
"Itu Bunda. Hapus air mata kamu. Jangan sampai, Bunda lihat kamu menangis," titah Teddy menasehati.
Arsy mengangguk pasrah. Dirinya benar -benar kaget sekali. Pernikahan ini memang sudah di rencanakan. Perjodohan ini memang di senagja, agar Arsy ad yang menjaga selama Papa dan Bunda di London.
Teddy bangkit berdiri dan membukakan pintu kamar agar Bunda Bell abisa masuk ke dalam.
Senyum Bunda Bella terbit tatkala Teddy telah membuka pintu. Bunda Bella sudah cantik dan rapi.
"Arsy sudah bangun?" tanya Bunda Bella lembut.
"Sudah Bunda." jawab Teddy pelan.
"Bunda masuk ya." pinta Bunda Bella. Teddy pun menganggukkan kepalanya pelan tanda mengiyakan.
Bunda Bella pun masuk. Ia menatap anak gadisnya yang sedang duduk di teppi ranjangnya sambil melipat selimut tebal yang di pakainya tidur.
"Arsy?" panggil Bunda Bella pelan. Langkahnya tetap berjalan menghampiri anak semata wayangnya yang kini telah menikah.
"Ya Bunda." jawab Arsy pelan. Sesak rasanya menahan dadanya yang bergemuruh sejak tadi. Ingin rasanya Arsy berteriak dan emmanggil Bundanya lalu memeluk erat untuk mengehentikan keberangkatan Bunda Bella dan Papa. Atau lebih baik Arsy ikut bersama mereka ke sana dan melanjutkan sekolah di sana.
"Bunda mau peluk Arsy, boleh?" tanya Bunda Bella yang juga tak bisa menahan air matanya yang sejak tadi telah mengumpul di pelupuk matanya.
"Bunda ... Tentu boleh," jawab Arsy sendu langsung memeluk tubuh Bunda Bella.
"Bunda mau ke London pagi ini. Ada pekerjaan mendadak Papa yang mengharuskan pagi ini juga berangkat. Arsy baik -baik sama Nak Teddy. Nurut sma suami. Belajar meneram semuanya dnegan baik dan ikhlas. Bunda gak bisa nemenin Arsy kaena Bunda haus menemani Papa kerja di sana," ucap Bunda Bella menasehati. Pelukan keduanya semakin erat. Arsy semakin sulit elepaskan, namun ia juga tidak ingin Papanya sakit terus. Kedua mata Arsy menatap ke arah Teddy yang ada di beakang. Teddy memberikan kode dengan mengangguk dan itu tandanya Arsy harus bisa melepaskan kepergian Bunda Bella dan Papahnya dengan ikhlas.
"Arsy boleh antar Bunda ke bandara?" tanya Arsy pelan di telinga Bunda Bella.
__ADS_1
Bunda Bella mengendurkan pelukannya dan tersenyum ramah kepada Arsy.
"Bukan Bunda menolak. Bunda hanya tidak ingin kamu bersedih jika harus mengantar Bunda dan Papah ke Bandara." jawab Bunda Bella dengan bijak.
"Arsy janji tidak akan menangis. Arsy pengen mengantar Bunda dan Papah. Pak Teddy gak keberatan kan?" tanya Arsy lembut menatap Teddy.
"Ya. Gak kebertaan. Kami bisa mengantar Bunda dan Papa. Arsy akan baik -baik saja," ucap Teddy dengan pelan. Ia akan senang jika melihat Arsy juga bahagia. Setidaknya ia bisa mengantarkan Bunda dan Papahnya agar bisa melepaskan dengan lebih ikhlas lagi.
"Oke. Boleh antar ke Bnadara. Sekarang siap -siap karena penerbangan Bunda jam delapan pagi. jangan telat. Kita sarapan bareng di bawh. Papah juga ada di bawah," ucap Bunda Bella pelan.
Arsy tersenyum lebar. Ia menganggukkan kepalanya dengan semangat. Setelah Bunda Bella pergi dari kamarnya. Arsy pun langsung mandi dan bersiap untuk mengantarkan kedua orang tuanya.
Ia mengambil rok pendek rempel dengan kemeja pendek yang tipis. Rambutnya di biarkan tergerai indah dengan bandana pita berwarna pink. Wajahnya pun hanya di poles dengan pelembab dan di beri bedak tabur tipis dengan liptint berwarna pink.
"Sudah cantik." ucap Teddy pelan sambil memakai kaos berkerah berwarna biru dongker. Kulitnya yang putih terlihat sangat bersih dan membuat lelaki itu semakin terlihat tampan.
"Saya ganteng ya? Lihatnya sampai kayak gitu," goda Teddy sambil tersenyum simpul.
"Cih ... Percaya diri banget," jawab Arsy ketus. Dengan cepat Arsy pun mengambil tas selempang kecilnya lalu di selempangkan di bahunya dan memasukkan ponsel dan dompetnya. Teddy hanya mengulum senyum saat Arsy yang masih saja gengsi untuk mengungkapkan itu semua.
Arsy segera keluar dari kamatr tidurnya dan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana memang sudah ada Papah dan Bunda Bella sedang sarapan berdua.
"Pagi Bunda, Papah," sapa Arsy dengan sikap ceria seperti biasa. Arsy langsung memeluk Papahnya dari arah belakang.
"Arsy ... Kok manja gini? Kamu itu sudah punya suami. Jangan begini, kalau mau manja -manja sama suami kamu," titah Papah menasihati putri semata wayangnya itu.
Arsy melepaskan pelukannya dari tubuh sang Papa. Tak lupa Arsy mengecup pipi Sang Papah. Tak lama Teddy pun turun dari atas.
__ADS_1
"Papah, Bunda," sapa Teddy sopan. Ia pun duduk di salah satu kursi. Arsy pun duduk di kursi tepat di sebelah Teddy.
"Pagi, Nak Teddy. Ayo sarapan. Nanti di mobil kita obrolkan masalah pekerjaan di kantor," titah Papah Arsy tegas.
Teddy pun menganggukkan kepalanya. pelan. Ia pun mengambil selembar roti dan mengambil selai kacang untuk di olesi di atasnya. Arsy juga mengambil roti gndum dan langsung dimakan begitu saja tanpa di beri selai.
"Mbok Yum, Susu Arsy mana?" tanya ARsy dengan suara keras.
Ia masih mengunyah makanannya dan mengabaikan statusnya saatini.
"Arsy!" Kamu ini sudah menjadi istri. Gak sepantasnya berteriak begitu pada Mbok Yum. Ada juga kamu buat sendiri di dapur, dan kamu wajib buatkan kopi untuk Nak Teddy, suamimu. Ngerti. Mulai sekarang gak ada minta tolong Mbok Yum," titah Bunda Bella menasehati.
Arsy menghentikna makan rotinya. Ia bakal tetap di ceramahi jika membangkang terus. Ia pun berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Mbok ... Bikin kopi buat Pak Teddy dan susu putih buat Arsy," ucap Arsy pelan. Ia menunggu Mbok Yum yang sedang memasak air panas di dalam ketel.
"Non Arsy gak mau coba buat sendiri kopi hitamnya. Biasanya kalau kopi buatan istri tuh lebih nikmat. Selain itu, kopi buatan istri itu akan selalu membuat candu suamimu, makin membuat suami betah di rumah," ucap Mbok Yum pelan.
Mbok Yum tahu Arsy belum bisa beradaptasi langsung dengan perubahan statusnya yang secara tiba -tiba. Ia arus banyak belajar, dan bertanya pada orang -orang di sekitarnya.
"Mau coba gak? Biar Mbok Yum bantu cara buatnya, biar Non Arsy bisa meracik sendiri," ucap Mbok Yum mejelaskan.
"Gak ah. Mbok Yum aja yang buat. Arsy ga mau," jawabnya ketus.
Arsy tetaplah Arsy. Kalau sudah pada keputusannya akan sulit di ganggu gugat.
"Ya sudah. Sebentar biar Mbok Yum buatkan," jawab Mbok Yum yang mengalah.
__ADS_1