
Teddy berulang kali mondar mandir di depan ruang operasi. Di dalamnya ada Arsy yang sdeang bertarung nyawa mengeluarkan kedua bayi kembarnya. Entah bagaimana hasilnya. Dokter begitu panik setelah memeriksa keadaan Arsy dan sesegera mungkin membawa Arsy ke ruang operasi.
Kedua orang tua Arsy juga sudah di kabari dan kini sudah duduk di kursi panjang menunggu operasi Arsy berakhir. Begitu juga dengan kedua orang tua Teddy yang baru saja datang dan merangkul Teddy untuk menenangkan putranya.
"Kamu harus tenang dan jangan terlalu panik. Kita serahkan smeuanya pada dokter. Lalu untuk hasilnya, itu adalah takdir terbaik untuk kalian," ucap Ayah Teddy dengan bijak.
Setidaknya Teddy harus menerima kenyataan terburuk nanti.
Tubuh Arsy sudah di bius total. Dirinya setengah sadar sewaktu obat bius itu di suntikkna melalui punggungnya dan semua menggelap seketika dan tubuuhnya terasa lemas tak berdaya.
__ADS_1
Telinganya sempat mendengar sesuatu dan lama -lama menjadi samar dan benar -benar terasa tuli.
Di dalam, Dokter hanya bisa menghela napas panjang melihat dua bayi kembar yang terlihat sehat namun sudah tak lagi bernyawa. Ketuban Arsy sudah pecah dan itu berakibat fatal pada kedua bayinya. Dokter hanya bisa mengeluarkan sepasang bayi kembar itu dengan rasa haru. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan bayi yang sudah cukup umur dan di nantikan kelahirannya.
Lampu merah di depan ruangan operasi sudah berubah. Dokter segera keluar dari ruangan itu dan memeluk Teddy yang gerak cepat berdiri di dpean pintu ruangan itu.
"Maafkan saya. Saya sudah berusaha se -maksimal mungkin, Tapi, bayi kembar itu sudah tidak ada di dalam perut ibunya," ucap Dokter itu sedikit pelan.
"Istri saya gimana dokter? Apakah dia selamat?" tanya Teddy denagn suara serak bergetar seperti menahan tangis.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Arsy selamat. Semua operasinya berjalan normal. Hnaya saja kedua bayi itu tak terselamatkan. Saya dan tim minta maaf," ucap dokter itu lalu menepuk bahu Teddy dan pergi dari hadapan Teddy dan keluarga besarnya.
Sebagai laki -laki dewasa, Teddy harus sabar dan tidak boleh menangis di depan banyak orang. Hatinya seperti tertusuk ujung tombak yang begitu runcing. Sakit sekali rasanya mendengar kedua bayinya tak terselamatkan lagi.
Ayah Teddy dan Papah Arsy mendekati Teddy lalu merangkul putranya itu dan memberikan semangat agar tidak larut dalam kesedihan. Paling tidak Arsy masih selamat dan menunggu higga siuman.
"Ayah ... Anakku ...," ucap Teddy sambil memeluk Ayahnya erat. Teddy memang lelaki kuiat tapi ia juga bisa rapuh bila di hadapkan dengan keadaan seperti ini. Kehilangan kedua anaknya dalam satu waktu. Belum lagi kondisi ARys yang masih tidak sadarkan diir. Lalu jika Arsy sadar, Teddy harus bicara apa tentang bayi kembarnya yang telah tiada.
"Sudah Teddy. Kita semua hancur mendnegar ini. Mereka cucu kami. Tentu kami juga ikut kehilangan seperti dirimu kehilangan mereka," ucap Ayah Teddy sambil menepuk punggung Teddy dengan pelan.
__ADS_1
Kedua bayi kembar itu sudah di bawa ke ruang jenazah dan bersiap untuk di kafani. Arsy juga sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VIP.
Ayah Teddy dan Papah Arsy yang menunggui kedua cucunya yang telah tiada. Bunda Arsy dan Mama Teddy juga ikut menemani Teddy di ruang rawat inap itu.