
Teddy sudah masuk ke dalam menemui penyidik yang mem- BAP Emil semalaman.
"Gimana Pak? Ada perkembangan?" tanya Teddy denagn wajah serius.
"Dia mengakuinya tapi entah apa alasan sesungguhnya. Ia hanya bilang ini soal dendam. Arsy kemana? Mungkin bisa menguatkan laporan ini?" tanay penyidik itu.
Teddy mengusap dagunya sendiri pelan. Ia juga bingung bagaimana harus bicara pada penyidik ini.
"Arsy ada di kantin. Kemarin saat di tanya soal ini, ia hanya bilang biarkan saja. Tapi, ada perasaan tidak rela. Saya ingin Arsy tetap di BAP, dan di pertemukan denagn Emil. Jika memang Arsy memaafkan ya sudah. Biarkan Emil melanjutkan hidupnya dengan menggapai mimpi dan cita -citanya. Paling tidak ada sedikit pembelajaran untuk dia dan sebagian mahasiswi lainnya yang terkena kasus ini. Selain itu saya juga, mau bicara dengan Pak Dirga, Papah Emil untuk memindahkan Emil dari kota ini sementara. Mungkin denagn suasana baru dan teman -teman yang baru juga, ia memiliki cara pandang yang berbeda lagi untuk menjalani hidupnya," ucap Teddy dengan lantang menjelaskan.
"Boleh juga. Tapi kalau mau dimasukkan sel juga bisa. Semua bukti sudah lengkap juga. Klaau disini jadi tahanan polres sambil menunggu sidang kasus itu berjalan. Setelah ketuk palu, baru hukuman yang di terima berapa dan sudah menjalani hukuman berapa lalu di potong denagn masa hukuman yang telah di jalani,"ucap penyidik itu menjelaskan alurnya.
"Baiklah. Saya bisa bertemu denagn Emil?" tanya Teddy denagn nada memohon.
"Bisa. DIa ada di ruang BAP. Mari saya antar," titah penyidik itu.
Di dalam ruang BAP, Emil di temani satu asisten penyidik yang bertugas untuk menjaga tahanan. Kemana pun tahanan itu pergi dan ingin sesuatu harus di bantu dan di temani, walau hanay ingin ke kamar kecil. Tidak boleh di tinggal sendirian karena bisa kabur atau menghilang.
Teddy masuk ke dalam ruangan itu mengikuti penyidik yang kemudian duduk di depan Emil. Emil yang sedang menikmati nasi kotak dengan wajah polos tanpa dosa pun tersenyum saat melihat Teddy masuk ke dalam ruangan itu.
"Pak Teddy?" sapa Emil denagn senyum lebar.
Teddy hanya mengangguk kecil dan etrsenyum kecut. Ciri -ciri orang psikopat itu seperti ini, sudah salah, sudah ketahuan, tapi tetap tenang dan mearasa benar seolah -olah tidak pernah terjadi suatu apapun.
__ADS_1
"Makan Pak. Ini enak banget," tawar Emil pada Teddy.
Teddy hanya melirik ke arah Penyidik itu dan menggelengkan kepalanya.
"Makanlah. Kalau memang enak, habiskan," titah Teddy pada Emil.
Emil mengangguk kecil dan emlanjutkan makan siangnya hingga nasi kotak itu benar -ebnar habis tak bersisa.
Pak Dirga dan Mama Emil tidak datanag hari ini, karena semalaman harus menemani Emil. Mama Emil sedang berusaha memohon pada pihak Kampus untuk mencabut laporannya.
"Lihat ini, mereka kedua bayi kembar Arsy. Lucu dan gemesin ya? Kalau kalian mau lihat mereka, kalian bisa main ke rumah Arsy, nanti Arsy bawa ke rumah mereka. Rumah khusus yang di buat Papahnya untuk mereka," ucap Arsy dengan kedua mata berbinar sambil mengunyah makanannya.
Rossa dan Mega hanya saling bertatap sendu dan ikut prihati dengan keadaan Arsy saat ini. Terlihat kuat, tegar dan ceria, tapi memiliki trauma dan depresi yang tengah melanda hati dan pikirannya.
"Ekhemmm ... Kita nonton yuk? Katanya sih lagi ada film disney keren," ucap Rossa tiba -tiba.
"Boleh juga. Tapi, diijinin gak ya sama Mas Teddy," ucap Arsy kemudian.
"Pasti di ijinin, apalagi kalau perginya sama kita," ucap Rosa tersenyum.
"Tapi gak sama Emil kan? Kamu kan temannay Emil," ucap ARsy tiba -tiba bicara sinis dengan menyipitkan kedua matanya menuduh.
"Arghhh ... Itu dulu. Ada hal yang membuat kita gak cocok untuk melanjutkan pertemanan kita," ucap Rossa tersenyum lebar.
__ADS_1
Rossa sendiri semakin benci pada Emil melihat Arsy yang menjadi korban hingag depresi seeperti ini.
"Sayang ... sudah selesai makannya?" tanya Teddy pelan lalu duduk di samping ARsy.
"Udah Mas. Jadi ke mall kan? Sekalian kita nonton bioskop yuk?" ajak Arsy pada Teddy.
Teddy mengangguk dan mencubit pipi Arsy.
"Boleh sama mereka?" tanya Teddy melirik ke arah Mega dan Rossa.
"Iya. Gak apa -apa kan? Terus makan malam di restaurant jepang," pinta Arsy dengan manja.
"Iya. Tapi kita ke dalam dulu ya, sebentar," pinta Teddy agak was -was juga. Takut kalau Arsy menolak keinginan Teddy.
"Yuk. Kalian mau ikut atau tunggu disini? Tapi mending ikut saja yuk? Takutnya Mas Teddy sibuk nanti yang ada ARsy malah cengok sendiri," ucap Arsy lirih.
"Oke. Kita ikut," ucap Mega dan Rossa serempak.
Akhirnya Arsy, Teddy, Mega dan Rossa masuk ke dalam kantor polisi. Mereka duduk di sofa ruang tunggu, sedangkan ARsy dan Teddy masuk ke dalam. JAntung Arsy berdegub dengan kencang dan cepat sekali.
"Kita mau apa Mas? Mukanya pada serem -serem gini," bsiik Arsy yang mengapit tangan Teddy dengan kuat.
"Mereka polisi juga, sayang. Tapi pakai baju preman, biasanya mereka lagi ada tugas di luar untuk mencari seseorang yang di anggap buronan," ucap Teddy menjelaskan agar Arsy paham dan tidak takut.
__ADS_1
Teddy membuak pintu ruangan dan menggandeng Arsy untuk masuk ke dalama. Betapa terkejutnya Arsy saat melihat Emil ada di dalam dan menoleh ke arahnya. Tatapannya berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
Arsy hanya menunduk dan diam di samping Teddy. Tak lama, Emil di bawa pergi dari tempat itu oleh Asisten penyidik ke ruangan lain.