
Tepat jam tujuh malam, acara perpisahan bertemakan Akhir Masa Bakti Putih Abu segera di mulai.
Pembawa acara dan beberapa panitia yang bertugas untuk mensukseskan acara tersebut juga sudah bersiap. Semua tamu undangan juga sudah masuk ke dalam dan duduk di tempat yang sidah di sediakan.
Semua mata memandang ke arah panggung yang di dekorasi sedemikian indahnya. Semua orang merasa kembali lagi di usianya yang belia saat masih memakai seragam putih abu.
Tontonan dan pertunjukkan yang begitu memukau membuat semua penonton terbawa suasana dan hanyut dengan perasaannya.
Masing -masing kelas sudah memberikan performa yang baik untuk di tampilkan di panggung hingga beberapa siswa dan penonton ikut menitukkan air mata.
Sekarang tepat jam sembilan malam. Ekstrakurukuler Theater akan menampilkan drama dongeng putri salju. Bukan tentang ceritanya atau alurnya. Tapi tentang dongeng itu sendiri. Kita sebagai anak penyuka dongeng tentu memiliki impian. Dongeng hanyalah cerita khayalan yang sudah tentunya endingnya bahagia. Hal positif yang bisa di ambil adalah jangan takut bermimpi, jangan takut berkhayal yang indah tapi berusahalah agar semua impian itu bisa di gapai dengan mudah.
__ADS_1
Arsy sudah masuk ke panggung dengan gaun cantik dan mahkota di kepalanya. Rambut panjangnya di biarkan tergerai sangat indah di punggung. Senyumnya begitu manis dan penuh ketulusan hingga membuat gadis itu terlihat semakin mempesona.
Cerita putri salju itu terus bergulir hingga saatnya putri salju tinggal bersama ketujuh kurcaci.
Silih berganti pemain yang di jadikan orang jahat suruhan ibu tiri putri salju untuk membunuh putri salju yang cantik dan tercantik di seluruh negeri.
Hingga, semua rencana itu gagal. Ibu tiri jahat turun tangan untuk membunuh putri salju dengan kedua tangannya sendiri dan beliau ingin melihat anak tirinya itu benar -benar sekarat dan mati perlahan tepat di depan matanya sendiri.
Setelah memakan dan mengunyah lalu menelan potongan buah apel itu tak berselang lama, putri salju pun jatuh ke tanah tergolek lemah, sekarat dan akhirnya meninggal.
Banyak orang termasuk para kurcaci yang begitu kehilangan sosok putri salju hingga mereka menguburkan putri cantik itu di dalam peti kaca. Mereka berharap putri itu hanya tertidur dan bisa bangun lagi. Sampai suatu hari, ada seorang pangeran yang sedang berjalan -jalan dengan kudanya dan melihat kesedihan tujuh kurcaci menangisi peti kaca itu.
__ADS_1
"Ada apa kalian menangis di depan peti kaca itu?" teriak pangeran itu dari jarak jauh.
Deg ...
Arsy yang tertidur di dalam peti kaca pun ingin sekali membuka kedua matanya dan melihat siapa gerangan lelaki yang menkadi pangeran. Suara itu bukan milik Tono ataupun milik pelatih drama yang katanya akan menggantikan memerankan peranan Tono sebagai pangeran. Suara itu ... Jelas ... ini tidak mungkin salah lagi. Suara ini milik Teddy, suaminya. Tapi mana mungkin? Kapan dia datang? Kenapa tak pulang ke rumah menemui Arsy? Atau ini hanya ilusi saja karena rasa rindu yang jelas sudah tak terbendung lagi.
Para kurcaci itu juga nampak terkejut dengan kedatangan pangeran. Kedua mata mereka nampak mengerjap tak percaya. Seolah pemberitaan yang selama ini mereka dapatkan itu bohong. Apa ini hantunya?
"Hei? Kenapa kalian diam? Aku bertanya pada kalian sekali lagi. Siapa yang kau tangisi?" tanya Pangeran itu dengan improvisasi yang bauk sekali.
Tak hanya para pemain saja. Bebèrapa penonton dan siswa siswi pun tercwngan melihat kedatangannya.
__ADS_1