
Apa yang di lakukan Teddy kepada Arsy pun menjadi sorotan oleh semua murid yang melihatnya. Terutama Bismo yang merasa cemburu dan masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Arsy usdah menjadi milik orang lain.
Arsy meletakkan kepalanya di pundak Teddy. Jujur, Arsy malu di gendong oleh gurunya sendiri dan lebih parahnya banyak pasang mata menatap ke arahanya ada ynag bersorak senang dan ada juga yang mengumpat tak senang.
"Mas ... Turunin Arsy. Malu di lihatin," ucap Arsy lirih.
Teddy tetap diam dan tetap menggendong Arsy naik ke atas kapal dan mencari tempat duduk yang nyamna untuk memeriksa kaki Arsy yang sakit.
Wulan masih setia berjalan di belakang Teddy dan Arsy mengikuti kemana arah tujuannya.
"Duduk di sini ya?" titah Teddy sambil menurunkan Arsy dan mendudukkannya di salah satu kursi.
Arsy pun menurut. Ia merasa bersalahtelah membohongi Teddy karena kakinya sama sekali tidak sakit.
"Mana yang sakit Sy?" tanya Teddy pelan. Ia membuka alas kaki Arsy dan mulai melihat kaki kirinya yang terlihat baik -baik saja.
Teddy emnatap ke arah Arsy yang menunduk dan tak berani membalas tatapan Teddy.
"Hei ... Di tanya kok diam? Mana yang sakit? Kaki kamu terkilir? Biar Mas pijat," tanya Teddy pelan sambil memegang dagu Arsy sambil mengangkat wajahnya agar tidak menunduk.
"Ma - Maafin Arsy Mas," jawab Arsy lirih.
"Kenapa?' tanya Teddy muli curiga.
"Arsy bohong. Arsy tadi cemburu lihat Mas jalan sama Bu Lina," ucap Arsy jujur.
Sontak mendengar jawaban polos Arsy, Wulan pun tertawa terbahak -bahak tanpa sadar.
Arsy langsung melotot ke arah Wulan.
"Seneng? Kalau temannya susah? terdzolimi?" ucap Arsy kesal.
"Maaf Sy. Bukan gitu. Lucu aja. Sampai keram ini perut di ajak ketawa terus," ungkap Wulan yang masih tertawa lebar.
Teddy menatap ke arah Arsy. Lucu dan menggemaskan sekali wajahnya jika sedang merasa bersalah.
"Udah bisa bohong ya?" ucap Teddy pelan tanpa ada kemarahan sedikit pun.
"Bukan gitu Mas ... Arsy kan cemburu," ucap Arsy lirih.
"Cemburu kenapa, Sy? Mas kan gak ngapa -ngapain. Biarin saja, orang mau deketin Mas. Kan, yang terpenting Mas gak merespon mereka sama sekali. Kalau mereka bertanya ya, Mas jawab. Itu hal yang wajar dan lumrah kan?" tanya Teddy pelan kepada Arsy.
__ADS_1
"Tapi ... Arsy ngerasa kayak gak rela gitu. Makanya Arsy maunya deket sama Mas, samapi jaket ini Arsy minta tuh, karena Arsy merasa tenang cium bau Mas Teddy," ucap Arsy pelan.
Teddy menatap Arsy penuh tanya. BArusan saja penjelasan Arsy mengarah hal -hal yang berabu keanehan seperti sedang mengidam.
"Kamu ngidam, Sy?" tanya Teddy lirih setengah berbisik.
Arsy hanay menggeleng kepalanya pelan. Ia tidaj tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Hamil atau tidak pun, Arsy tidak tahu karena memang belum cek menggunakan alat tes kehamilan.
"Gak tahu Mas. Tapi ini yang Arsy rasakan," ucap Arsy lirih.
"Nanti test ya. Biar tahu, kamu kayak gini itu sedang ngidam atau tidak. Kalau memang kamu ngidam, ya kamu harus banyak berhati -hati dan juga banyak belajar," titah Teddy pelan.
"Tapi Arsy takut Mas," ucap Arsy pelan.
"Takut apa? Ada Mas. Mas akan selalu ada buat kamu, Sy," ucap Teddy berjanji.
Penyeberangan menggunakan kapa laut menuju Pulau Dewata Bali pun berjalan dengan lancar. Tidak sampai satu jam, rombongan satu angkatan itu telah samapi di tujuan.
Tujuan pertama saat sudah sampai di Pulau Bali adalah hotel. Pagi -pagi sekali mereka sudah sampai di hotel yang akan mereka tinggali selama beberapa hari di Bali. Semua anak sudah mendapatkan kamarnya masing -masing sesuai dengan kelompoknya.
Satu kamar berisi sekitar empat orang anak. Dengan kamar yang menggunakan dua bed, di mungkinkan akan di pakai dua orang dalam satu bed kecil.
Seperti biasa, Wulan dan Arsy selalu dalam satu kelompok. Dan dua orang lagi, adalah Nona serta Siska, si tukang gosip.
"Ya, kita jangan ngobrolin soal itu. Lebih wajar aja yang kita obrolin tentang hari ini, mau belanja apa nanti atau mau amkan apa nanti," ucap Wulan mencari bahan untuk mengobrol nanti.
"Iya sih," jawab Arsy paham.
Mereka berdua menuju kamar di lantai dua sambil menggeret kopernya. Sejak tadi Arsy tak melihat Teddy. Terakhir ia lihat lelaki itu saat mengantarkan koper milik Arsy dan menghilang begitu saja tanpa terlihat batang hidungnya.
"Arsy ...." panggil Teddy dengan suara lantang.
Arsy dan Wulan menoleh ke arah belakang. Teddy menghampiri Arsy dan memberikan sebuah kunci kamar hotel.
"Kamu ke kamar ini saja. Kamu gak apa -apa kalau Arsy sama saya?" tanya Teddy kepada Wulan.
"Gak apa -apa Pak. Arsy kan memang milik Bapak. Wulan paham kok," ucap Wulan pelan.
"Yah, Lan? Yakin kamu gak apa -apa. Ini buat kamu saja. Buat cemilan dede bayi," ucap Arsy pelan.
"Iya. Makasih ya, Sy. Kalau butuh teman, mampir ke kamar ya?" ucap Wulan pelan.
__ADS_1
Wulan dan Arsy berpisah di lorong hotel. Teddy membawakan koper Arsy dan langsung masuk lift menuju lanatai tiga.
"Kok beda lantainya Mas?" tanya Arsy pelan.
"Kalau lantainya sama. Kita ketemu yang lainnya?" ucap Teddy memberikan alasan.
"Ohgitu," jawab Arsy pelan.
"Kamu lupa sama janji kamu? Bukannya tadi Mas menang main tebak -tebakkan?" tanya Teddy mencoba mengingatkan Arsy.
"Ohh ... Tebak -tebakkan? Terus ini kamar untuk bulan madu?" tanya Arsy pelan.
"Iya dong. Kamarnya juga istimewa," ucap Teddy penuh semangat.
Ting ...
Pintu lift terbuka lebar. Teddy berjalan lebih dulu menuju kamar yang di pesannya. Dua koper besar itu di geret pelan oleh Teddy.
"Kamar tiga kosong lima. Ini di ujung?" tanya Arsy sambil membaca nomor kamar hotel yang berurut dari nomor besar.
"Ya. Katanya pemandangannya lebih bagus banget dari sana," ucap Teddy pelan.
Keduanya sudah sampai di depan kamar tiga kosong lima. Arsy memutar anak kunci dan membuka kamar itu. Kamar yang besar dengan bed yang menghadap ke arah kaca. Memang kamar yang bagus. Tempat tidurnya pun di hias dengan bunga mawar merah yang sangat cantik.
Di balkon juga ada kursi dan meja untuk sarapan. Makanan itu pun sudah siap di sana.
"Wah cantik banget ...." puji Arsy yang tersenyum lebar dan duduk di atas kasur dan meghamburkan bunga mawar ke tubuhnya.
Teddy memasukkan kopernya dan emngunci kembali pintu kamar hotel itu. Ia benar -benar suka dengan kamar pesanannya yang membuat Arsy juga takjub dengan surprise darinya.
"Kamu suka?" tanya Teddy yang duduk di sebelah Arsy.
"Suka banget. Ini cantik banget," ucap Arsy penuh senyum.
"Gak mau lihat apa yang ada di atas kasur itu?" tanya Teddy sambil melirik ke arah nampan yang ada lilinnya.
"Apa itu?" tanya Arsy pelan.
Ia mengambil nampan itu dan menatap kotak beludru merah yang berada di dekat lilin.
"Buka dong," titah Teddy pelan.
__ADS_1
"Apa sih? Kok jadi deg -degan," jawab Arsy pelan.
Arsy menagmbil kotak beludru itu dan membuka kotak itu dnegan senyum lebar.