia adalah kekasih Bismo.
Tepat di depan kelasnya Arsy berdiri agak jauh dari pintu masuk. Ia melihat Bismo dan Wulan sedang duduk bersama saling berhadapan. Bismo menemani Wulan sarapan pagi itu sambil bercanda dan berbincang yang terlihat seru. Sesekali Bismo menyuapi Wulan yang masih agak malu -malu.
Arsy menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mencoba tenang dan bersikap wajar terhadap sahabatnya dan mantan kekasihnya.
Langkah kakinya pelan dan masuk begitu saja tanpa melirik ke arah dua sejoli yang sedang melempar senyum dan tertawa. Arsy duduk di tempat biasa, tepat di sebelah Wulan tapi dengan diam tanpa suara.
"Sy? Sini sarapn bareng," ajak Wulan dengan lembut.
Arsy hanya melirik sekilas ke arah kotak makan yang ia yakini itu milik Bismo dan masakan itu jelas masakna Mama Bismo. Arsy tahu betul, karena beberapa kali, Arsy main ke rumah Bismo dan selalu di masakkan tempura saus tiram denagn toping wijen. Arsy hanya mengangguk kecil tanpa senyuman.
Hatinya masih kecewa dan belum bisa berdamai dnegan keadaan. Arsy hanya belum bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan legowo. Dia belum bisa menerima keadaan dan berdamai dengan semuanya.
Arsy bangkit berdiri, sisa waktu meneuju bel masuk memang hanya tinggal menghitung menit saja. Ingin rasanya ke kantin dan membeli sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar.
"Ini untuk kamu dari Mama. Tadi pagi Mama titip ini untuk kamu, Sy" ucap Bismo pelan dan memberikan kotak makan yang sama persis dengan yang di berikan kepada Wulan. Arsy hanya menatap kotak makanan yang di sodorkan kepada dirinya dan menatap Bismo.
Gengsi dong harus menerima sesuatu dari Bismo, lelaki yang sudah jelas membuatnya kecewa.
__ADS_1
"Maaf Arsy tidak bisa menerima. Bilang sama Mama kamu, Mo," ucap Arsy pelan. Ia baru akan bangkit berdiri, Wulan menahannya.
"Arsy ... Kita masih sahabat, kan? Apa yang kamu benci dari kejadian ini? Semua ini bukan mau kita, bukan ingin kita? Lagi pula semua yang terjadi karena takdir. Kamu pikir aku mau seperti ini? Gak, Sy. Kamu sendiri, pasti juga tidak mau menerima apa yang sedang kamu terima secara paksa kan?" tanya Wulan kepada Arsy.
"Jangan samakan Lan. Aku dan kamu itu beda. Bismo itu ...." ucapan Arsy terhenti. Ia tak melanjutkan ucpannya.
"Bismo itu kekasihmu? Tapi bukan pasangan hidup kamu kan? Coba untuk menerima semuanya dnegan baik dan ikhlas," ucap Wulan pelan.
"Sy ... Aku sendiri masih sayang sama kamu. Tapi, aku juga kecewa dengan apa yang sudah terjadi pada hidup kamu, dna kamu gak jujur sama sekali dengan aku. Kamu tahu, waktu aku jalan sama Anissa? Adik kelas itu? Saat itu aku di tegur Papa kamu, untuk menjauhi kamu dengan alasan kita sudah kelas tiga dan harus fokus. Alasan klasik untuk memisahkan kasih sayang kita. Aku mencoba untuk mengalah, waktu aku lihat cincin yang tiba -tiba melingkar di jari kamu. Hati aku saat itu kacau Sy. Bohong kan kalau aku baik -baik saja. Aku sama hancurnya seperti kamu. Aku kecewa, apa yang kita harapkan di masa depan pupus. Sampai aku akhirnya menerima tawaran balapan, dan semua yanga terjadi di luar kendali ku," ucap Bismo pelan menjelaskan.
Arsy menatap Bismo yang sedang menjelaskan dengan jujur drai hati. Selama ini Bismo tak ada waktu untuk bicara dengan Arsy, ia tak bisa mengungkapkan apapun yang menjadi keluh kesahnya dan kekecewaannya.
"Maafkan aku, Mo. Kalau memang Arsy telah menyakiti kamu, dengan apa yang terjadi pada diri Arsy saat ini. Mungkin apa yang telah kita janjikan di hari kemarin memang bukan untuk di jadikan harapan di masa depan, tapi hanya sebuah angan -angan yang akan kita jalani bersama pasangan kita masing -masing," ucap Arsy pelan.
"Sy ... Maafkan aku ya. Mungkin ini mendadak juga buat kamu. Besok minggu datang ya ke rumah, kita mau ada acara," ucap Wulan pelan. Kedua matanya basah. Wulan tidak menginginkan ini jika tidak terpaksa. Dari pada anak yang di kandungnya tidak memiliki seorang Bapak.
"Iya nanti Arsy datang. Tapi Arsy gak janji ya," jawab Arsy pelan.
Arsy pun meninggalkan keduanya. Hatinya hancur sekali rasanya. Ini hal tersulit melihat Bismo, mantan kekasihnya harus bersama dengan Wulan, sahabatnya sendiri. Walaupun ia sendiri sudah menikah tapi ia merasa seperti di khianati sebagai sahabat.
"Arsy ...." panggil Wulan dengan suara keras.
"Sy ... Tunggu dulu. Maafin aku ya. Lagi pula, kamu sudah punya Pak Teddy, apa kurangnya Pak Teddy? Beliau dewasa, mapan, ganteng, keren, macho, kalau aku jadi kamu, aku sudah bahagia, hidupku terjamin, dan aku tidak perlu susah menggapai cita -citaku, hanya perlu melayani. Bahkan aku iri dengan kamu, Sy. Kalau bukan Bismo yang mau bertanggu jawab atas anakku ini, mungkin selamanya anakku tidak akan memiliki seorang Ayah. Tidak ada seorang gadis yang ingin bernasib sama denganku, Sy. Kalau aku mau marah, aku harus marah dengan siapa? Kamu beruntung, kemarin dengan waktu yang tepat, kami semua membantu kamu, karena kami tidak ingin kamu bernasib sama denganku, dan juga PAk Teddy sangat menyayangi kmau, dia tak rela kamu tersakiti," jelas Wulan kepada Arsy.
Kedua mata Arsy sudah basah. Tingkahnya memang kekanank -kanakkan. Tidak mau bijak menerima suatu keadaan yang memang sudah menjadi proses jalan hidupnya. Malah menghakimi sahabatnya sendiri. Bukannya ikut membantu meringankan beban Wulan, ini malah ikut mengintimidasi seolah Arsy adalah orang yang paling terdzolimi.
Arsy mengangkat kepalanya menatap Wulan dan memegang kedua tangan Wulan.
"Maafkan aku, Lan. Aku egois tak mau melihat kalian bahagia. Padahal, aku sudah bahagia dengan yang lain. Mungkin kaena masih ada perasaan sayang di hatiku untuk Bismo. Walaupun aku sudah menjadi istri orang," jawab Arsy lirih.
"Aku jug minta maaf. Kalau pada akhirnya Bismo akan menikahi aku, sebagai bentuk tanggung jawab, Sy," ucap Wulan pelan.
"Ya Lan. Aku paham. AKu yang seharusnya bisa mengerti keadaan kalian berdua. Aku tidak tahu beban hidupmu, bahkan Papahmu di penjara pu aku tidak tahu. Kita masih sahabat kan?" tanya Arsy kepada Wulan.
Wulan mengangguk pelna.
"Kita sahabat. Kita akan selamanya menjadi seorang sahabat. Aku sayang sama kamu ARsy, sudah seperti saudaraku sendiri,"ucap Wulan lirih.
__ADS_1
Mata Wulan sudah merah dan berair. Ia benar- benar tak menyngka perjalanan kedua sahabat itu berakhir menikah muda dengan caranya sendiri. Padahal mereka gadis pintar yang memiliki wawasan lus dan bercita -cita setinggi langit. Bahkan, mereka berdua bercita -cita ingin berkarir dan tidak ingin menikah muda. Tapi takdir membawanya paa sebuah perjalanan hidup yang terasa rumit di awal, namun semuanya akan berjalan baik -baik saja mengikuti arus.
Keduanya saling berpelukan erat dan saling menangis.
"Kamu juga sudah ku anggap sahabatku sendiri, Lan. Kamu sehat -sehat dengan jabang bayimu. Pak Teddy mau membantu kamu agar tetap bersekolah di sini, tapi sebisa mungkin kita rahasiakan kehamilan ini. Jangan sampai orang tahu," titah Arsy pelan.
Terasa anggukan Wulan yang paham dengan ucapan Arsy.
"Sy ... terima kasih ya?" ucap Wulan tulus.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Arsy pelan sambil mengendurkan pelukannya.
"Terima kasih karena telah menjadi sahabatku selama ini. Aku benar -benar senang punya sahabat seperti kamu," cicit Wulan sendu.
Ucapan itu seolah menyihir mereka dan membuat mereka benar -benar saling melengkapi selama ini. Seharusnya tidak ada salah paham seperti ini. Mereka harus belajar menerima satu sama lain dengan tulus. Bukan begitu arti sahabat.
"Aku juga bangga punya sahabat seperti kamu, Lan. Kamu banyak mengajarkan aku untuk hal -hal yang tidak pernah aku ketahui," ucap Arsy mula meredam amarahnya dan mulai bisa menerima semuanya dengan lapang dada.
"Sy ...." panggil Wulan pelan dengan wajah serius.
"Ya Lan?" jawab Arsy dengan serius juga.
Wulan mendekatkan wajahnya ke arah telinga Arsy dan berbisik.
"Kapan kamu mau nyusul?" tanya Wulan lirih seklai.
"Nyusul apa?" tanya Arsy pelan.
Wulan pun mengusap pelan perutnya dan melihat ke arah perutnya.
Arsy hanya tersenyum menatap Wulan.
"Kapan ya? Kalau di kasih cepat ya semoga cepat. Kalau harus nunggu ya nunggu aja sampai dapat," tawa Arsy mulai kembali ceria seperti biasanya.
"Sy? Kamu udah lepas segel?" tanya Wulan penasaran.
Sontak pertaanyaan Wulan membuat Arsy malu dan memerah wajahnya.
__ADS_1
"Sudah Lan, tadi pagi," bisik Arsy lirih.
Kedua mata Wulan melotot tak percaya.