Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.36


__ADS_3

Bunda Arsy menatap Arsy denagn sendu. Harus di rayu dengan cara apa lagi. Arsy benar -benar tidak bisa di nasihati. Arsy selalu duduk dan berbaring sambil menangis. Kedua matanay sellau basah dan merah. Belum lagi bengkak di sekitar bagian bawah mata. Arsy sering begadang hanya untuk menangisi kedua bayi kembarnya itu.


Hari ini seharusnya, Arsy sudah boleh pulang ke rumah karena jahitan di perutnya sudah mulai mengering. Seminggu lagi Arsy harus kembali untuk kontrol jahitan dan di beri obat untuk memulihkan bekas jahitan bekas operasi caesarnya.


Tapi sangat di sayangkan, tubuh Arsy begitu lemah dan lemas karena kurangnya asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh Arsy. Tidak hanya itu saja, karena tidak makan, Arsy pun melewatkan beberapa obat antibiotik yang seharusnya di minum atau di suntikkan melalui infusan.


"Arsy ... Gimana mau pulang kalau kondisi kamu seperti ini?" tanya dokter yang memeriksanya.


Dokter itu sangat iba melihat kondisi Arsy yang masih muda dan harus mengalami trauma karena kecelakaan yang terjadi tidak di sengaja dan Arsy harus kehilangan dua bayi kembarnya.


Arsy menatap dokter itu dengan tatapan begitu lemah.

__ADS_1


"Arsy mau pulang saja, dok. Arsy bosan dan jenuh disini," ucap Arsy lirih sekali.


"Boleh pulang tapi makan dulu. Makanan ini harus habis lalu minum obat. Setelah itu beri tahu saya, dan saya akan berikan surat keterangan pulang. Deal? Kalau kamu gak mau makan, mau sampai kapan pun, saya tidak akan berikan surat keterangan pulang untuk kamu," ucap dokter itu mengultimatum Arsy.


Arsy mengangguk pasrah dan bangkit dari tidurnya untuk menuruti kata -kata dokter yang baru saja memeriksanya.


Obat yang harus di minum oleg Arsy juga sudah ada di nakas. Obat antibiotik yang harus masuk melalui infusan juga sudah di suntikkan melalui selang.


"Bunda suapin?" tanya Bunda yang merasa kasihan pada Arsy yang terlihat sangat lemah tak berdaya. Untuk memegang sendok saja, ARsy terlihat tak bertenaga.


Bunda Arsy duduk di tepi ranjang dan menatap Arsy lekat.

__ADS_1


"Arsy ...," panggil Bundanya denagn suara lembut sekali.


"Bunda jangan disini. Arsy mau makan sendiri. Jangan buat nafsu makan Arsy hilang lagi," ucap Arsy ketus.


Bunda Arsy hanya mengangguk dan keluar dari kamar rawat inap dan duduk di depan kamar. Rasanya Bunda Arsy ikut berdosa dalam situasi ini. Bunda Arsy tahu, kekecawan yang bagaimana yang sedang di rasakan oleh Arsy. Arsy sedang berjuang untuk melewati situasi yang sungguh menyakitkan ini.


Bunda Arsy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu mngusap perlahan. Rasanya dua hari terbuang sia -sia kalau keadaannya malah makin memburuk.


"Bunda? Bunda kenapa di depan? Arsy dimana?" tanay Teddy yang datang dengaan raut wajah cemas.


"Nak Teddy. ARsy ada di dalam. Baru makan. Dia mau makan sendiri," ucap Bunda Arsy lembut tanpa ingin menjatuhkan harga diirRAsy di depan suaminy. Suara tinggi dan ketus ARsy tadi karena tekanan batin Arsy yang tak bisa lagi di bendung.

__ADS_1


"Arsy mau makan, Bunda?" tanya Teddy langsung berdiri dan melihat Arsy yang duduk bersandar sambil makan dan melihat ponselnya.


Ya, Teddy memebrikan foto -foto bayi kembarnya yang sudah tidak bernapas itu kepada Arsy. Maksud Teddy agar Arsy bisa melihat wajah kedua bayi kembarnya. Tapi, Teddy salah, justru gambar dan viedo pemakaman yang ia simpan di ponsel ARsy malah membuat Arsy semakin terpuruk dan selalu menangis.


__ADS_2