
Setelah sarapan pagi. Semua rombongan masuk ke dalam bis. Karena ini hari terakhir berada di Bali. Acaranya hanya berbelanja.
Pertama, akan ke tempat pusat oleh -oleh di Bali, termasuk makanan khas Bali dan beberapa kerajinan khas Bali.
Kedua, rombongan itu akan berkunjung ke Pasar Sukowati.
Teddy sudah memasukkan tiga koper besar ke dalam bagasi Bis. Satu tas kecil tetap ikut di bawa ke dalam Bis. Sekarang Teddy lebih harus prepare banyak cemilan agar Arsy dan bayinya tidak kelaparan.
Semua sudah berada di dalam Bis, begitu pun dengan Bu Lina yang sudah duduk manis berdampingan dengan Wulan.
Arsy menatap Wulan dan tersenyum, lalu menatap ke arah Bu Lina dan menghampiri guru wanita itu.
"Makasih jajanannya Bu. Enak -enak lho. Terus kalau lagi main ke kamar lawan jenis jangan pegang -pegang, nanti hamil," goda Arsy dengan ucapa yang cukup nyelekit.
Bu Lina melotot ke arah Arsy . Kedua tangannya terkepal. Skandal pejebakkannya bisa di ketahui oleh Arsy.
"Arsy duduk. Bis sudah akan berangkat, nanti kamu jatuh," ucap Teddy pelan.
Arsy pun mundur dan duduk di tempatnya. Hatinya bahagia bisa bicara langsung pada Bu Lina kalau ia tahu semuanya, agar Bu Lina itu malu.
"Tak seharusnya kamu bersikap seperti itu Sy. Beliau itu tetap guru kamu, orang yang lebih tua, jadi kamu harus menghargainya. Bukan malah menyakiti beliau dnegan kata -kata seperti itu," ucap Teddy menasehati.
Arsy tersenyum kecut. Ia paling tidak suka di nasehati dengan cara seperti itu.
"Jadi Mas belain Bu Lina?" tanya Arsy menahan emosinya.
Bis itu sudah berangkat dari hotel menuju tempat oleh -oleh. Sikap Teddy seolah membela Bu Lina yang memang rekan kerja sebagai gru. Kalau ini bukan masalah membela tapi kapasita murid dnegan gurunya. Tidak di campur adukkan dnegan maslah pribadi.
"Bukan belain Sy. Tapi lebih ke sopan santun kita bersikap Sy. Mas marah tadi juga dengan sikap tidak terpuji Bu Lina. Tapi kembali lagi, nurani kita tetap di pakai. Bagaimana kita berskap agar dia jera tanpa harsu di permalukan, dia tahu akan kesalahannya tanpa harus di sakiti atau di teriaki, Paham kan maksud Mas?" tanya Teddy pelan.
__ADS_1
Arsy hanya diam. Dia memang sengaja tak mau menjawab. Bagi Arsy tetap saja, Teddy lebih membela Bu Lina di bandingkan dia yang memang istrinya.
"Sudahlah. Arsy gak mau bahas itu." jawab Arsy ketus menutup pembahasan itu.
Pulau Dewata Bali adalah salah satu tempat wisata yang menjadi kebanggaan semua orang. Belum afdol rasanya, jika berkeliling Indonesia tidak mampir ke Pualu Bali. Bukan hanya tempat wisatanya saja yang indah dan memukau. Tapi, tempat ini memang salah satu alternatif tempat yang paling di rekomendasikan untuk berwisata.
Pilihan wisatnya banyak. Pilihan kulinernya pun banyak dan masih banyak tempat lain yang tersembunyi keindahannya yang tidak banyak di ketahui oleh orang banyak.
Arsy mengajak Wulan berbelanja di pusat oleh -oleh. Mereka membawa dua keranjang belanjaan dan kalap memasukkan hampir semua varian makanan yang mereka pikir itu enak dan patut di coba.
Teddy masuk dalam rombonga bersama guru -guru pendampig yang lain. Kepala sekolah memanggil Teddy untuk menemaninya ke pusat oleh -oleh terbesar di Bali. Sepertinya kepala sekolah mau memborong banyak makanan dn beberapa kerajinan ciri khas Bali sebagai oleh -oleh untuk keluarganya, saudaranya, tetangganya dan beberapa guru -guru yang tidak ikut berwisata pada tahun ini.
Arsy masih memilah dan memilih beberapa makanan yang cukup aneh, seperti pie susu, kacang bali, kacang dico dan cokelat.
"Arsy ... Banyak banget ambil cokelatnya?" tanya Wulan menggelengkan kepalanya denagn takjub.
Harga cokelat itu tidak murah bahkan bisa di bilang sangat mahal dengan merek cokelat yang paling terkenal di Bali. Hampir semua rasa di ambil oleh Arsy, dark cokelat, matcha, double choc, white choc, almod, dan lain sebagainya. Semuany aberbentuk batangan dengan wadah yang menarik.
"Arsy lagi penegn," jawab Arsy santai.
"Tapi itu mahal banget. Memang kamu gak ingin berkelilin dulu lihat lainnya, baju, atau kain bali, atau dompet receh yang unik gitu," tanya Wulan pelan.
Arsy hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kalau bisa belanja cokelatnya di tambahin satu keranjang lagi. Kapan lagi bisa borong cokelat di Bali.
Arsy mengambil satu keranjamg lagu dan dnegankalap memasukkan beberapa cokelat kesukaannya yang masih tersedia.
Wulan hanya menghembuskan napasnya dengn kasr. Rasanya tak sanggup menemani Arsy ke kasir dan melihat total yaang harus di bayar dengan jumlah yang fantastis.
Bayangkan saja, satu kotak cokelat berkisar ratusan ribu tergntung rasa dan besar kecilnya. Jadi bisa di hitung dengan tepat. Jika Arsy mengambil lima puluh box cokelat berarti jumlah yang harus di bayar sekitar ... puluhan juta.
__ADS_1
"Sudah Sy. Kasihan Pak Teddy harus bayar se -mahal ini," ucap Wulan yang menyetop tangan Arsy untuk tidak mengambil cokelat terus menerus.
"Asal Arsy bahagia, tidak ada yang harus di risaukan. Apa artinya uanga puluhan jut adengan kebahagiaan ARsy," ucap Teddy yang sudah berada di belakang kedua murid ber -prestasi itu. Mereka sama -sama murid ber -prestasi tapi mereka sama -sama mengandung di saat menjelang ujian akhir nasional.
"Uluh ... so sweet banget sih. Hemm ... Andaikan aku punya seseorang yang beginni. Aku jaga beneran nih Sy," ucap Wulan yang sedikit iri kepada Arsy yang begitu beruntung.
"Wulan ... Apaan sih. Kita teman bahkan kita sahabat. Keranjangmu biar sekalian di bayar sama Mas Teddy. Boleh kan Mas?" tanya Arsy sambil mengedipkan satu matanya kepada Teddy.
Teddy langsung paham maksud Arsy.
"Iya Lan. Kamu mau ambil apalagi? Sekalin di bawa ke kasir. Sy ... Ini kartunya buat bayar. Mas mau ke sana dulu, tadi Mas di tegur sama kepala sekolah, karena kedekatan kita. Mas mau bilang baik -baik sama kepala sekolah kalau memang kita sudah menikah," ucap Teddy pelan. Ia mengacak rambut Arsy plan.
Beberapa teman Arsy melihat hal itu dan berdehem denagn keas hingga Arsy melotot ke arah mereka.
"Sirik aja. Murid kesayangan nih," ucp Arsy kesal.
"Ssst ... Gak boleh gitu. Biarkan saja." jawab Teddy pelan.
"Pak Teddy, bener mau bayar belajaan saya?" tanya Wulan yang merasa tak enak.
"Gak apa -apa. Biar sekalian sama Arsy. Kalian heppi belanja aja. Uangnya cukup kok," ucap Teddy meyakinkan mereka.
"makasih ya Pak," ucap Wulan pelan
"Iya Lan, sama -sama. Arsy, kamu jangan kecapekan. Ingat, kamu gak sendirian sekarang. Kamu juga Lan, jaga kondisi kalian. Kalau lelah kalian berdua harsu istirahat," titah Teddy pelan.
"Arsy? Kamu hamil juga? Sudah test?" tanya Wulan dnegan girang dan suara keras.
"Apa? Saiap yang hamil?" tanya Bu Lina yang tiba -tiba saja datang dengan keranjang yang penuh dnegan pakaian kebaya bali.
__ADS_1
Semuanya menoleh ke arah suara lantang Bu Lina. Terekjut dnegan pertanyaan Bu Lina yang membuat Arsy dan Wulan panas dingin.