Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
ARSY BINGUNG


__ADS_3

Satu mata Teddy terbuka dan melirik ke arah empat duduk Arsy tadi. Istri labilnya sudah tidak ada di sana lalu kedua matanya membuka lebar menagrah ke luar kamar.


Ini semua harus Teddy lakukan demi kebaikan Arsy. Agar Arsy tidak teledor lagi dan mengerti betapa pentingnya sebuah cincin pernikahan.


Arsy sudah meneguk air minum dari gelas kaca dan duduk di meja makan. Sesekali ia memijat keningnya sambil mengingat kembali di mana ia letakkan cincin itu. Cincin yang sangat berarti.


Pagi ini, semua terasa hambar dan kaku. Tedddy sengaja mendiamkan Arsy yang masih tertidur pulas di sofa panjang. Ia malah membuat sarapan pagi untuk istrinya dan membuatkan satu gelas susu hamil. Teddy menatap Arsy sambil tersenyum puas.


"Maafkan Mas ya, Sayang. Biar kamu tahu, bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang nampak gak berarti tapi itu sesuatu yang berharga dalam hidup kamu," ucap Teddy lirih. Ia merapikan pring dan gelas untuk Arsy.


Sarapan kali ini, Teddy hanya membuat nasi goreng dengan telor ceplok di atasnya.


Aroma wangi itu sudah tercium di indera penciuman Arsy.

__ADS_1


Wanginya begeitu semerbak dan membuat perutnya semakin terasa perih dan keroncongan. Arsy pun membuka kedua matanya dan menghirup aroma enak dari masakan yang di buat Teddy.


Tubuhnya seperti terhipnotis untuk bangkit dari tidurnya dan berjalna menuju meja makan. Asap dari piring masih mengepul terlihat dari kejauhan.


'Duh ... Mana lapar. Tapi, Arsy lagi punya salah. Gak mungkin kan, kalau tiba- tiba makan tanpa bantu masak,' batin Arsy di dlam hati.


Ia memutar otakknya agar bisa sarapan pagi dengan tenang dan gratis tanpa harus beradu argument dengan Teddy. Apalagi harus membahas tentan cincin itu.


Arsy langsung memeluk Teddy dari belakang dengan mesra. Tangannya erat melingkar di perut Teddy. Rasanya ingin tertawa di balik punggung Teddy, karena ini semua demi sarapan pagi yang wangi dan membuat perutnya keroncongan.


"Mas ... Anak kita mau makan katanya. Ini udah nendang -nendang," ucap Arsy polos.


"Hah nendang -nendang? Emang perutnya sudah besar. Bayi bisa nendang -nendang tuh, kalau usia kandungan kamu sudah lebih dari enam bulan, kamu baru bisa merasakan. Lha, kamu baru juga mau dua bulan, masa iya sudah bisa nendang -nendang," ucap Teddy lebih realistis.

__ADS_1


Wajah Arsy yang menempel pada punggung Teddy pun ikut tersenyum mendengar celetukan jawaban Teddy.


"Ekhemmm gitu ya. Udah gak marah dong sama Arsy," tanya Arsy pelan dengan nada bicara bercanda.


"Masih," jawab Teddy ketus. Teddy masih mengaduk -aduk nasi goreng pedas untuk dirinya. Pagi ini tiba -tiba ia ingin sekali makan nasi goreng super pedas tanpa telur, namun di campur pete yang di potong dadu.


Pelukan Arsy makin erat. Ia belum menemukan cincinnya.


"Ya udah Arsy mau mandi," ucap Arsy lirih. Perlahan pelukan itu di kendurkan dan di lepaskan dari perut Teddy. Teddy yang sudah rapi dengan aroma wangi khas bayi. Karena memang Teddy sedang suka aroma bayi. Ia menyemprotkan minyak wangi bayi ke tubuhnya.


Teddy berusaha tenang dan membiarkan Arsy melakukan apapun sesuai keinginannya. Kali ini Teddy tidak ingin memanjakan Arsy untuk sementara waktu. Biarkan istri labilnya itu belajar lebih mandiri.


Langkah Arsy pelan menuju kamar untuk segera mandi dan memakai seragam putih abunya. Ia merasa Teddy sudah tak lagi perhatian padanya.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi Arsy terus saja menangis sesegukan. Menahan teriakan kecil dari tangisannya. Dadanya terasa sesak. Tidak enak di diamkan, di abaikan, dan tak lagi di perhatikan seperti hari -hari biasanya.


__ADS_2